الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Waduk Cipancuh Kekeringan, Pengelola Ungkap Solusi untuk Petani

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Kondisi Waduk Cipancuh di Desa Situraja, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, mengalami penyusutan debit air di tengah musim kemarau. Sejumlah bagian dasar waduk bahkan mulai terlihat kering, ditumbuhi rumput, dan mengalami keretakan pada tanah. Kondisi tersebut terpantau saat liputan langsung oleh Tiwi, Reporter Radio Prima 95.8 FM. di Waduk Cipancuh pada Kamis (13/8/2026). 

Dalam kesempatan tersebut, petugas operator bendungan Waduk Cipancuh, Deri Eka Putra, diwawancarai terkait kondisi waduk dan dampaknya terhadap kebutuhan air bagi lahan pertanian 

Deri menjelaskan Waduk Cipancuh berfungsi sebagai tampungan air hujan sehingga ketersediaan air sangat bergantung pada debit air yang masuk. Saat musim kemarau berlangsung, debit tampungan pun mengalami penyusutan.

“Bendungan kita itu kayak tampungan hujan. Makanya di kita itu enggak bisa selalu ada air, pasti ada surutnya,” ujar Deri.

Kapasitas Air Belum Mencukupi Kebutuhan Petani

Menurut Deri, air dari Waduk Cipancuh masih dibutuhkan untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah wilayah. Namun, kondisi debit saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan petani.

Ia mengatakan luas lahan yang menjadi target pengairan tidak seluruhnya dapat terlayani karena kapasitas tampungan yang terbatas. Kondisi tersebut semakin menjadi tantangan karena musim kemarau tahun ini berlangsung lebih cepat dan lebih panjang.

“Kalau melihat dari area tampungannya memang bisa dibilang enggak semuanya cukup untuk keseluruhan petani yang dibutuhkan,” katanya.

Normalisasi Waduk Masih Tahap Perencanaan

Selain debit air yang menyusut, sedimentasi juga menjadi salah satu persoalan yang berkaitan dengan kapasitas tampungan Waduk Cipancuh.

Deri mengatakan pihak PUPR sebelumnya telah datang untuk membahas rencana normalisasi waduk. Namun, pelaksanaannya masih berada dalam tahap perencanaan sehingga dirinya belum mengetahui kapan pengerukan atau normalisasi akan dilakukan.

“Untuk normalisasi sendiri kemarin itu kita ada dari PUPR sendiri datang. Masih dalam bentuk agenda perencanaan,” ujarnya.

Pompanisasi dari Sumber Lain Belum Optimal

Upaya mengambil air dari sumber lain melalui pompanisasi juga dinilai belum optimal untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian.

Menurut Deri, sumber air lain seperti sungai juga memiliki kebutuhan pembagian air untuk wilayah lainnya. Selain itu, diperlukan debit minimum agar air yang dipompa dapat mengalir hingga mencapai persawahan.

“Kalau misalkan debitnya kecil, debit ada, cuma enggak maksimal. Jadi enggak bisa buat mendorong sampai ke persawahan warganya,” jelas Deri.

Petani Diimbau Percepat Masa Tanam

Menghadapi kondisi tersebut, pengelola Waduk Cipancuh mengimbau petani melakukan percepatan masa tanam ketika air kembali tersedia pada musim hujan.

Deri mengatakan percepatan masa tanam menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan agar kebutuhan air tanaman tidak kembali bertepatan dengan kondisi debit waduk yang mulai menurun.

Ia mengimbau petani segera melakukan proses tanam ketika waduk telah kembali terisi pada musim hujan dan tidak menunda masa tanam terlalu lama.

“Alangkah baiknya segera melakukan progres musim tanam yang berikutnya. Jangan sampai menunda-nunda,” katanya.

Menurut Deri, penyesuaian waktu tanam menjadi penting karena tanaman padi membutuhkan pasokan air yang cukup. Jika masa tanam terlambat dan debit waduk kembali menurun, kebutuhan air tanaman berpotensi tidak terpenuhi.

Kondisi Waduk Cipancuh yang mengalami penyusutan debit menjadi tantangan bagi pengelolaan air pertanian di wilayah sekitar. Di sisi lain, rencana normalisasi masih dalam tahap perencanaan, sehingga pengaturan waktu tanam menjadi salah satu langkah yang saat ini diimbau kepada para petani.

(Delili dan Saheel untuk Indonesia)