Thursday, 29 January 2026

Sinkronisasi Dunia Pendidikan dan Dunia Kerja: Amanat Pagi di Lahan Pembangunan Politeknik Tanah AIR

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.

lognews.co.id, Indonesia - Apel pagi bersama karyawan pada hari Selasa, 13 Januari 2026, yang dipimpin oleh Kepala Pengawas Pembangunan Politeknik Tanah AIR, Ustadz Syaifudin, S.I.P., M.Pd., bukan sekadar rutinitas kedisiplinan kerja, melainkan ruang refleksi penting tentang bagaimana dunia pendidikan harus bersenyawa dengan dunia kerja. Bertempat di area pembangunan yang masih basah oleh tanah dan keringat, amanat tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diuji dan dimatangkan di medan kerja nyata.

Dalam amanatnya, ditegaskan bahwa kompetensi pendidikan yang dirumuskan oleh Taksonomi Bloom—yakni kognitif, afektif, dan psikomotorik—merupakan satu kesatuan utuh yang juga menjadi syarat mutlak dalam dunia kerja. Kognitif melahirkan pengetahuan dan pemahaman, psikomotorik melahirkan keterampilan dan kecekatan, namun afektiflah yang menentukan kualitas manusia di balik keterampilan tersebut. Dunia kerja hari ini tidak hanya mencari orang pintar dan terampil, tetapi manusia yang berkarakter, dapat dipercaya, dan mampu bekerja bersama orang lain.

Penekanan pada kompetensi afektif menjadi sangat penting. Dalam perspektif Islam, aspek ini selaras dengan empat akhlak utama Rasulullah ﷺ: shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (komunikatif), dan fathanah (cerdas dan bijaksana). Keempat akhlak ini bukan hanya nilai religius, melainkan fondasi etika profesional. Seorang pekerja yang jujur akan menjaga kualitas kerja, yang amanah akan bertanggung jawab atas tugasnya, yang tabligh mampu berkomunikasi dan bekerja dalam tim, dan yang fathanah mampu mengambil keputusan tepat di tengah tantangan. Tanpa akhlak, keterampilan justru dapat menjadi alat kerusakan.

Amanat tersebut juga menegaskan makna strategis pembangunan Politeknik Tanah AIR sebagai simbol arah pendidikan masa depan. Pendidikan vokasi bukan pendidikan kelas dua, melainkan jawaban konkret atas kebutuhan dunia kerja. Realitas menunjukkan bahwa lapangan kerja jauh lebih membutuhkan tenaga terampil, teknisi, operator, pengelola lapangan, dan inovator terapan dibandingkan lulusan akademik murni yang tidak siap kerja. Politeknik hadir untuk menjembatani ilmu dengan praktik, teori dengan realitas, dan pendidikan dengan produktivitas.

Gagasan besar Syaykh Al Zaytun menegaskan arah ini dengan jelas: 90 persen pendidikan Indonesia harus berbasis vokasi (politeknik) dan 10 persen berbasis akademik (universitas). Ini bukan penolakan terhadap ilmu pengetahuan, melainkan penataan ulang peradaban pendidikan agar sejalan dengan kebutuhan bangsa. Negara yang ingin maju tidak cukup mencetak pemikir, tetapi harus mencetak pelaku, tidak hanya perancang kebijakan, tetapi juga pelaksana pembangunan.

Dengan demikian, apel pagi itu menjadi simbol sinkronisasi: pendidikan tidak berjalan sendiri, dunia kerja tidak bergerak tanpa nilai. Keduanya harus bertemu dalam satu poros: manusia berilmu, berakhlak, dan berketerampilan. Dari tanah yang sedang dibangun inilah, Politeknik Tanah AIR diharapkan tumbuh sebagai ruang lahirnya generasi pekerja yang tidak hanya mampu bekerja, tetapi juga memuliakan kerja sebagai ibadah dan kontribusi peradaban.(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah