Oleh: Ali Aminulloh
lognews.co.id - Pukul tujuh pagi, di lokasi pembangunan Politeknik Tanah AIR, yang terdengar pertama bukan denting besi atau deru mesin. Yang mengawali hari justru doa. Basmalah dilafalkan, lagu kebangsaan dikumandangkan tiga stanza, nilai-nilai diikrarkan. Di saat sebagian proyek mengejar waktu dan angka, di sini pembangunan dimulai dengan kesadaran. Pertanyaannya mengemuka: jika bangsa ini ingin maju, apa yang seharusnya lebih dulu dibangun: gedungnya atau jiwanya?
Di lingkungan Al Zaytun, pembangunan Politeknik Tanah Air menghadirkan sebuah praktik yang jarang ditemukan di proyek pembangunan nasional: ritual kerja yang menyatukan spiritualitas, nasionalisme, dan disiplin profesional. Setiap pagi, sebelum satu alat berat bergerak, seluruh petugas mengikuti upacara rutin, bukan seremoni kosong, melainkan fondasi nilai.

Upacara dimulai tepat pukul 07.00 WIB. Dipimpin koordinator keamanan proyek, prosesi berjalan tertib. Komandan upacara membuka dengan basmalah, dilanjutkan penghormatan kepada pimpinan apel dari unsur pengawas harian. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan lengkap tiga stanza, menegaskan bahwa pembangunan ini berdiri di atas spirit kebangsaan, bukan sekadar kepentingan sektoral.
Doa Asmaul Husna dan Asmaul Nabi dibacakan, lalu Sapta Janji Dharma Bakti diikrarkan bersama. Setelah itu, rencana kerja dan pembagian tugas disampaikan oleh komandan lapangan. Spirit dan sistem berjalan beriringan. Di sinilah kerja menemukan martabatnya: terukur secara teknis, namun hidup secara etis.
Pesan kunci apel Senin, 19 Januari 2026, disampaikan oleh Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E. Ia menegaskan bahwa pembangunan Politeknik bukan semata mendirikan bangunan, melainkan membangun peradaban. Peradaban, katanya, tidak lahir dari kekuatan fisik, melainkan dari kekuatan jiwa manusia yang mengerjakannya.
Ia mengingatkan satu prinsip mendasar: perubahan sosial tidak bermula dari luar, melainkan dari dalam diri manusia. Jiwa, nafs adalah motor perubahan. Karena itu, yang harus lebih dulu diperkuat bukan teknologi, tetapi etos batin para pelaku pembangunan.
Model yang dijalankan di Al Zaytun menunjukkan bahwa spiritualitas kerja bukan penghambat produktivitas, justru bahan bakar moral. Spirit ilahi ditanamkan melalui basmalah dan Asmaul Husna: nilai kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Spirit kenabian hadir melalui Asmaul Nabi, meneladani akhlak dan keteladanan Rasul. Spirit kebangsaan diteguhkan lewat lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza. Spirit nilai lokal kampus dihidupkan melalui Sapta Janji Dharma Bakti.
Keempat spirit ini menyatu dan membentuk satu keyakinan kolektif: bekerja adalah ibadah. Sebagaimana doa iftitah shalat, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamin: kerja, hidup, dan pengabdian diarahkan untuk nilai yang lebih besar dari sekadar target proyek.

(Mulai tanam lagi SP 12 ke 5)
Dalam konteks Indonesia hari ini ketika, pembangunan sering diukur hanya dengan pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur fisik, praktik ini menghadirkan kritik sunyi sekaligus tawaran jalan. Bahwa pembangunan tanpa jiwa berisiko melahirkan kemajuan yang hampa. Bahwa krisis etika, korupsi, dan kerusakan sosial bukan semata soal sistem, tetapi soal ruh kerja yang tercerabut dari nilai.

Setiap tetes keringat para petugas, setiap spun pile yang ditancapkan, bukan hanya menopang bangunan Politeknik Tanah Air. Ia menanam kesadaran. Menumbuhkan kemanusiaan. Mengingatkan bahwa bangsa ini tidak hanya membutuhkan insinyur dan teknisi yang cakap, tetapi manusia yang bekerja dengan hati.
Kemanusiaan tidak lahir dari pidato panjang atau jargon pembangunan. Ia tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang konsisten, dari kerja yang jujur dan bernilai. Dari sanalah peradaban dibangun: pelan, senyap, namun berakar kuat.
Mungkin inilah pesan penting bagi Indonesia: membangun negeri bukan sekadar soal apa yang kita dirikan, tetapi siapa yang kita bentuk dalam prosesnya.
(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


