lognews.co.id, Jakarta — Badan Narkotika Nasional (BNN) RI mengimbau masyarakat untuk tidak mencoba mengonsumsi “gas tertawa” atau nitrous oxide (N₂O), yang belakangan marak diperbincangkan di media sosial dan diduga disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto menegaskan bahwa N₂O bukan untuk konsumsi rekreasi. Zat tersebut sejatinya digunakan dalam dunia medis dan kuliner, namun penyalahgunaannya dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan.
“N₂O bukan untuk konsumsi rekreasi. Efek euforianya singkat, tetapi risikonya fatal dan permanen,” ujar Suyudi saat dikonfirmasi di Jakarta.
Nitrous oxide dikenal sebagai “gas tertawa” karena efeknya yang dapat menimbulkan rasa senang atau euforia sementara. Dalam dunia medis, gas ini digunakan sebagai anestesi dan analgesik ringan untuk mengurangi rasa nyeri dan kecemasan pasien, dengan pengawasan dokter. Namun, di luar konteks medis, N₂O sering disalahgunakan sebagai inhalan untuk mendapatkan efek relaksasi atau halusinasi ringan.
BNN mengingatkan bahwa penyalahgunaan N₂O sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kekurangan oksigen, gangguan saraf, hingga kematian. Risiko kesehatan yang dapat ditimbulkan antara lain gangguan pernapasan akibat hipoksia, penurunan kesadaran, kerusakan saraf, serta defisiensi vitamin B12 yang dapat berdampak jangka panjang.
Paparan gas tertawa dalam jumlah besar atau penggunaan berulang tanpa pengawasan medis dapat memicu sesak napas, pingsan, gangguan koordinasi tubuh, hingga kerusakan saraf permanen. Selain itu, nitrous oxide juga dapat mengganggu fungsi vitamin B12 yang penting bagi pembentukan sel darah merah dan kesehatan sistem saraf.
BNN juga menyoroti fakta bahwa zat ini relatif mudah ditemukan di pasaran bebas karena penggunaannya dalam bidang medis dan kuliner. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan potensi penyalahgunaan, terutama di kalangan tertentu.
Suyudi meminta masyarakat untuk tidak tergoda mencoba zat tersebut dan segera melaporkan praktik penjualan mencurigakan ke Call Center BNN 184 atau aparat kepolisian terdekat. BNN, kata dia, berkomitmen penuh dalam upaya pencegahan, penindakan, serta rehabilitasi terhadap penyalahgunaan zat berbahaya.
“Penyalahgunaan jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen, kekurangan vitamin B12 yang parah, hingga risiko kematian akibat kekurangan oksigen,” tegasnya. (Amri-untuk Indonesia)


