Friday, 28 August 2026

Prof. Dr. Makrum Khalil: Al-Zaytun Buktikan Pendidikan Dapat Membangun Persatuan dan Kemandirian Bangsa

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Guru Besar asal Batam, Kepulauan Riau, Prof. Dr. Makrum Khalil, M.Ag., menilai Ma'had Al-Zaytun telah membuktikan bahwa pendidikan dapat menjadi instrumen penting dalam membangun persatuan, kemandirian, dan kemajuan bangsa.

Pandangan tersebut disampaikannya saat menghadiri Peringatan 1 Muharam 1448 Hijriah dan Forum Kebangsaan yang diselenggarakan di Ma'had Al-Zaytun, Indramayu, Selasa (16/6/2026).

Menurut Prof. Makrum, pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter, memperkuat semangat kebangsaan, serta menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan global.

Mengikuti Perjalanan Al-Zaytun Sejak Awal Berdiri

Prof. Makrum mengungkapkan bahwa dirinya telah beberapa kali mengunjungi Al-Zaytun sejak masa awal pendiriannya. Kunjungan pertama dilakukan pada tahun 1999 ketika Presiden B.J. Habibie berkunjung ke Al-Zaytun.

Setelah itu, ia kembali hadir dalam berbagai kesempatan dan beberapa kali berdiskusi langsung dengan Syaykh Panji Gumilang.

Menurutnya, sejak awal Al-Zaytun telah menunjukkan visi pendidikan yang besar dan berbeda dibandingkan banyak lembaga pendidikan lainnya.

"Sejak awal saya melihat Al-Zaytun memiliki visi besar. Perkembangannya hingga hari ini menunjukkan bahwa visi tersebut terus diwujudkan secara nyata," ujarnya.

Dukung Gagasan 500 Pusat Pendidikan Nasional

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Makrum juga menyampaikan dukungannya terhadap gagasan pembangunan 500 Pusat Pendidikan Nasional Berasrama Terintegrasi yang diperkenalkan melalui Gerakan Indonesia Raya Abadi.

Menurutnya, gagasan besar hanya dapat terwujud apabila dibangun dengan optimisme, kemauan kuat, dan kerja sama berbagai pihak.

Ia menilai pembangunan 500 pusat pendidikan bukanlah sesuatu yang mustahil selama dirancang secara matang dan dijalankan secara berkelanjutan.

Bahkan, sebelum mendengar gagasan tersebut, dirinya telah memiliki pemikiran mengenai pentingnya pengembangan lembaga pendidikan Al-Zaytun di berbagai daerah Indonesia.

"Saya berpikir Al-Zaytun perlu memiliki cabang-cabang pendidikan di berbagai wilayah. Karena itu ketika mendengar gagasan 500 pusat pendidikan, saya sangat mendukung," katanya.

Menurut Prof. Makrum, pemerataan kualitas pendidikan akan lebih mudah terwujud apabila setiap daerah memiliki lembaga pendidikan yang mengadopsi nilai-nilai dan sistem pendidikan yang telah berhasil diterapkan Al-Zaytun.

Persatuan sebagai Fondasi Kemandirian Bangsa

Menanggapi tema peringatan 1 Muharam, yakni "Memperkokoh Persatuan Demi Mewujudkan Kemandirian Bangsa dalam Menghadapi Tantangan Global", Prof. Makrum menilai tema tersebut sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini.

Menurutnya, persatuan merupakan fondasi utama dalam membangun bangsa yang mandiri dan berdaya saing.

Ia mengibaratkan persatuan seperti seikat lidi yang akan memiliki kekuatan ketika bersatu, namun menjadi lemah apabila tercerai-berai.

"Keberagaman bukan penghalang untuk bersatu. Justru Indonesia memiliki kekuatan besar karena mampu menyatukan berbagai perbedaan suku, budaya, agama, dan latar belakang dalam satu tujuan bersama," jelasnya.

Pendidikan sebagai Jalan Membangun Peradaban

Prof. Makrum menegaskan bahwa pembangunan peradaban dan peningkatan daya saing bangsa hanya dapat dicapai melalui pendidikan.

Menurutnya, mustahil suatu bangsa mampu mandiri dan menghadapi tantangan global apabila tidak memiliki sistem pendidikan yang mampu membentuk sumber daya manusia unggul.

Ia menilai sistem pendidikan berasrama menjadi salah satu model yang efektif dalam membentuk karakter, kedisiplinan, semangat kebangsaan, serta kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.

Dalam pandangannya, Al-Zaytun telah memberikan contoh bagaimana pendidikan dapat menjadi sarana memperkuat persatuan sekaligus menyiapkan generasi yang siap menghadapi masa depan.

Apresiasi terhadap Kurikulum LSTEAMS

Prof. Makrum juga memberikan apresiasi terhadap pendekatan kurikulum LSTEAMS yang dikembangkan di lingkungan Al-Zaytun.

Konsep yang mengintegrasikan Law, Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, dan Spirituality tersebut dinilai mampu menjawab kebutuhan pembangunan manusia secara utuh.

Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus membangun aspek moral, spiritual, serta nilai-nilai kemanusiaan.

"Konsep ini bersifat universal dan dapat diterima oleh berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya," ujarnya.

Kemandirian Nasional Dimulai dari Pendidikan

Menanggapi persoalan ketergantungan Indonesia terhadap impor di berbagai sektor, Prof. Makrum meyakini Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bangsa yang mandiri.

Namun, menurutnya, kemandirian hanya dapat diwujudkan apabila Indonesia memiliki sumber daya manusia berkualitas tinggi yang dibentuk melalui pendidikan yang baik.

Ia menegaskan bahwa tantangan global tidak dapat dihadapi hanya melalui kebijakan ekonomi, tetapi harus dimulai dari pembangunan manusia melalui sistem pendidikan yang unggul dan berorientasi masa depan.

Harapan bagi Generasi Penerus

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Makrum berharap para alumni dan generasi muda Al-Zaytun dapat melanjutkan perjuangan pendidikan yang telah dirintis selama ini.

Menurutnya, keberhasilan sebuah gagasan besar sangat bergantung pada proses regenerasi dan keberlanjutan.

Karena itu, ia berharap para alumni dapat menjadi agen perubahan yang membangun lembaga-lembaga pendidikan berkualitas di berbagai daerah Indonesia.

"Kalau model pendidikan seperti Al-Zaytun terus dikembangkan dan diperluas, manfaatnya akan dirasakan secara nasional bahkan internasional," ujarnya.

Momentum Hijrah untuk Mengubah Pola Pikir

Memaknai Tahun Baru Hijriah 1448 H, Prof. Makrum mengajak masyarakat untuk melakukan hijrah dalam cara berpikir dan cara bertindak.

Menurutnya, bangsa Indonesia harus berani bertransformasi dari pola pikir sempit menuju pola pikir yang lebih luas, dari mentalitas pasif menuju mentalitas produktif, serta dari ketergantungan menuju kemandirian.

Ia mengingatkan bahwa perubahan suatu bangsa hanya akan terjadi apabila bangsa tersebut memiliki kemauan untuk mengubah dirinya sendiri melalui pendidikan, pembelajaran, dan pembangunan karakter.

Pendidikan untuk Indonesia Masa Depan

Bagi Prof. Dr. Makrum Khalil, Al-Zaytun telah menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi sarana membangun persatuan, memperkuat karakter, dan melahirkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Karena itu, ia memandang visi pendidikan Al-Zaytun, gagasan pembangunan 500 pusat pendidikan nasional, serta pendekatan kurikulum LSTEAMS sebagai langkah strategis dalam menyiapkan Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing di tengah dinamika global yang terus berkembang. (Sahil untuk Indonesia)