الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Ustadz Eji Anugrah Ramadhan: Persatuan dan Pendidikan Transformatif Kunci Kemandirian Bangsa

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Peringatan 1 Suro 1448 Hijriah yang digelar di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin, Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Selasa (16/6/2026), berlangsung khidmat dan sarat semangat kebangsaan. Kegiatan yang dihadiri sekitar 8.000 peserta dan tamu undangan dari berbagai daerah serta latar belakang profesi itu mengusung tema “Memperkokoh Persatuan demi Terwujudnya Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global.”

Dalam sambutannya, Ketua Umum Panitia Pelaksana, Ustadz Eji Anugrah Ramadhan, menegaskan bahwa kemajuan, kemandirian, dan kesejahteraan bangsa Indonesia hanya dapat dicapai melalui pendidikan yang transformatif, revolusioner, dan berorientasi pada masa depan.

Menurutnya, tema peringatan 1 Suro tahun ini merupakan kelanjutan dari gagasan besar yang disampaikan Syaykh Al-Zaytun sehari setelah peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, yakni pembangunan 500 Titik Pusat Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi sebagai akselerator kemajuan Indonesia Raya.

Kelanjutan Gagasan Besar Pendidikan Nasional

Ustadz Eji menjelaskan bahwa gagasan tersebut telah dipresentasikan kepada 34 profesor yang hadir di Al-Zaytun dan merupakan puncak dari rangkaian kegiatan ilmiah yang berlangsung selama satu tahun penuh, sejak 1 Juni 2025 hingga 1 Juni 2026.

Dalam periode tersebut, Al-Zaytun secara konsisten menyelenggarakan pelatihan pelaku didik dan simposium mingguan bertema Pendidikan Indonesia Abad ke-21 untuk Menghadapi Tantangan Abad ke-22, dengan menghadirkan sekitar 50 profesor dari berbagai disiplin ilmu.

Menurutnya, seluruh kegiatan tersebut berangkat dari satu keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan utama menuju kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Foto: Bapak Eji Nugraha (Selaku Ketua Panitia Pelaksana)

“Inti dari seluruh ikhtiar tersebut adalah satu keyakinan bahwa jalan menuju kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia adalah pendidikan. Pendidikan yang mampu mentransformasi manusia, membangun karakter, memperkuat kompetensi, dan melahirkan generasi unggul yang siap menghadapi masa depan,” ujarnya.

Persatuan Sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa

Dalam pidatonya, Ustadz Eji menekankan bahwa cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan sejahtera hanya dapat dicapai apabila bangsa Indonesia memiliki persatuan yang kokoh.

Menurutnya, persatuan bukan sekadar slogan atau semboyan, melainkan fondasi utama dalam pembangunan nasional.

“Persatuan bukan sekadar semboyan. Persatuan adalah fondasi utama pembangunan. Tanpa persatuan, energi bangsa akan habis dalam perpecahan. Dengan persatuan, seluruh potensi bangsa dapat bergerak menuju kemajuan bersama,” tegasnya.

Ia menilai bahwa seluruh elemen bangsa memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memperkuat persatuan sebagai modal dasar menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks.

Memanfaatkan Masa Damai untuk Membangun

Ustadz Eji juga menyoroti kondisi dunia yang masih diwarnai berbagai konflik politik, peperangan, dan perlambatan ekonomi global. Namun demikian, ia menilai bahwa pada akhirnya seluruh bangsa di dunia memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan perdamaian dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

“Pada akhirnya, semua bangsa menginginkan perdamaian. Bahkan sering kali mereka berperang demi mencapai perdamaian. Ketika perdamaian terwujud, apa yang dilakukan bangsa-bangsa itu? Mereka membangun. Mereka mengejar kemajuan dan kesejahteraan rakyatnya,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk memanfaatkan suasana damai yang saat ini dimiliki bangsa Indonesia sebagai momentum mempercepat pembangunan, khususnya di bidang pendidikan.

“Wahai para pemuda, wahai seluruh anak bangsa, mari manfaatkan masa damai ini untuk membangun. Bangun pendidikan, bangun sumber daya manusia, bangun peradaban. Pendidikan adalah jalan revolusioner untuk mencapai kemajuan yang kita cita-citakan bersama,” serunya yang disambut antusias para hadirin.

Salam dan Optimisme dari Syaykh Al-Zaytun

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Eji juga menyampaikan kondisi keluarga besar Al-Zaytun yang tengah berduka atas wafatnya Ustadz Abdul Halim, salah satu sahabat sekaligus eksponen Al-Zaytun yang baru saja berpulang.

Selain itu, ia menyampaikan bahwa Syaykh Panji Gumilang saat ini masih menjalani masa pemulihan kesehatan di Bandung sehingga belum dapat menghadiri peringatan 1 Suro secara langsung.

Meski demikian, Syaykh Panji Gumilang menitipkan salam kepada seluruh peserta dan tamu undangan yang hadir.

“Beliau menitipkan salam hangat kepada seluruh tamu undangan, para peserta, dan seluruh civitas Al-Zaytun. Beliau juga menyampaikan semangat agar kita terus melangkah maju dan tetap optimistis,” tutur Ustadz Eji.

Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa Syaykh Panji Gumilang akan segera pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa dalam waktu dekat.

Optimisme Menatap Masa Depan Indonesia

Mengakhiri sambutannya, Ustadz Eji mengutip firman Allah SWT, “Inna ma’al ‘usri yusrā”, yang berarti sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

Menurutnya, ayat tersebut menjadi sumber optimisme untuk terus melangkah menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa kehilangan harapan.

Ia juga menegaskan bahwa forum yang berlangsung di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin hari itu merupakan bukti nyata bahwa persatuan dapat diwujudkan di tengah keberagaman latar belakang, profesi, suku, agama, dan elemen bangsa.

“Kita telah membuktikan hari ini bahwa kita mampu bersatu. Dari berbagai latar belakang, kita duduk bersama dalam semangat yang sama, yaitu membangun Indonesia. Karena itu, mari kita perkokoh dan sebarkan semangat persatuan ini ke seluruh penjuru negeri,” katanya.

Di akhir pidato, Ustadz Eji mengajak seluruh peserta menyatakan komitmen bersama untuk menjaga persatuan dan optimisme nasional.

“Apapun keadaan yang kita hadapi, kita harus tetap bersatu. Persatuan harus semakin kokoh agar pembangunan terus berjalan dan kesejahteraan dapat dirasakan seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Seruan tersebut disambut meriah oleh ribuan peserta yang memenuhi Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin.

“Maukah kita memperkokoh persatuan?”

“Mau!”

“Yakinkah kita dapat membangun bangsa ini?”

“Yakin!”

“Yakinkah Indonesia akan maju?”

“Yakin!”

Gema optimisme dan tepuk tangan memenuhi ruangan, menandai tekad bersama untuk terus memperkuat persatuan, membangun pendidikan, dan mewujudkan Indonesia yang maju, mandiri, serta sejahtera di tengah dinamika dunia yang terus berubah. (Husna untuk Indonesia)