Thursday, 12 February 2026

Dari Apel Pagi Menuju Mahakarya Peradaban: Karakter sebagai Fondasi Pembangunan Politeknik Tanah AIR

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.

lognews.co.id, Indramayu - Arahan Ketua Pengawas Pembangunan Politeknik Tanah AIR, Ustadz Syaifudin, S.I.P., M.Pd. pada apel pagi Selasa, 10 Februari 2026 menegaskan bahwa darma bakti yang sedang dijalani bukanlah kerja rutin, melainkan sebuah proyek peradaban. Pembangunan Politeknik Tanah AIR diproyeksikan sebagai mahakarya karya nyata yang kelak “berbicara” kepada dunia tentang bagaimana pendidikan dan pembangunan seharusnya dilaksanakan: berakar pada nilai, berorientasi masa depan, dan bermakna bagi kemanusiaan. Karena itu, pembangunan fisik tidak pernah berdiri sendiri, ia harus ditopang oleh pembangunan karakter manusia yang mengerjakannya.

1000311511

(Tugas hari Selasa, diawali apel pagi jam 07:00) 

Dalam konteks itulah, ditekankan pentingnya karakter sebagai pembeda antara generasi unggul dan masyarakat kebanyakan. Dari 18 karakter utama yang menjadi landasan pembinaan, empat karakter fundamental diprioritaskan sebagai fondasi awal. Pertama, religius, yakni kesadaran batin bahwa setiap tindakan berada dalam pengawasan Allah, yang melahirkan jiwa pantang menyerah dan tangguh dalam menghadapi tantangan.

Kedua, jujur, sebagai inti integritas yang semakin langka namun justru menjadi kunci membangun bangsa dan negara menuju keadilan sosial. Kejujuran bukan sekadar sikap personal, tetapi syarat mutlak tegaknya peradaban.

Ketiga, toleransi, yang seharusnya telah mendarah daging dalam lingkungan Al Zaytun sebagai Pusat Pendidikan, Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian sebuah nilai yang sulit diwujudkan di banyak tempat, namun menjadi keniscayaan dalam masyarakat majemuk. Keempat, disiplin, karakter yang mengantarkan seseorang dan sebuah institusi menuju kesuksesan yang berkelanjutan.

1000311499

Keempat karakter tersebut dirangkum secara simbolik sebagai “Relawan Tanggap Darurat” sebuah metafora yang kuat. Seperti relawan bencana yang selalu siap, sigap, dan tangguh di situasi darurat, insan pendidikan dan pembangunan dituntut memiliki kesiapsiagaan moral dan mental dalam menghadapi krisis zaman. Inilah ciri pembeda: bukan hanya cakap bekerja, tetapi siap memikul tanggung jawab peradaban. Dalam kerangka inilah makna Al-Islam ya‘lu wa la yu‘la ‘alaih ditegaskan kembali Islam yang tinggi bukan Islam simbolik, melainkan Islam yang membangun, menata, dan memajukan peradaban melalui karakter manusia yang unggul.

 

Arahan ini menegaskan bahwa Politeknik Tanah AIR tidak sedang membangun gedung semata, tetapi sedang merancang masa depan. Sebab peradaban tidak ditegakkan oleh beton dan baja, melainkan oleh manusia yang religius, jujur, toleran, dan disiplin. Dari karakter inilah lahir pendidikan yang bermakna, pembangunan yang berkeadilan, dan Islam yang benar-benar hadir sebagai rahmat bagi semesta.(Amri-untuk Indonesia) Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah