Thursday, 29 January 2026

Matinya Kesabaran di Ruang Kelas: Antara Viralitas "Kebodohan" dan Sentuhan Magis Syafi’i

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Ali Aminulloh 

lognews.co.id - Indonesia - Layar ponsel kita belakangan ini dipenuhi parade komedi tragis. Sebuah video viral memperlihatkan pelajar berseragam sekolah, ditanya 7 x 8 dan mereka hanya bisa nyengir tanpa dosa. Ditanya butir kedua Pancasila, jawabannya melantur ke mana-mana. Netizen tertawa, lalu menghujat. "Produk gagal!" tulis satu akun. "Gurunya ngapain saja?" timpal yang lain.

Di ruang guru, suasana memanas. Guru merasa disudutkan. Mereka membela diri: "Zaman sekarang murid manja, sistem membelenggu, aturan melindungi kenakalan, dan orang tua terlalu ikut campur." Kita terjebak dalam lingkaran setan saling tuding. Netizen menyalahkan sekolah, sekolah menyalahkan aturan, dan semua orang menyalahkan murid.

Namun, di tengah hiruk-pikuk "saling menyalahkan" ini, adakah yang berani berkaca? Jangan-jangan, yang sedang krisis bukanlah kecerdasan murid kita, melainkan kesabaran dan metodologi kita sebagai pendidik.

Mitos "Anak Bodoh" dan Ironi Gasing

Kita sering lupa bahwa "kebodohan" seringkali hanyalah label bagi mereka yang belum menemukan kunci pintunya. Ingatlah Thomas Alva Edison. Sekolah memulangkannya karena dianggap "terlalu bodoh untuk belajar." Namun, di tangan ibunya yang menolak percaya pada label itu, ia menjadi manusia yang menerangi dunia.

Atau lihatlah fenomena Prof. Yohanes Surya. Ia mendatangi pedalaman Papua, menjemput anak-anak yang oleh sistem dianggap "paling terbelakang", bahkan ada yang tidak bisa berhitung sama sekali. Dalam hitungan bulan, dengan metode Gasing (Gampang, Asyik, Menyenangkan) dan keyakinan mutlak bahwa "tidak ada anak bodoh", anak-anak itu menyabet medali Olimpiade Fisika.

Ini membuktikan satu hal: Saat murid gagal paham, yang pertama harus dievaluasi bukan kapasitas otaknya, melainkan presisi cara mengajarnya.

Menampar Ego dengan Keteladanan Syafi’i

Jika kita merasa sudah cukup sabar mengajar, mari kita "berkaca" pada Imam Syafi’i. Beliau memiliki murid bernama Ar-Rabi’ bin Sulaiman. Rabi’ adalah personifikasi dari apa yang kita sebut slow learner hari ini.

Dikisahkan dalam Manaqib Imam Syafii karya Imam Baihaqi, sang Imam menerangkan satu materi, Rabi’ tidak paham. Beliau mengulanginya. Masih gelap. Beliau mengulanginya lagi. Terus begitu hingga 39 kali! Bayangkan, guru mana di zaman TikTok ini yang tidak akan meledak pada pengulangan kesepuluh? Namun Syafi’i tidak memaki. Ia justru mengajak Rabi’ ke rumahnya untuk belajar privat. Hasilnya tetap nihil. Apakah Syafi’i menyerah? Tidak. Beliau justru berkata dengan penuh kasih:

“Muridku, sebatas inilah kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham juga, maka berdoalah kepada Allah... Andai ilmu ini sesendok makanan, pastilah aku akan menyuapkannya kepadamu.”

Kalimat ini adalah tamparan bagi kita. Syafi’i tidak menyalahkan "otak lambat" Rabi’, melainkan merasa "kemampuannya mengajar" yang sudah mentok, lalu ia menyerahkan sisanya pada kekuatan doa. Hasilnya? Rabi’ bermetamorfosis menjadi ulama besar Madzhab Syafi’i. Tanpa kesabaran tanpa batas itu, sejarah Islam akan kehilangan satu permata besarnya.

Refleksi Trilogi Kesadaran

Mengapa banyak guru zaman sekarang begitu mudah menyerah? Mungkin karena kita kehilangan Trilogi Kesadaran seperti yang sering ditekankan oleh Syaykh AS Panji Gumilang:

- Kesadaran Filosofis: Kita sering lupa hakikat manusia. Jika kita percaya manusia adalah sebaik-baik ciptaan, maka label "bodoh" adalah penghinaan terhadap Penciptanya. Guru harus sadar bahwa setiap anak adalah benih unggul; masalahnya hanya pada kecocokan tanah dan cara menyiramnya.

- Kesadaran Ekologis: Pendidikan adalah ekosistem. Jika murid tidak tumbuh, perbaiki lingkungannya, bukan salahkan tanamannya. Apakah kelas kita sudah menjadi lingkungan yang aman untuk salah, atau justru menjadi panggung penghakiman?

- Kesadaran Sosial: Guru bukan sekadar buruh kurikulum. Kita adalah arsitek peradaban. Menelantarkan satu murid karena ia "lambat" adalah tindakan antisosial yang akan menciptakan beban masa depan bagi bangsa.

1000295401

Epilog: Kembali ke Hati

 

Membandingkan murid zaman sekarang dengan zaman kita dulu adalah kesalahan fatal. Tantangan mereka berbeda, distraksi mereka luar biasa. Namun, satu yang tidak pernah berubah sejak zaman Syafi’i hingga zaman AI: Kebutuhan seorang murid akan kasih sayang dan kesabaran gurunya.

Berhenti menyalahkan sistem. Berhenti menyalahkan video viral. Mari kita tanya pada diri sendiri di depan cermin: "Sudahkah aku mendoakan muridku yang paling sulit dipahami itu, atau aku hanya sibuk menggerutui kehadirannya di kelasku?"

Karena sejatinya, tidak ada murid yang bodoh. Yang ada hanyalah guru yang belum selesai dengan egonya sendiri. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah