INDRAMAYU, Lognews.co.id – PKBM Al Zaytun kembali menunjukkan bahwa pendidikan nonformal mampu melahirkan sumber daya manusia yang terus berkembang hingga jenjang pendidikan tinggi. Sejumlah alumni berhasil menyelesaikan pendidikan Magister (S2) di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sekaligus membawa pesan bahwa belajar tidak mengenal batas usia maupun latar belakang.
Momentum kelulusan para alumni tersebut dirayakan dalam suasana penuh rasa syukur di kediaman Direktur PKBM Al Zaytun, Dr. Ali Aminulloh. Perayaan yang berlangsung sederhana itu menjadi cerminan nilai yang selama ini ditanamkan di lingkungan Ma'had Al Zaytun, yakni adab sebelum ilmu. Gelar akademik dipandang bukan sebagai simbol prestise, melainkan amanah untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Salah satu alumni yang membagikan kisah perjalanannya adalah Kurnoto, S.E., M.Pd., putra asli Indramayu yang berhasil menyelesaikan Program Magister Pendidikan Nonformal melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) di Universitas Negeri Yogyakarta.
Perjalanan dari Haurgeulis hingga Menjadi Magister UNY
Kurnoto mengisahkan bahwa perjalanan pendidikannya dimulai dari kampung halamannya di Haurgeulis, Kabupaten Indramayu. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Haurgeulis, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Teknik Menengah Negeri Cirebon, kemudian menempuh pendidikan sarjana di Universitas Terbuka Bandung.
Kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister datang pada tahun 2025 ketika ia diterima di Universitas Negeri Yogyakarta melalui Program RPL Pendidikan Nonformal.
"Alhamdulillah pada tahun 2025 saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan S2 Magister di Universitas Negeri Yogyakarta. Tepat pada 22 Agustus 2026 saya menyelesaikan studi S2 di Universitas Negeri Yogyakarta," ujar Kurnoto.
Baginya, kelulusan tersebut menjadi bukti bahwa proses belajar tidak berhenti setelah memperoleh pekerjaan atau menyelesaikan pendidikan sarjana. Pendidikan, menurutnya, merupakan perjalanan yang terus berlanjut sepanjang hayat.
Terinspirasi Visi Syaykh Al Zaytun
Kurnoto mengaku keberhasilannya menyelesaikan studi magister tidak lepas dari dukungan keluarga, sahabat, dan lingkungan pendidikan di Ma'had Al Zaytun. Sebagai wali santri Al Zaytun, ia mengaku mendapatkan inspirasi kuat dari pemikiran Yang Amat Berhormat Syaykh Al Zaytun Dr. (C) Abdussalam Rasyidi Panji Gumilang, M.P.,
Menurutnya, Syaykh Al Zaytun menanamkan pandangan bahwa pendidikan merupakan modal dasar kehidupan manusia untuk terus berkembang dan memberikan manfaat bagi sesama.
"Saya terinspirasi oleh Yang Amat Berhormat Syaykh Al Zaytun bahwa pendidikan adalah modal dasar kehidupan manusia agar terus berkelanjutan, terus berkembang, menjadi pribadi yang lebih baik, sukses, dan bermanfaat bagi banyak orang," tuturnya.
Inspirasi tersebut menjadi alasan utama dirinya terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister.
Siap Melanjutkan ke Program Doktoral
Tidak berhenti pada gelar Magister, Kurnoto menyatakan telah menyiapkan langkah berikutnya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral.
"Inspirasi itulah yang terus mendorong saya untuk melanjutkan proses pendidikan. Saat ini saya telah menyelesaikan S2 dan siap melanjutkan ke program studi doktoral," katanya.
Semangat tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi alumni PKBM Al Zaytun maupun peserta didik PKBM di berbagai daerah agar tidak ragu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Adab Sebelum Ilmu Menjadi Fondasi Pendidikan
Keberhasilan para lulusan magister ini tidak dilepaskan dari filosofi pendidikan yang diterapkan PKBM Al Zaytun, yakni adab sebelum ilmu. Pendekatan tersebut mengajarkan bahwa pencapaian akademik harus dibarengi dengan pembentukan karakter, kerendahan hati, dan tanggung jawab sosial.
Dalam praktiknya, keberhasilan pendidikan dibangun melalui dua pilar utama.
Pertama, Syaykh Al Zaytun sebagai kompas moral, yang memberikan arah bahwa ilmu pengetahuan harus bermuara pada nilai kemanusiaan, toleransi, dan perdamaian.
Kedua, Dr. Ali Aminulloh sebagai fasilitator transformasional, yang secara konsisten memberikan pendampingan akademik dan motivasi kepada para alumni PKBM agar berani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi melalui pendekatan pendidikan orang dewasa atau andragogi.
Model pendampingan ini membuktikan bahwa keterbatasan usia, latar belakang pendidikan, maupun kondisi sosial ekonomi bukan menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi apabila didukung sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Menuju Masyarakat Cerdas, Sehat, dan Manusiawi
Kelulusan para alumni magister menjadi bagian dari visi besar Ma'had Al Zaytun dalam membangun masyarakat yang Cerdas, Sehat, dan Manusiawi.
Kecerdasan diwujudkan melalui kesempatan belajar hingga tingkat magister bahkan doktoral. Kesehatan sosial dibangun melalui hubungan guru dan murid yang harmonis serta budaya saling mendukung. Sementara nilai kemanusiaan diwujudkan melalui semangat berbagi ilmu dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi PKBM Al Zaytun, pendidikan tertinggi bukan sekadar memperoleh gelar, tetapi membentuk manusia yang siap mengabdi. Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, prinsip adab sebelum ilmu terus menjadi fondasi agar lulusan tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial, sehingga mampu memberikan manfaat bagi lingkungan dan bangsa. (Saheel untuk Indonesia)



