الأحد، 08 شباط/فبراير 2026

Menkes Sebut 28 Juta Warga Indonesia Berpotensi Alami Gangguan Jiwa

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Jakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa sedikitnya 28 juta penduduk Indonesia berpotensi mengalami gangguan kesehatan jiwa. Perkiraan tersebut merujuk pada rasio global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebut satu dari delapan hingga satu dari sepuluh penduduk di dunia memiliki masalah kejiwaan. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (19/1/26). (19/1/26)

Menurut Budi, gangguan jiwa mencakup berbagai kondisi, mulai dari depresi dan kecemasan hingga gangguan berat seperti skizofrenia dan ADHD. Meski demikian, hasil skrining melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan angka temuan masih relatif rendah dan baru menjadi “puncak gunung es” dari kondisi di masyarakat.

Data Kementerian Kesehatan per 1 Januari 2026 mencatat sekitar 27 juta penduduk telah menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa. Dari jumlah tersebut, gejala depresi dan kecemasan pada kelompok anak usia sekolah dan remaja jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.

Pada kelompok anak dan remaja, sebanyak 4,8 persen atau 363.326 orang terdeteksi mengalami gejala depresi, serta 4,4 persen atau 338.316 orang mengalami kecemasan. Sementara pada kelompok dewasa dan lansia, angka depresi tercatat 0,9 persen atau 174.579 orang, dan kecemasan 0,8 persen atau 153.903 orang.

Hasil tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat layanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Kementerian Kesehatan kini tengah membangun sistem pelayanan kejiwaan di puskesmas, termasuk tata laksana pengobatan dan layanan psikologi bagi masyarakat.

“Kami sedang membangun sistem agar layanan kesehatan jiwa bisa tersedia di puskesmas-puskesmas di seluruh Indonesia,” kata Budi. (Amri-untuk Indonesia)