Friday, 30 January 2026

Kebun Teh Kayu Aro, Perkebunan Teh Tertua Indonesia yang Mendunia

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Kerinci – Kebun Teh Kayu Aro di Kabupaten Kerinci, Jambi, dikenal sebagai salah satu perkebunan teh tertua di Indonesia. Dibangun pada awal abad ke-20, perkebunan ini menghasilkan teh hitam ortodoks premium yang diekspor ke Eropa dan kini berkembang sebagai destinasi agrowisata unggulan.

Perkebunan ini dibuka oleh perusahaan Belanda NV HVA pada sekitar 1920, dengan penanaman teh pertama dimulai pada 1923 dan pembangunan pabrik pengolahan pada 1925. Lokasinya yang berada di lereng Gunung Kerinci pada ketinggian sekitar 1.400–1.600 meter di atas permukaan laut, dengan tanah vulkanik subur dan iklim sejuk-lembap, menjadikan Kayu Aro ideal untuk produksi teh berkualitas tinggi.

Pada masa kolonial, hasil teh Kayu Aro diarahkan untuk memenuhi pasar Eropa. Setelah Indonesia merdeka, perkebunan ini dinasionalisasi pada 1959 dan dikelola oleh BUMN perkebunan. Kini, kebun teh Kerinci berada di bawah manajemen PTPN IV Regional 4 setelah restrukturisasi BUMN perkebunan.

Memasuki abad ke-21, Kebun Teh Kayu Aro tetap menjadi ikon industri teh nasional. Dengan usia lebih dari satu abad, perkebunan ini bukan hanya saksi sejarah industri teh Nusantara, tetapi juga simbol keberlanjutan pengelolaan perkebunan dari era kolonial hingga modern.

Teh Premium Favorit Pasar Global

Teh hitam Kayu Aro dikenal memiliki warna oranye jernih, aroma khas, dan rasa pekat yang tahan lama. Sejak era kolonial, produk teh ini menjadi favorit pasar Eropa, bahkan disebut-sebut dikonsumsi kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan di Belanda serta Inggris.

Hingga kini, pangsa ekspor teh Kerinci mencakup Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Produk kualitas tertinggi sebagian besar diekspor, sehingga relatif sulit ditemukan di pasar domestik.

Perkebunan Teh Tertinggi Kedua di Dunia

Kebun Teh Kayu Aro memiliki luas areal hampir 3.000 hektare, dengan sekitar 2.100–2.600 hektare ditanami teh. Secara topografi, kebun ini berada di ketinggian sekitar 1.600 meter, menjadikannya salah satu perkebunan teh tertinggi di dunia setelah Darjeeling, India.

Setiap hari, kebun ini menghasilkan rata-rata puluhan ton pucuk daun teh yang diolah di pabrik peninggalan kolonial yang masih beroperasi hingga kini. Produksi teh kering mencapai sekitar 5.000 ton per tahun, menjadikan Kayu Aro sebagai salah satu produsen teh hitam terbesar di Indonesia.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Selama lebih dari satu abad, Kebun Teh Kayu Aro menjadi penggerak ekonomi lokal. Ratusan warga bekerja sebagai pemetik, pekerja pabrik, dan tenaga pendukung lainnya. Kehadiran perkebunan juga mendorong tumbuhnya infrastruktur, fasilitas sosial, serta aktivitas ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Selain itu, potensi agrowisata mulai dikembangkan secara serius. Hamparan kebun teh, bangunan kolonial, museum teh, serta panorama Gunung Kerinci menjadikan Kayu Aro sebagai destinasi wisata yang menggabungkan sejarah, alam, dan budaya.

Warisan Sejarah dan Ikon Nasional

Kebun Teh Kayu Aro bukan sekadar perkebunan, melainkan warisan sejarah dan aset nasional. Kombinasi faktor alam, metode produksi tradisional, modernisasi pengelolaan, serta keberlanjutan lingkungan menjadikan teh Kerinci sebagai salah satu produk unggulan Indonesia di pasar global.

Lebih dari satu abad setelah didirikan, Kebun Teh Kayu Aro tetap hidup sebagai simbol kejayaan industri teh Nusantara sekaligus destinasi wisata yang terus memberi manfaat bagi masyarakat dan perekonomian daerah.

(Amri-untuk Indonesia)