Monday, 21 September 2026

Pendidikan Tanpa Batas, Alumni PKBM Al Zaytun Lulus Magister

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, Lognews.co.id – Di tengah tren perayaan kelulusan yang identik dengan pesta, konvoi, dan kemewahan, PKBM Al Zaytun menghadirkan cara berbeda dalam memaknai capaian akademik. Selametan kelulusan Magister (S2) yang digelar secara sederhana di kediaman Direktur PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh, menjadi simbol bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari kemegahan seremoni, melainkan dari rasa syukur, adab, dan komitmen untuk mengabdi kepada masyarakat.

Momentum tersebut sekaligus menjadi refleksi nilai yang selama ini ditanamkan di lingkungan Ma'had Al Zaytun, yaitu adab sebelum ilmu. Gelar akademik dipandang bukan sebagai simbol status sosial, tetapi sebagai amanah yang harus diwujudkan dalam karya dan pelayanan kepada sesama.

Salah satu lulusan yang hadir dalam selametan tersebut adalah Khoerun, S.H., M.Pd., alumni PKBM Al Zaytun yang berhasil menyelesaikan Program Magister Pendidikan Nonformal melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) di Universitas Negeri Yogyakarta.

Dalam testimoninya, Khoerun menceritakan perjalanan pendidikannya yang dimulai dari PKBM Al Zaytun hingga akhirnya meraih gelar magister.

"Saya Khoerun, alumni PKBM Al Zaytun, lulus tahun 2005. Kemudian saya melanjutkan pendidikan di Institut Agama Islam Al Zaytun Indonesia sebagai angkatan pertama pada tahun 2012 dan lulus pada tahun 2020. Selanjutnya saya melanjutkan studi melalui Program RPL Pendidikan Nonformal di Universitas Negeri Yogyakarta pada tahun 2025, dan alhamdulillah lulus tepat satu tahun kemudian pada tahun 2026," ungkapnya.

Menurut Khoerun, keberhasilannya menyelesaikan pendidikan tidak terlepas dari dorongan moral dan motivasi yang terus diberikan oleh Yang Amat Berhormat Syaykh Al Zaytun Dr. (C) Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, M.P., serta Direktur PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh.

Ia mengaku keduanya menjadi sosok yang terus mendorong para alumni PKBM agar tidak berhenti belajar dan berani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

"Semua itu merupakan berkat dorongan dan motivasi dari Yang Amat Berhormat Syaykh Al Zaytun Dr. (C) Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, M.P., serta dorongan dari Bapak Dr. Ali Aminulloh selaku Kepala PKBM Al Zaytun yang selalu memotivasi kami, para alumni PKBM, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," katanya.

Pendidikan Membuka Peluang Pengabdian

Bagi Khoerun, gelar magister bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia menilai pendidikan telah membuka cakrawala berpikir sekaligus menghadirkan peluang untuk mengabdi di berbagai bidang.

Ia menyampaikan bahwa setelah melanjutkan studi, dirinya memperoleh kepercayaan untuk mengemban sejumlah tanggung jawab, di antaranya sebagai Kepala Unit Pergudangan di LKM Masjid Rahmatan Lil Alamin, Kepala Unit Toko Material di KSU Desa Kota Indonesia, sekaligus tetap aktif sebagai tutor PKBM Al Zaytun.

"Dengan melanjutkan pendidikan, wawasan saya di bidang pendidikan semakin terbuka sehingga saya mendapatkan promosi tugas sebagai Kepala Unit Pergudangan di LKM Masjid Rahmatan Lil Alamin. Saya juga menjabat sebagai Kepala Unit Toko Material di KSU Desa Kota Indonesia, dan tetap aktif di bidang pendidikan sebagai tutor PKBM Al Zaytun," tuturnya.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa alumni PKBM memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang melalui pendidikan tinggi.

"Alumni PKBM Al Zaytun, maupun alumni PKBM di mana pun berada, memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi," ujarnya.

Kesederhanaan yang Sarat Makna

Perayaan kelulusan di PKBM Al Zaytun sengaja dikemas dalam suasana sederhana dan penuh kekeluargaan. Nilai ini sejalan dengan filosofi bahwa ilmu harus melahirkan kerendahan hati, bukan kebanggaan yang berlebihan.

Kesederhanaan tersebut sekaligus menjadi bentuk penegasan bahwa gelar akademik bukan sekadar simbol prestise. Sebaliknya, capaian pendidikan ditempatkan sebagai sarana memperluas manfaat bagi lingkungan sekitar.

Dalam perspektif pendidikan Al Zaytun, keberhasilan akademik harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial.

Sinergi Visi Spiritual dan Pendampingan Akademik

Keberhasilan para alumni melanjutkan studi hingga jenjang magister dibangun di atas dua pilar utama pendidikan PKBM Al Zaytun.

Pertama, visi spiritual Syaykh Al Zaytun yang menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian. Nilai tersebut menjadi kompas moral agar ilmu pengetahuan tidak terlepas dari etika.

Kedua, pendampingan akademik yang dilakukan Dr. Ali Aminulloh sebagai Direktur PKBM Al Zaytun. Melalui pendekatan pendidikan orang dewasa atau andragogi, para alumni terus diberikan motivasi, pendampingan, dan ruang untuk mengembangkan potensi akademiknya hingga ke perguruan tinggi.

Pendekatan itu menunjukkan bahwa keterbatasan latar belakang pendidikan maupun kondisi sosial ekonomi bukan menjadi penghalang untuk terus belajar apabila tersedia sistem pendampingan yang berkelanjutan.

Menuju Masyarakat Cerdas, Sehat, dan Manusiawi

Selametan kelulusan magister tersebut menjadi gambaran kecil dari visi besar Ma'had Al Zaytun dalam membangun masyarakat yang Cerdas, Sehat, dan Manusiawi.

Kecerdasan diwujudkan melalui kesempatan belajar hingga jenjang pendidikan tinggi. Kesehatan sosial dibangun melalui hubungan guru dan murid yang dilandasi kepedulian, bukan relasi transaksional. Sementara nilai kemanusiaan hadir melalui budaya saling mendoakan, berbagi pengalaman, dan menginspirasi sesama alumni untuk terus meningkatkan kapasitas diri.

Melalui momentum itu, PKBM Al Zaytun kembali menegaskan bahwa pendidikan tertinggi bukan sekadar meraih gelar, tetapi membentuk manusia yang rendah hati, berilmu, dan siap mengabdikan pengetahuannya bagi masyarakat. Di era yang serba instan, pendekatan ini menjadi pengingat bahwa proses pendidikan yang berakar pada adab akan melahirkan lulusan yang matang secara intelektual, spiritual, dan sosial. (Saheel untuk Indonesia)