Friday, 28 August 2026

PKBM Al Zaytun Tingkatkan Kompetensi Tutor, AI Menjadi Mitra Baru Membangun Pendidikan Berkualitas

User Rating: 1 / 5

Star ActiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminullah (Direktur PKBM AL-ZAYTUN) 

lognews.co.id - Mengawali Tahun Ajaran Baru dengan Up Grading Tutor Menuju Pendidikan yang Adaptif, Humanis, dan BerkualitasPendidikan yang berkualitas tidak lahir secara kebetulan. Ia dibangun dari proses panjang yang diawali dengan peningkatan kualitas para pendidiknya. Berangkat dari keyakinan tersebut, PKBM Al Zaytun secara rutin menyelenggarakan pelatihan dan pengembangan kapasitas bagi seluruh tutor sebagai bagian dari komitmen menjaga mutu layanan pendidikan. Mengawali Tahun Ajaran Baru 2026/2027, PKBM Al Zaytun kembali menggelar Up Grading Tutor pada Selasa, 30 Juni 2026 dengan mengangkat tema "Peningkatan Kompetensi Tutor dalam Membangun Pendidikan Berkualitas."

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya. Narasumber pertama, Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E., Kepala PKBM Al Zaytun sekaligus dosen IAI Al Azis, menyampaikan materi bertajuk "Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam Pendidikan." Sementara narasumber kedua, Prof. Dr. Sujarwo, M.Pd., Guru Besar Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), membawakan materi mengenai peningkatan kompetensi tutor dalam mewujudkan pendidikan berkualitas di Mahad Al Zaytun.

Manusia Tidak Lepas dari Ruang dan Waktu

Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif. Dalam sesi pertama, Dr. Ali Aminulloh membuka materinya dengan pendekatan yang santai namun sarat makna filosofis.

"Manusia tidak pernah lepas dari ruang dan waktu," ungkapnya di hadapan para tutor.

Menurutnya, setiap pendidik harus memahami dua konteks tersebut. Dalam konteks ruang, para peserta adalah tutor yang mengabdi di lingkungan pendidikan Mahad dan PKBM Al Zaytun. Sementara dalam konteks waktu, umat manusia saat ini sedang hidup pada era revolusi teknologi informasi yang berkembang sangat cepat.

"Kalau kita tidak mampu membaca zaman, maka zamanlah yang akan meninggalkan kita," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi baru yang wajib dimiliki setiap tutor. Salah satunya adalah kemampuan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) secara tepat dalam proses pembelajaran.

Evolusi Kecerdasan Manusia

Melalui peta konsep yang disajikan, Dr. Ali mengajak peserta memahami perjalanan evolusi kecerdasan manusia.

Ia menjelaskan bahwa pada Era Print, orang yang banyak membaca buku menjadi sumber pengetahuan. Memasuki Era Search, kemampuan mencari informasi melalui mesin pencari menjadi kunci memperoleh ilmu.

Kemudian hadir Era Algoritma, ketika informasi justru datang menghampiri manusia melalui media sosial dan berbagai platform digital. Era ini melahirkan tantangan besar berupa post-truth, yakni kondisi ketika opini lebih dipercaya daripada fakta.

"Sekarang banyak orang merasa paling benar hanya karena sering melihat informasi yang sama berulang kali di media sosial. Di sinilah tutor harus menjadi penjaga nalar peserta didik," jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, dunia pendidikan mulai memasuki Era Generative AI, yaitu era ketika kemampuan bertanya (prompting) justru menjadi keterampilan utama. Siapa yang mampu menyusun pertanyaan dengan baik akan memperoleh jawaban yang jauh lebih berkualitas.

Bahkan di masa depan akan berkembang apa yang ia sebut sebagai Agentic AI, ketika kecerdasan buatan tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga mampu mengambil keputusan dan mengeksekusinya. Dalam kondisi tersebut, manusia tetap memegang peran utama sebagai pengendali, pemberi arah, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan.

AI Bukan Pengganti Guru

Menjawab kekhawatiran sebagian pendidik terhadap perkembangan AI, Dr. Ali menegaskan bahwa teknologi tersebut bukan ancaman bagi guru.

"AI adalah alat bantu, bukan pengganti guru," tegasnya.

Baginya, pendidikan tetap membutuhkan sentuhan manusia berupa keteladanan, empati, pembinaan karakter, serta nilai-nilai moral yang tidak mungkin digantikan oleh mesin.

Karena itu, ia mengajak seluruh tutor untuk tidak alergi terhadap perkembangan teknologi.

"Kalau AI bisa membantu pekerjaan menjadi lebih cepat, lebih kreatif, dan lebih efektif, mengapa tidak kita manfaatkan?" katanya yang disambut antusias para peserta.

Empat Langkah Bijak Memanfaatkan AI

Agar pemanfaatan AI benar-benar memberi manfaat dalam pembelajaran, Dr. Ali memperkenalkan empat prinsip utama.

Pertama, menyusun prompt yang spesifik sehingga AI memahami kebutuhan pengguna secara tepat.

Kedua, mampu memposisikan AI sebagai asisten intelektual, bukan sebagai pengambil keputusan mutlak.

Ketiga, memahami bahwa hasil AI hanyalah bahan awal yang tetap memerlukan sentuhan pemikiran, analisis, dan pengalaman tutor.

Keempat, melakukan validasi terhadap seluruh informasi yang dihasilkan AI melalui proses check dan recheck agar data yang digunakan benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

"AI boleh cepat, tetapi kebenaran tetap harus diverifikasi," pesannya.

Di akhir sesi, Dr. Ali mengingatkan bahwa masa depan pendidikan bukan ditentukan oleh siapa yang paling canggih teknologinya, melainkan oleh siapa yang paling mampu bersinergi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

"Siapa yang mampu bersinergi akan memenangkan masa depan. Sebaliknya, siapa yang menolak perubahan akan tertinggal oleh kereta zaman," pungkasnya.

Materi sesi berikutnya dilanjutkan oleh Prof. Dr. Sujarwo, M.Pd., yang mengupas strategi peningkatan kompetensi tutor sebagai fondasi utama dalam membangun pendidikan berkualitas di Mahad Al Zaytun. Melalui perpaduan antara penguatan kompetensi pedagogik dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, kegiatan Up Grading Tutor PKBM Al Zaytun menjadi bukti nyata bahwa peningkatan mutu pendidikan selalu dimulai dari peningkatan kualitas pendidiknya.