Wednesday, 04 February 2026

Merawat Masa Depan dengan Ilmu dan Keteladanan: Pelatihan Pelaku Didik ke-35

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id - Bagaimana jika seorang profesor datang bukan untuk mengajar, melainkan untuk belajar? Bagaimana jika sebuah lembaga pendidikan yang kerap disalahpahami justru mempraktikkan masa depan pendidikan Indonesia. Hari ini, senyap, dan tanpa banyak slogan?

WhatsApp Image 2026 02 01 at 17.45.04

Pertanyaan itulah yang mengemuka saat Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun memasuki sesi ke-35, Ahad, 1 Februari, sebuah ikhtiar panjang yang telah berjalan sejak 1 Juni 2025. Pada sesi ini, Al-Zaytun menghadirkan Prof. Mahyuni, MA. Ph.D., Guru Besar Linguistik Terapan, Analisis Wacana, dan Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Mataram, seorang akademisi yang justru berkali-kali menegaskan: “Saya ke sini bukan mengajari. Saya belajar.”

Dari Mimbar Ilmu ke Majelis Silaturahmi

Pidato dibuka dengan salam, syukur, dan shalawat, bukan sekadar formalitas, melainkan penanda bahwa forum ini lebih dari ruang akademik. Prof. Mahyuni menyebutnya majelis ta’lim: tempat orang berilmu terus mengikhtiarkan peningkatan ilmu. Di hadapan ribuan hadirin, pada forum pelatikan pelaku didik, beliau mengaku menemukan gambaran pendidikan ideal Indonesia yang selama ini hanya hadir di buku dan seminar.

Ia menyapa para guru, ustaz, ustazah, pelajar, seraya mencatat pembiasaan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Bagi seorang ahli bahasa, praktik lebih fasih daripada teori. Di sinilah silaturahmi tak tergantikan oleh teknologi. “IT tidak bisa menggantikan kebersamaan,” tegasnya.

Global, tapi Tidak Kehilangan Nurani

Di tengah arus globalisasi dan kecanggihan gawai yang ia sindir sebagai “istri kedua”, Prof. Mahyuni menekankan kecerdasan adaptif: memanfaatkan teknologi tanpa menjadi korbannya. Ia menyoroti kebijakan pembatasan gawai bagi anak di bawah 16 tahun di Australia, lalu tersenyum: Al-Zaytun telah mempraktikkannya lebih dulu. Komunikasi boleh, tetapi terkontrol. Best practice yang, menurutnya, seharusnya dipelajari negara, tanpa gengsi.

Ia juga menyinggung isu pangan dan kesehatan: dari olahraga rutin, sanitasi, hingga seleksi makanan yang higienis dan alami. Dengan nada kritis namun konstruktif, ia membandingkan praktik Al-Zaytun dengan problem nasional soal kualitas pangan anak. Pesannya tegas: praktik baik harus disebarluaskan.

Pendidikan yang Mempersiapkan Masa Depan

Yang membuatnya terkesan bukan sekadar bangunan, melainkan kurikulum hidup: integrasi teori dan praktik. Tidak semua anak harus menjadi akademisi. Sebagian bisa bertani, beternak, mengelas, membangun kapal; sebagian lain menekuni ilmu. Inilah pendidikan proyektif, realistis, dan manusiawi. “Dari 20 anak, tak mungkin 20-nya sama,” ujarnya, menolak homogenisasi bakat.

Ia melihat perpaduan pengalaman pesantren modern, visi kepemimpinan yang melayani, dan kerja nyata di lahan. Egalitarianisme yang tumbuh dari praktik, bukan slogan. Alumni mulai tersebar ke berbagai sektor, tanda antisipasi masa depan yang sedang disemai.

Bahasa sebagai Jembatan Peradaban

Bahasa, tegasnya, bukan kemewahan. Inggris sudah niscaya; pilihan lain harus berbasis kebutuhan masa depan. Ia berkisah tentang Malaysia yang melatih bahasa Arab sederhana bagi pelaku wisata hingga mendulang 25 juta wisatawan. Indonesia yang memiliki surga alam, kerap kalah bukan karena kurang indah, melainkan karena kurang strategi.

Dari Mandarin, Jepang, Korea, hingga Jerman, semua mungkin, asal ada benchmarking dan konsistensi praktik 24 jam. MC tiga bahasa di forum ini baginya bukan hiasan, melainkan tanda ekosistem kebahasaan yang hidup di Al Zaytun.

Branding, Publikasi, dan Dakwah Bil-Hal

Prof. Mahyuni jujur: keunggulan Al-Zaytun perlu branding yang beretika. Sistem sanitasi, pangan organik, pertanian berkelanjutan, semua layak dipublikasikan sebagai dakwah bil-hal. Ia mendorong penguatan IT, publikasi ilmiah, dan pembaruan konten agar lembaga ini menjadi mercusuar pengetahuan, yang mempromosikan dirinya sendiri melalui kerja nyata.

Indonesia Raya Tiga Stanza dan Solidaritas

Ada momen reflektif saat ia menyinggung Indonesia Raya tiga stanza, sejarah yang lama tersembunyi. Baginya, memuliakan tanah air adalah bagian dari iman sosial: mencintai sesama lebih dari diri sendiri. Di tengah krisis solidaritas, praktik kebersamaan yang ia saksikan di Al-Zaytun memberi harapan bahwa nilai bisa diurai menjadi tindakan.

Datang sebagai Profesor, Pulang sebagai Pembelajar

Menjelang akhir, Prof. Mahyuni mengajak dialog. Materi akademik sudah tersedia, katanya, tetapi yang utama telah ditunjukkan oleh kehidupan sehari-hari di Al-Zaytun: pendidikan yang komprehensif, adaptif, berakar, dan menatap masa depan.

WhatsApp Image 2026 02 01 at 17.45.05

Di sinilah paradoks itu menemukan jawabannya. Seorang profesor datang untuk belajar. Dan sebuah lembaga yang kerap dibicarakan orang lain, justru berbicara lantang lewat praktiknya sendiri. 

Oleh: Ali Aminulloh