Friday, 28 August 2026

Ma'had Al-Zaytun Siapkan Generasi Pelanjut Berwawasan Internasional

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, Lognews.co.id - Program English Learning Revolution yang digelar di Ma'had Al-Zaytun tidak hanya memberikan pengalaman belajar bahasa Inggris yang berbeda, tetapi juga melahirkan semangat baru di kalangan peserta untuk menyebarluaskan ilmu yang telah diperoleh kepada seluruh warga pesantren.

Hal tersebut disampaikan oleh dua peserta pelatihan, Muhammad Ridho As-Sidiq, Menteri Pengembangan Bahasa Organisasi Pelajar Ma'had Al-Zaytun (OPMAZ), dan Ottorik Ilham Firdaus, anggota English Club Ma'had Al-Zaytun, dalam wawancara bersama reporter LognewsTV, Mrs. Runi.

Ridho menjelaskan bahwa sebelum mengikuti pelatihan, Ma'had Al-Zaytun telah memiliki English Club sebagai wadah untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, khususnya keterampilan berbicara. Namun, setelah mengikuti pelatihan bersama Mr. Eddy Sudarmadji, ia memperoleh inspirasi untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih sederhana dan mudah dipahami.

"Setelah mengikuti program ini, saya ingin membuat program dengan metode yang serupa seperti yang diajarkan Mr. Eddy. Metode ini sangat membantu kami memahami grammar dan tenses dengan lebih mudah," ujarnya.

Sebagai Menteri Pengembangan Bahasa OPMAZ, Ridho mengatakan langkah pertama yang akan dilakukan adalah membagikan pengetahuan tersebut kepada anggota English Club. Selanjutnya, metode pembelajaran tersebut akan diperluas agar dapat diikuti oleh seluruh santri Ma'had Al-Zaytun.

Belajar Grammar Tidak Lagi Rumit

Ridho mengaku pelatihan ini mengubah cara pandangnya terhadap bahasa Inggris. Sebelum mengikuti kegiatan tersebut, ia merasa kemampuan berbicara bahasa Inggris hanya bertumpu pada penguasaan kosakata, sementara grammar dan tenses masih terasa sulit dipahami.

"Di kelas sebenarnya kami belajar grammar dan tenses, tetapi sering kali terasa rumit. Setelah mengikuti pelatihan ini saya menyadari bahwa bahasa Inggris ternyata sederhana apabila diajarkan dengan metode yang tepat. Sekarang saya jauh lebih memahami grammar dan tenses," katanya.

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh Ottorik Ilham Firdaus. Menurutnya, pelatihan selama dua hari tersebut memberikan pengetahuan baru yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.

"Saya merasa sangat antusias, senang, dan bersyukur karena memperoleh pengetahuan baru. Dulu saya menganggap bahasa Inggris itu sulit karena terlalu banyak grammar dan tenses. Namun melalui metode ini, semuanya menjadi jauh lebih mudah dipahami," ungkap Ottorik.

Ia menilai pendekatan yang digunakan dalam pelatihan membuat proses belajar terasa menyenangkan sehingga peserta lebih mudah memahami materi tanpa merasa terbebani.

Siap Terapkan Metode Baru di English Club

Sebagai anggota English Club, Ottorik menegaskan bahwa dirinya bersama pengurus lainnya akan menerapkan metode pembelajaran tersebut dalam berbagai program pengembangan bahasa Inggris di Ma'had Al-Zaytun.

"Kami akan menggunakan metode ini dalam kegiatan English Club agar kemampuan berbicara, pemahaman grammar, dan keterampilan berbahasa Inggris teman-teman semakin meningkat," ujarnya.

Menurutnya, metode tersebut tidak hanya membantu memahami teori, tetapi juga membangun kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

Bangun Kepercayaan Diri Berbahasa Inggris

Menutup wawancara, Ridho mengajak seluruh santri untuk tidak takut berlatih berbicara bahasa Inggris meskipun masih melakukan kesalahan.

"Bahasa Inggris itu sebenarnya sangat mudah. Mungkin kemampuan saya belum sempurna, tetapi rasa percaya diri adalah kunci. Teruslah berbicara, jangan takut salah dan jangan khawatir dengan komentar orang lain. Jika percaya pada diri sendiri, hasil yang baik akan mengikuti," pesannya.

 

Ia juga menegaskan bahwa kemampuan berbahasa Inggris merupakan bekal penting untuk menghadapi tantangan global. Karena itu, budaya belajar dan praktik bahasa Inggris perlu terus dikembangkan di lingkungan Ma'had Al-Zaytun agar semakin banyak santri yang mampu berkomunikasi secara percaya diri di tingkat internasional. (Sahil untuk Indonesia)