lognews.co.id, Indramayu – Hutan Mangrove Karangsong menjadi salah satu destinasi wisata alam unggulan di pesisir Kabupaten Indramayu yang menawarkan kesejukan udara, panorama alami, serta nilai edukasi lingkungan. Kawasan ini menjadi pilihan wisata bagi masyarakat yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus mengenal ekosistem mangrove secara langsung. (24/1/26)
Hutan Mangrove Karangsong memiliki luas sekitar 20–25 hektare dan terletak di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu. Pengunjung dapat menyusuri kawasan hutan bakau melalui jembatan kayu yang membelah rimbunnya vegetasi mangrove, serta menikmati perjalanan mengelilingi kawasan menggunakan perahu untuk menjelajahi berbagai spot wisata yang unik dan menarik.
Ekowisata Mangrove Karangsong tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan penelitian lingkungan. Kawasan ini menjadi contoh nyata peran mangrove sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi, gelombang pasang, dan erosi pantai. Selain itu, hutan mangrove juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan menjadi habitat berbagai biota laut.
Secara geografis, wilayah pesisir Indramayu mencakup sekitar 16,5 persen dari total luas daerah. Potensi pesisir yang besar menjadikan kawasan Karangsong sebagai bagian penting dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi berbasis lingkungan.
Secara historis, kawasan Karangsong dahulu dikenal sebagai Desa Pabean Udik sebelum mengalami pemekaran pada tahun 1982. Nama Karangsong berasal dari gabungan kata “Karang” yang berarti tanah dan “Song” yang berarti tak berpenghuni, menggambarkan kondisi wilayah tersebut pada masa lampau.
Pantai Karangsong sejak lama menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir, khususnya nelayan. Selain sektor perikanan, wilayah pesisir Indramayu juga memiliki potensi ekonomi lain, seperti minyak dan gas bumi. Tradisi budaya masyarakat pesisir, seperti upacara nadran, masih dilestarikan sebagai bentuk syukur atas hasil laut sekaligus warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Pada era 1980–1990-an, kawasan ini sempat menjadi pusat budidaya udang. Namun, abrasi pantai menyebabkan banyak tambak tergerus air laut. Kondisi tersebut mendorong masyarakat untuk menanam mangrove sebagai upaya menahan abrasi. Inisiatif warga kemudian mendapat dukungan berbagai pihak melalui program rehabilitasi dan pengembangan mangrove, sehingga kawasan ini berkembang menjadi destinasi wisata dan edukasi lingkungan.
Saat ini, Ekowisata Mangrove Karangsong tidak hanya menjadi ruang rekreasi, tetapi juga memiliki potensi sebagai ecomuseum yang mengintegrasikan nilai alam, budaya, dan sejarah pesisir. Pengembangan kawasan ini diharapkan mampu memperkuat kesadaran lingkungan sekaligus melestarikan warisan budaya masyarakat pesisir Indramayu secara berkelanjutan. (Amri-untuk Indonesia)


