الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Sering Tantrum dan Mudah Marah? Kebiasaan Menonton Video Pendek Bisa Jadi Penyebabnya

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id - Kebiasaan anak menghabiskan waktu menonton video pendek di media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, maupun YouTube Shorts ternyata tidak hanya memengaruhi waktu bermain mereka, tetapi juga berpotensi berdampak pada perkembangan emosi dan kemampuan berpikir.

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan video pendek secara berlebihan dapat mengganggu fungsi eksekutif otak anak, yakni kemampuan yang berperan dalam mengendalikan emosi, menjaga fokus, menunda keinginan sesaat, hingga menyelesaikan tugas.

Temuan tersebut menjadi pengingat bagi para orang tua agar lebih bijak dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak, terutama di usia sekolah dasar ketika perkembangan otak masih berlangsung sangat pesat.

Penelitian Ungkap Dampak Video Pendek terhadap Emosi Anak

Sebuah penelitian yang melibatkan 1.052 siswa sekolah dasar di China pada 2024 menemukan bahwa anak yang terlalu sering mengonsumsi video pendek cenderung lebih sulit mengontrol emosinya. Mereka lebih mudah gelisah, impulsif, kehilangan konsentrasi, hingga lebih sering menunjukkan perilaku marah atau tantrum.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Human Neuroscience pada 2024 juga menunjukkan adanya hubungan antara tingginya intensitas menonton video pendek dengan menurunnya kemampuan fungsi eksekutif pada anak.

Fungsi eksekutif sendiri merupakan kemampuan otak yang berpusat di area lobus frontal. Kemampuan ini membantu anak mengendalikan diri, mengatur perhatian, membuat keputusan, serta memahami konsekuensi dari setiap tindakan.

Mengapa Video Pendek Berpengaruh?

Para peneliti menjelaskan bahwa otak manusia pada dasarnya bekerja dengan menyusun potongan-potongan informasi menjadi sebuah cerita yang utuh. Namun, video pendek yang memiliki perpindahan adegan sangat cepat, visual mencolok, serta cerita yang sering kali tidak beraturan membuat otak anak kesulitan memproses informasi secara optimal.

Akibatnya, anak menjadi terbiasa menerima rangsangan instan tanpa sempat memahami alur cerita secara mendalam.

Sejumlah penelitian sebelumnya bahkan menemukan bahwa tayangan kartun dengan tempo sangat cepat, seperti SpongeBob SquarePants, dapat menurunkan kemampuan konsentrasi anak hanya dalam waktu sembilan menit setelah menonton.

Para ahli menyebut sedikitnya ada tiga karakteristik video pendek yang berpotensi mengganggu perkembangan fungsi eksekutif, yaitu transisi visual yang terlalu cepat, pergantian adegan yang berlangsung terus-menerus, serta alur cerita yang absurd dan sulit dipahami.

Peran Orang Tua Sangat Dibutuhkan

Melihat temuan tersebut, para ahli menilai orang tua memiliki peran penting dalam mengatur kebiasaan penggunaan gawai di rumah.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain membatasi durasi screen time, menghindari kebiasaan menonton video pendek sebelum belajar atau tidur, memilih tayangan edukatif dengan alur cerita yang lebih tenang, serta mengajak anak bermain permainan yang melatih konsentrasi dan kemampuan berpikir, seperti board game atau bermain peran.

Selain itu, anak juga perlu dibiasakan menghadapi rasa bosan tanpa selalu bergantung pada layar gawai. Jika anak menunjukkan gejala tantrum yang berkepanjangan atau mengalami gangguan emosi akibat penggunaan layar, orang tua disarankan berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater.

Para ahli menilai kemampuan fungsi eksekutif yang berkembang dengan baik akan membantu anak lebih sabar, mampu mengelola emosi, berkonsentrasi saat belajar, dan lebih siap menghadapi tantangan di era digital. (Sahil untuk Indonesia)

 

Sumber: The Conversation Indonesia, mengutip penelitian dalam Frontiers in Human Neuroscience (2024), penelitian terhadap 1.052 siswa sekolah dasar di China (2024), serta teori Scene Perception and Event Comprehension Theory (SPECT).