الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

PKBM Al Zaytun Gaungkan Semangat Pendidikan Melalui Harmoni Angklung

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM AlZaytun)

lognews.co.id - Suara tepuk tangan yang bergema di sebuah pesta walimahan terkadang bukan hanya menjadi penghargaan bagi sebuah pertunjukan. Lebih dari itu, ia dapat menjadi penanda lahirnya sebuah harapan baru. Harapan bahwa belajar tidak mengenal batas usia, bahwa keberanian dapat tumbuh dari latihan yang tekun, dan bahwa seni budaya mampu menjadi jembatan pendidikan yang menyentuh hati masyarakat. Itulah yang tergambar dalam penampilan perdana Tim Angklung PKBM Al Zaytun bersama Paguyuban Istri Peduli (PIP) pada Ahad, 5 Juli 2026. 

Bertempat di kediaman Ibu Sarningsih, warga belajar Kelas B1 PKBM Al Zaytun di Kabupaten Indramayu, tim angklung yang terdiri atas ibu-ibu anggota Paguyuban Istri Peduli (PIP) dan warga belajar PKBM Al Zaytun sukses menghidupkan suasana walimahan pernikahan ananda Fail Amir dan Anis Safitri. Walimahan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur atas terlaksananya akad nikah yang telah dilaksanakan dua pekan sebelumnya di kediaman mempelai perempuan di Yogyakarta.

Sejak pagi, suasana penuh kehangatan telah terasa. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dan dipandu dengan hangat oleh Ibu Amir sebagai pembawa acara. Setelah seluruh rangkaian seremonial selesai sekitar pukul 10.00 WIB, dilanjutkan dengan sesi foto bersama. Para tamu kemudian dipersilakan menikmati hidangan yang telah disiapkan keluarga besar. Di sela-sela suasana penuh kekeluargaan itulah, MC mempersilakan Tim Angklung PKBM Al Zaytun dan Paguyuban Istri Peduli untuk bersiap menampilkan persembahan terbaik mereka.

Sebanyak 17 pemain yang mayoritas merupakan warga belajar PKBM Al Zaytun tampil penuh percaya diri. Mereka merupakan gabungan dari dua kelompok angklung yang selama ini berlatih secara rutin. Agar menghasilkan suara yang lebih kuat, utuh, dan harmonis, setiap nada dimainkan oleh dua orang. Kekompakan tersebut menghadirkan alunan musik yang indah dan mampu memukau seluruh tamu yang hadir.

Lagu "Poco-Poco" menjadi salah satu lagu andalan yang langsung menghidupkan suasana. Disusul dengan lagu kebanggaan tanah Pasundan, "Manuk Dadali", yang dimainkan dengan penuh semangat dan kekompakan. Alunan angklung yang sederhana namun sarat makna itu berhasil membawa nuansa hangat sekaligus membangkitkan rasa cinta terhadap budaya bangsa.

Tidak ada yang menyangka bahwa penampilan pertama mereka di hadapan masyarakat akan mendapat sambutan yang begitu luar biasa. Tepuk tangan bergemuruh mengiringi setiap lagu yang dimainkan. Bahkan beberapa anggota keluarga tuan rumah bersama tamu undangan spontan maju ke depan untuk berjoget mengikuti irama musik. Suasana semakin meriah ketika beberapa di antara mereka memberikan saweran sebagai bentuk apresiasi kepada para pemain. Gelak tawa, senyum bahagia, dan sorak kegembiraan memenuhi halaman rumah, menjadi bukti bahwa seni tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat ketika dipersembahkan dengan penuh ketulusan.

Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menghibur para tamu. Tim Angklung PKBM Al Zaytun dan Paguyuban Istri Peduli tidak tampil untuk mengejar honor ataupun keuntungan materi. Penampilan tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan yang selama ini dibangun di PKBM Al Zaytun. Panggung masyarakat dijadikan sebagai ruang belajar nyata untuk melatih keberanian tampil di depan publik, membangun rasa percaya diri, menguji hasil latihan yang telah dilakukan selama ini, sekaligus mengasah kekompakan dalam bekerja sebagai sebuah tim.

Kolaborasi antara PKBM Al Zaytun dan Paguyuban Istri Peduli menjadi bukti bahwa pendidikan masyarakat dapat dikembangkan melalui pendekatan yang kreatif. Seni budaya dijadikan media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna. Angklung sebagai salah satu warisan budaya Nusantara bukan hanya dimainkan sebagai hiburan, melainkan juga menjadi sarana pendidikan karakter, pelestarian budaya, serta pemberdayaan perempuan agar terus berkarya dan berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagi PKBM Al Zaytun, pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Pendidikan harus mampu hadir di tengah kehidupan masyarakat. Karena itulah setiap kesempatan dijadikan sebagai media belajar, termasuk melalui pertunjukan seni di tengah-tengah acara masyarakat. Melalui pendekatan seperti ini, warga belajar tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman nyata yang akan membentuk karakter, rasa percaya diri, kemampuan berkomunikasi, serta semangat untuk terus berkembang.

Ketua Paguyuban Istri Peduli, Sri Wahyuni, S.Pd., menjelaskan bahwa dirinya memang terus berupaya mencari panggung-panggung masyarakat, terutama pada berbagai hajatan warga di lingkungan sekitar. Menurutnya, panggung tersebut menjadi tempat yang sangat tepat untuk mengaplikasikan keterampilan yang selama ini dipelajari dalam latihan rutin yang dilaksanakan setiap sepekan sekali. Dengan tampil di hadapan masyarakat, hasil latihan tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar menjadi pengalaman nyata yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus membangkitkan semangat belajar para ibu.

Harapan itu ternyata mulai membuahkan hasil. Antusiasme para pemain semakin terlihat ketika pelatih angklung, Ibu Umi Rochimah, menyampaikan bahwa mereka akan menambah satu lagu baru, yaitu "Ilir-Ilir". Tanpa ragu, para ibu menjawab dengan penuh semangat, "Siap, Bu."

Semangat itu bahkan terus berlanjut setelah penampilan selesai. Bu Asmalia, salah seorang warga belajar kelas B, sudah lebih dahulu menanyakan jadwal latihan berikutnya. Bahkan sehari sebelum penampilan, beliau telah bertanya kepada pengurus, "Bu, hari Senin infonya mau latihan jadi, tidak?" Pertanyaan sederhana tersebut menunjukkan bahwa semangat belajar telah tumbuh dari dalam diri para warga belajar. Mereka tidak lagi datang hanya karena diajak, tetapi karena memiliki keinginan untuk terus berkembang.

Melihat antusiasme tersebut, para pengurus pun semakin bersemangat untuk mengembangkan kelompok angklung ini. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah memesan satu set angklung baru dengan kualitas yang lebih baik agar suara yang dihasilkan semakin kuat, jernih, dan harmonis pada setiap penampilan berikutnya. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pertunjukan sekaligus menjadi penyemangat baru bagi seluruh anggota tim.

Penampilan perdana ini menjadi bukti bahwa semangat belajar benar-benar tidak mengenal usia. Dari ruang latihan yang sederhana, ibu-ibu warga belajar PKBM Al Zaytun mampu melangkah ke panggung masyarakat dengan penuh percaya diri. Mereka tidak hanya memainkan alat musik tradisional, tetapi juga memainkan harapan, membangun optimisme, serta menunjukkan bahwa pendidikan mampu mengubah seseorang menjadi pribadi yang lebih berani, lebih percaya diri, dan lebih bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Ke depan, Tim Angklung PKBM Al Zaytun dan Paguyuban Istri Peduli diharapkan terus berkembang menjadi duta budaya sekaligus duta pendidikan masyarakat. Setiap penampilan bukan sekadar menyajikan hiburan, melainkan juga memperkenalkan nilai-nilai pembelajaran sepanjang hayat, melestarikan budaya bangsa, memberdayakan perempuan, serta mengenalkan berbagai program PKBM Al Zaytun kepada masyarakat yang lebih luas.

Sebab sejatinya, belajar tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Terkadang, panggung kehidupanlah yang menjadi ruang belajar terbaik. Di sanalah keberanian ditempa, kekompakan dibangun, budaya dilestarikan, dan semangat untuk terus belajar menemukan maknanya yang paling nyata. Dari harmoni angklung yang dimainkan dengan penuh ketulusan, PKBM Al Zaytun kembali mengajarkan bahwa pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang hadir, berkarya, dan menginspirasi masyarakat.