الأربعاء، 04 شباط/فبراير 2026

Thailand Disebut “Sick Man of Asia”, Ekonomi Melambat dan Tantangan Struktural Menguat

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id – Ekonomi Thailand dalam dua tahun terakhir menjadi sorotan media internasional setelah sejumlah indikator makro menunjukkan perlambatan signifikan. Istilah “sick man of Asia” atau “orang sakit Asia” mencuat untuk menggambarkan stagnasi pertumbuhan ekonomi negara tersebut, meski kondisi fiskal dan infrastruktur perkotaan masih relatif stabil.

Berdasarkan proyeksi International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026 diperkirakan hanya berada di kisaran 1,6 persen. Angka ini menjadi salah satu yang terendah di kawasan Asia Tenggara. Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode yang sama diproyeksikan berada di kisaran 4,8–5 persen.

Sejumlah faktor yang menekan ekonomi Thailand antara lain tingkat utang rumah tangga yang tinggi, konsumsi domestik yang melemah, perlambatan sektor manufaktur, serta proses penuaan populasi yang berlangsung cepat. Selain itu, dinamika politik yang kurang stabil turut memengaruhi sentimen investasi dan pasar modal.

Dalam ukuran pendapatan per kapita, Thailand memang masih berada di atas Indonesia. Pada 2025, pendapatan per kapita Thailand berada di kisaran 7.800–8.000 dolar AS per orang, sementara Indonesia berkisar 4.900–5.000 dolar AS per orang. Namun, perlambatan pertumbuhan membuat jarak tersebut dinilai tidak lagi sekuat satu dekade sebelumnya.

Media ekonomi internasional Financial Times menyoroti bahwa pasar saham Thailand menjadi salah satu yang berkinerja paling lemah di Asia dalam 12 bulan terakhir, dengan penurunan sekitar 10 persen pada 2025 dalam mata uang lokal. Meski pemerintah Thailand menargetkan pertumbuhan sekitar 2 persen, proyeksi lembaga internasional menunjukkan angka yang lebih konservatif.

Para analis menilai Thailand belum berada dalam kondisi krisis, namun menghadapi tekanan struktural yang membutuhkan reformasi kebijakan ekonomi jangka menengah hingga panjang. Tanpa perubahan strategi yang signifikan, risiko stagnasi dinilai dapat berlanjut dan memperlambat daya saing kawasan. (Amri-untuk Indonesia)