Khotbah Jumat oleh: Nezmal Graceyullah Bin Muhamad Husni Kelas Xii Mipa 03
lognews.co.id - Ketahanan pangan adalah isu krusial yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Upaya memenuhi kebutuhan pangan bukan sekadar masalah teknis atau ekonomi, melainkan bagian dari manifestasi iman. Allah SWT telah menganugerahi negeri kita dengan tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah. Nikmat ini seharusnya kita kelola untuk menciptakan kemandirian pangan, di mana salah satu pilar utamanya adalah sektor peternakan.
Dunia peternakan dalam kacamata Islam memiliki posisi yang sangat mulia. Kita diperintahkan untuk mengambil manfaat dari hewan ternak, baik melalui dagingnya sebagai sumber gizi, susunya untuk kesehatan, maupun tenaganya untuk membantu pekerjaan manusia. Hal ini menegaskan bahwa keberadaan hewan ternak adalah penopang kehidupan manusia. Oleh karena itu, peternakan yang dikelola dengan benar adalah wujud nyata dari upaya menjaga kelangsungan hidup generasi mendatang. Untuk itulah, pada kesempatan Jum’at kali ini, Khotib membawakan khutbah yang berjudul: Ketahanan Pangan sebagai Wujud Iman dan Kepedulian Sosial
Satu di antara wujud ketahanan pangan adalah dengan mengelola kegiatan peternakan. Membangun ketahanan pangan melalui peternakan menuntut kita untuk memiliki kepedulian ekologis. Generasi muda yang beriman tidak hanya memikirkan keuntungan semata, tetapi juga memiliki kesadaran akan kesejahteraan makhluk hidup dan kelestarian lingkungan sekitarnya. Setiap potensi yang dimiliki, jika dikelola dengan bijak, dapat memberi manfaat berkelanjutan.
Kotoran ternak yang diolah menjadi pupuk organik mampu menyuburkan tanah dan menjaga keseimbangan alam, menciptakan siklus yang harmonis antara manusia, alam, dan kehidupan.
Kesadaran inilah yang perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tidak hanya menjadi pencari hasil, tetapi juga penjaga keberlangsungan masa depan.
Dalam praktiknya, prinsip ini melahirkan sebuah sistem yang disebut pertanian terpadu Integrasi Tanaman-Ternak. Melalui sistem ini, limbah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang berharga untuk memulihkan struktur tanah yang jenuh akibat bahan kimia. Dengan memuliakan alam, seorang peternak sejatinya sedang menjaga rantai kehidupan agar tetap seimbang, sehingga hasil pangan yang dihasilkan menjadi lebih sehat dan membawa keberkahan bagi kita yang mengonsumsinya.
Sebaliknya, pengabaian terhadap etika pengelolaan alam, seperti limbah yang merusak sumber air atau eksploitasi lahan yang berlebihan ialah bentuk kerusakan yang dilarang agama. Kerusakan alam bukanlah sekadar persoalan lingkungan, melainkan persoalan moral dan spiritual.
Oleh karena itu, keberhasilan suatu aktivitas peternakan tidak hanya diukur dari hasil produksinya, tetapi dari kontribusinya dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung ketahanan pangan secara berkelanjutan. Pemahaman ini penting ditanamkan pada generasi muda agar mereka mampu membangun sistem pangan yang tidak hanya produktif, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Dalam Quran Surat Al-Baqarah ayat 60 disebutkan:
كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Artinya: “Makan dan minumlah dari rezeki Allah, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.”
Ayat ini memerintahkan kita untuk menjadi mushlihin yaitu orang orang yang saleh, atau memperbaiki bukan merusak. Dalam konteks pangan, perbaikan berarti kita harus aktif melakukan inovasi dalam dunia pertanian dan peternakan agar kebutuhan pangan umat tercukupi tanpa merusak tatanan bumi yang sudah Allah ciptakan dengan seimbang.
Al-Zaytun dapat dijadikan sebagai contoh strategis dalam menjaga ketahanan pangan melalui penerapan sistem peternakan yang terkelola dengan baik dan berkelanjutan. Ketersediaan ternak seperti sapi, kambing, dan unggas dalam jumlah yang memadai tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan civitas internal, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar. Pola pengelolaan peternakan yang terintegrasi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui keseimbangan antara produktivitas, pengelolaan sumber daya, dan keberlanjutan lingkungan.
Ketahanan pangan yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat. Kurangnya perhatian terhadap kedaulatan pangan dan kualitas gizi hewani dapat menyebabkan kemerosotan gizi bagi masyarakat. Oleh karena itu, kepedulian kita terhadap sektor peternakan adalah bentuk kasih sayang kita kepada generasi yang akan datang.
Kepedulian terhadap peternakan dan ketahanan pangan merupakan wujud nyata dari iman dan tanggung jawab kita sebagai generasi penerus. Melalui pengelolaan peternakan yang baik dan berkelanjutan, pangan dapat terjaga dan memberi manfaat bagi banyak pihak.
Marilah kita merenungi peran kita: apakah telah menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan, atau justru abai terhadapnya. Kesadaran inilah yang menuntun kita untuk mensyukuri nikmat pangan melalui sikap peduli dan bertanggung jawab.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita hidayah, kekuatan, dan keistiqamahan untuk menjalankan amanah sebagai hamba-Nya yang peduli terhadap sesama dan lingkungan, demi mewujudkan kehidupan yang berkah dan berkelanjutan. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



