Oleh: Ali Aminuloh
lognews.co.id, Indonesia – Bagi sebagian orang, ini mungkin terasa "ribet". Sepotong plastik keras yang memerangkap panas matahari, membuat keringat bercucuran di dahi, dan terasa berat di leher. Namun, bagi mereka yang memahami esensi kehidupan, beban beberapa ratus gram itu jauh lebih ringan ketimbang menanggung beban penyesalan seumur hidup akibat sebuah kecerobohan.
Di lokasi pembangunan Politeknik Tanah Air, Al Zaytun, Senin (12/1), narasi tentang "ketidaknyamanan" itu dipatahkan oleh sebuah kesadaran kolektif. Empat punggawa pengawas, Ali Aminulloh, Rizal Eka Sumadyo, Agus Setyawan, dan Moh. Imamudinissalam, mereka tampil tegak dengan Helm Oranye. Mereka bukan sedang pamer jabatan, melainkan sedang menjalankan mandat kemanusiaan tepat di hari peringatan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Nasional.
Sejarah: Bukan Sekadar Seremoni
Tanggal 12 Januari dipilih bukan tanpa alasan. Gema K3 di Indonesia bermula dari terbitnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, yang kemudian diperkuat oleh Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden No. 22 Tahun 1993. Sejarah ini menegaskan bahwa negara hadir untuk memastikan setiap tetes keringat pekerja tidak boleh dibayar dengan air mata keluarga di rumah.

Helm Oranye dan Maqashid Syariah: Menjaga Mahkota Kehidupan
Secara spiritual dan hukum Islam, tindakan Tim Pengawas merupakan pengejawantahan dari konsep Maqashid Syariah, khususnya Hifdzun Nafs (Menjaga Jiwa).
Kepala adalah "mahkota" manusia; tempat bersemayamnya akal dan panca indra yang menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Mengenakan helm adalah upaya sadar untuk melindungi mahkota tersebut. Dalam kaidah ushul fiqh, menjaga keselamatan nyawa adalah kewajiban yang mendahului segalanya. Di sini, Safety First bukan sekadar slogan proyek, melainkan bentuk ibadah nyata dalam menjaga amanah Tuhan berupa nyawa.
Implementasi Trilogi Kesadaran
Kepatuhan para pengawas di Al Zaytun terhadap SOP penggunaan helm oranye ini memancarkan tiga dimensi kesadaran yang mendalam:
1. Kesadaran Filosofis (Hakekat Perlindungan):
Memakai helm berarti mengakui keterbatasan manusia di hadapan risiko. Secara filosofis, ini adalah bentuk kerendahan hati untuk tunduk pada aturan demi tujuan yang lebih besar: tuntasnya pembangunan Politeknik Tanah Air tanpa noda kecelakaan.
2. Kesadaran Ekologis (Harmoni Lingkungan Kerja):
Lingkungan konstruksi adalah ekosistem yang keras. Kedisiplinan pengawas menggunakan alat pelindung diri (APD) menciptakan "iklim" yang sehat. Jika pengawasnya tertib, maka seluruh ekosistem di bawahnya akan mengikuti ritme keselamatan yang sama.
3. Kesadaran Sosial (Keteladanan Publik):
Ali, Rizal, Agus, dan Imam memahami bahwa mereka adalah role model. Secara sosial, ketegasan mereka memakai helm oranye adalah pesan tanpa kata kepada para pekerja lain bahwa "Nyawa Anda berharga bagi kami". Mereka membangun budaya kerja yang saling menjaga, bukan saling abai.
Epilog: Mencegah adalah Kemuliaan
Di tengah hiruk pikuk alat berat, helm oranye itu berkilau sebagai simbol bahwa di Al Zaytun, pembangunan raga (gedung) harus berjalan beriringan dengan penjagaan jiwa. Peringatan K3 Nasional tahun ini menjadi momentum penting bahwa kenyamanan sesaat, dengan melepas helm, tidak akan pernah sebanding dengan keselamatan abadi.
Sebab, Politeknik Tanah Air sedang dibangun untuk mencetak generasi masa depan. Dan pendidikan masa depan itu harus dimulai dari tangan-tangan yang hari ini selamat karena taat pada aturan. (Amri - untuk Indonesia)
(Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah)


