الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Faktor-faktor Pendukung Peningkatan Kompetensi Tutor dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

تقييم المستخدم: 2 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

(Oleh Ali Aminulloh disarikan dari paparan Prof. Dr. Sujarwo, M.Pd.)

lognews.co.id - Peningkatan kompetensi tutor merupakan fondasi utama dalam membangun sistem pendidikan yang berkualitas. Kompetensi tersebut tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu tutor, tetapi juga dipengaruhi oleh ekosistem pendidikan yang mampu mendorong tumbuhnya budaya belajar, inovasi, dan profesionalisme. Oleh karena itu, keberhasilan suatu lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas tutor sangat bergantung pada adanya sistem pendukung yang terintegrasi, mulai dari kepemimpinan, program pengembangan sumber daya manusia, hingga budaya organisasi yang kondusif.

Pemikiran tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Sujarwo, M.Pd., Guru Besar Pendidikan Nonformal (PNF) Universitas Negeri Yogyakarta, dalam kegiatan Up Grading Tutor PKBM Al Zaytun bertema "Peningkatan Kompetensi Tutor dalam Membangun Pendidikan yang Berkualitas." Kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 30 /Juni 2026, di Basemen Ali Mahad Al Zaytun, diikuti oleh 46 orang tutor PKBM Al Zaytun sebagai bagian dari program pengembangan kompetensi tutor secara berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Prof. Sujarwo menjelaskan bahwa peningkatan kompetensi tutor tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada kesadaran individu. Lembaga pendidikan harus mampu membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya budaya belajar sepanjang hayat (lifelong learning) sehingga setiap tutor memperoleh kesempatan untuk terus berkembang mengikuti perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan peserta didik.

Menurut beliau, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penopang keberhasilan peningkatan kompetensi tutor.

Faktor pertama adalah kepemimpinan yang visioner. Seorang pemimpin pendidikan memiliki peran strategis dalam menentukan arah pengembangan lembaga melalui visi yang jelas, kebijakan yang progresif, dan keteladanan dalam membangun budaya akademik. Kepemimpinan yang kuat akan mendorong seluruh unsur lembaga bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu peningkatan mutu pendidikan. Pemimpin juga harus mampu menjadi motivator sekaligus fasilitator yang memberikan ruang bagi tutor untuk terus belajar dan berinovasi.

Faktor kedua adalah program pelatihan yang berkelanjutan. Menurut Prof. Sujarwo, kompetensi tutor tidak dapat dibangun melalui pelatihan yang bersifat insidental. Pengembangan profesional harus dirancang secara sistematis melalui pelatihan dasar, pelatihan lanjutan, workshop inovasi, sertifikasi profesi, serta pembinaan yang dilakukan secara terus-menerus. Program tersebut harus menyesuaikan perkembangan kurikulum, kemajuan teknologi, serta kebutuhan nyata yang dihadapi tutor dalam praktik pembelajaran.

Faktor ketiga adalah budaya belajar organisasi. Lembaga pendidikan yang maju selalu memiliki budaya akademik yang hidup. Tutor didorong untuk saling berbagi pengalaman, berdiskusi mengenai praktik-praktik terbaik (best practices), melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, dan membangun komunitas belajar profesional. Budaya belajar yang kuat akan menjadikan peningkatan kompetensi sebagai kebutuhan bersama, bukan sekadar kewajiban administratif.

Selanjutnya adalah ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai. Proses peningkatan kompetensi memerlukan dukungan fasilitas yang memungkinkan tutor mengembangkan diri secara optimal. Perpustakaan, laboratorium, ruang belajar yang nyaman, media pembelajaran, serta lingkungan akademik yang kondusif menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Menurut beliau, investasi pada fasilitas pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Prof. Sujarwo juga menekankan pentingnya dukungan teknologi informasi dalam era transformasi digital. Pemanfaatan internet berkecepatan tinggi, Learning Management System (LMS), perpustakaan digital, serta berbagai platform pembelajaran berbasis teknologi memungkinkan tutor memperluas akses terhadap sumber belajar dan mengembangkan metode pembelajaran yang lebih inovatif. Literasi digital kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kompetensi profesional seorang tutor.

Faktor pendukung lainnya adalah sistem penghargaan bagi tutor yang berprestasi. Apresiasi terhadap kinerja tutor merupakan bentuk pengakuan lembaga atas dedikasi dan profesionalisme yang telah ditunjukkan. Penghargaan dapat diwujudkan dalam bentuk kesempatan mengikuti pelatihan, studi lanjut, promosi karier, penghargaan akademik, maupun insentif lainnya. Sistem penghargaan yang objektif akan meningkatkan motivasi tutor untuk terus berkarya, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi lembaga.

Prof. Sujarwo menegaskan bahwa keenam faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan membentuk suatu ekosistem pengembangan kompetensi tutor. Kepemimpinan yang visioner akan melahirkan kebijakan pengembangan sumber daya manusia yang tepat, pelatihan akan meningkatkan kapasitas profesional, budaya belajar akan memperkuat kolaborasi, sarana dan teknologi akan memfasilitasi inovasi, sedangkan sistem penghargaan akan menjaga motivasi dan keberlanjutan kinerja tutor. Ketika seluruh komponen tersebut berjalan secara sinergis, maka akan lahir tutor yang profesional, adaptif, inovatif, dan berintegritas.

Mengakhiri pembahasannya, Prof. Dr. Sujarwo mengingatkan bahwa peningkatan kompetensi tutor merupakan investasi strategis bagi masa depan pendidikan. Menurut beliau, lembaga pendidikan yang ingin menghasilkan lulusan unggul harus terlebih dahulu membangun kualitas para pendidiknya. Tutor yang terus belajar akan melahirkan peserta didik yang terus berkembang, sedangkan peserta didik yang berkembang akan menjadi fondasi lahirnya masyarakat yang maju dan berperadaban.

Melalui kegiatan Up Grading Tutor ini, PKBM Al Zaytun menunjukkan komitmennya untuk membangun budaya peningkatan kompetensi secara berkelanjutan. Penguatan kualitas tutor diharapkan tidak hanya meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik, tetapi juga berdampak langsung pada peningkatan mutu pembelajaran, pembentukan karakter peserta didik, serta semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap PKBM Al Zaytun sebagai lembaga pendidikan yang unggul, adaptif, dan berorientasi pada masa depan.