السبت، 07 شباط/فبراير 2026

Membangun Kesadaran Politik yang Beretika dan Berintegritas untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

Oleh : M. Rizky Al Farisi Bin Didi Yanipi (Xii Mipa R2 / Bengkulu)

lognews.co.id - Alhamdulillah, kita patut bersyukur kepada Allah SWT. karena atas rahmat dan karunia-Nya kita diberikan kesehatan jasmani maupun rohani sehingga dapat berkumpul di tempat yang mulia ini untuk melaksanakan sholat Jumat.

Selanjutnya, sholawat dan salam kita haturkan kepada junjungan Nabiyuna wa Sayyiduna Muhammad SAW. beserta para nabi lainnya yang telah mengajarkan nilai-nilai ilahi serta nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab kepada seluruh umat manusia di muka bumi.

Khotib mengajak diri sendiri pada khususnya dan jama’ah pada umumnya untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah dan syariatNya agar kita senantiasa dapat melaksanakan tugas dan kewajiban dengan tulus, ikhlas, dan setia hati dengan penuh tanggung jawab.

Hadirin sidang Jumat yang berbahagia

Kondisi politik Indonesia saat ini menunjukkan dinamika yang sangat kompleks. Di satu sisi, demokrasi Indonesia terus berkembang dengan adanya kebebasan berpendapat, dan meningkatnya kesadaran politik di kalangan generasi muda. Namun di sisi lain, dunia politik kita masih diwarnai oleh berbagai persoalan seperti praktik korupsi, politik uang, penyalahgunaan kekuasaan, dan rendahnya etika dalam berpolitik.

Berkenaan dengan kondisi yang Khotib sampaikan di atas, maka pada kesempatan Jumat kali ini Khotib menyampaikan khotbah dengan judul:

Membangun Politik yang Beretika dan Berintegritas

untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045

Tahun 2045 adalah tahun yang sangat istimewa bagi bangsa Indonesia. Pada tahun itu, Indonesia akan genap berusia seratus tahun sejak kemerdekaan tahun 1945. Pemerintah Indonesia menyebutkan bahwa tahun itu, ketika Indonesia berusia 100 tahun sebagai Indonesia Emas 2045, sebuah masa di mana bangsa Indonesia dapat mewujudkan menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, dan berdaulat.

Namun, marilah kita lihat bangsa Indonesia saat ini. Apakah kita benar-benar siap menyongsong Indonesia Emas 2045 itu? Apakah bangsa ini sudah memiliki pondasi kesadaran moral dan kesadaran politik yang kokoh?

Politik sering kali dipandang sebagai sesuatu yang rumit, bahkan kotor. Tetapi sesungguhnya, politik adalah bagaimana cara kita mengatur kehidupan bersama, demi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Masalahnya bukan pada politik itu sendiri, melainkan pada karakter para pelaku politik. Perlu kesadaran politik yang benar agar pemahaman dan wujud dari kehidupan politik itu berjalan sesuai dengan apa yang dimaksud.

Politik adalah kegiatan atau proses mengatur kekuasaan, membuat keputusan, dan kebijakan untuk mencapai tujuan bersama dalam suatu kelompok, masyarakat, atau negara, yang berakar dari kata Yunani "polis" (kota/negara). Ini melibatkan upaya untuk mengelola konflik, mendistribusikan sumber daya, serta menciptakan kesejahteraan dan keadilan melalui mekanisme seperti pemerintahan, undang-undang, dan partisipasi warga negara, dengan tujuan akhir membangun peradaban dan kehidupan yang lebih baik. 

Menurut Aristoteles politik adalah usaha yang dilakukan warga negara untuk mencapai kebaikan bersama. Menurutnya politik berhubungan dengan cara mengatur kehidupan masyarakat agar tercipta keadilan dan kesejahteraan.

Bukankah politik adalah usaha dan ikhtiar untuk kebaikan dan keadilan, serta kesejahteraan? Oleh karena itu kita tidak boleh alergi dan menjauh dari politik. Maka Khotib membatasi keasaran politik harus dilakukan secara beretika dan berintegritas.

Karena tanpa politik yang beretika dan berintegritas,
cita-cita besar Indonesia Emas 2045 itu akan tinggal slogan tanpa makna. Politik yang beretika berarti politik yang berlandaskan moral, kejujuran, dan kepentingan umum. Marilah kita bangun kesadaran politik dengan benar dan sesuai dengan makna dari politik itu sendiri.

 Politik yang berintegritas berarti politik yang teguh pada prinsip, tidak mudah tergoda oleh kekuasaan, uang, atau kepentingan pribadi. Kita butuh politik yang bersih, transparan, dan berkeadilan.
Kita butuh pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai pengabdian, bukan ladang kepentingan.

Dalam  Quran Surat An-Nisa ayat 58 disebutkan:

 

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا ۝٥٨

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat."

Dalam ayat ini, ditegaskan 2 prinsip utama dalam memimpin :

  1. Menunaikan Amanah

Amanah berarti tanggung jawab yang harus dijaga dengan jujur dan penuh kesadaran moral. Pemimpin yang tahu bahwa kekuasaan bukan kehormatan, melainkan tanggung jawab yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.  Maka, amanah menjadi pilar utama integritas politik. Tanpa amanah, politik akan kehilangan moralnya kekuasaan berubah menjadi alat untuk memperkaya diri, bukan untuk menyejahterakan rakyat.

  1. Menegakkan Keadilan

Menegakkan keadilan berarti bertindak adil tanpa pandang bulu, menghormati hak asasi manusia, mematuhi hukum, dan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya secara seimbang. Seorang pemimpin yang beretika dan berintegritas tidak akan memihak kepada golongan tertentu.

Pemimpin harus bersikap objektif, berpihak kepada kebenaran, dan

menolak segala bentuk penindasan. Keadilan adalah napas dari

politik yang beretika. Tanpa keadilan, negara akan kehilangan

kepercayaan rakyat, dan tanpa kepercayaan, kekuasaan akan hilang.

Hadirin jamaah salat Jumat yang mulia

Untuk menuju Indonesia Emas 2045, kita harus menumbuhkan kesadaran berpolitik generasi muda supaya beretika dan berintegritas sehingga menjadi kunci utama dalam memperbaiki dunia politik Indonesia. Nilai-nilai seperti kedisiplinan, bertanggung jawab, keberanian, kejujuran, kemandirian, mencintai sesama, dan pantang menyerah harus menjadi kesadaran sejak dini.

Menumbuhkan karakter beretika dan berintegritas tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan melalui proses pendidikan yang menyentuh aspek moral, spiritual, sosial, dan intelektual secara menyeluruh.

Pendidikan berasrama (boarding school system) adalah satu di antara solusi dalam memberikan dan menanamkan kesadaran kebaikan secara terus-menerus kepada generasi muda.

Di dalam asrama, peserta didik hidup bersama dalam rutinitas yang terstruktur. Dalam sistem ini, peserta didik tidak hanya menerima pelajaran akademik di ruang kelas, tetapi juga hidup dalam lingkungan pendidikan yang membimbing mereka selama 24 jam. Peserta didik dilatih untuk hidup disiplin, mandiri, dan bertanggung jawab. Mereka dibiasakan untuk menghargai waktu, menjaga kebersihan, menaati peraturan, serta menghormati guru dan teman. Lebih dari itu, kehidupan bersama di asrama menumbuhkan semangat kebersamaan, empati, dan kepedulian sosial

Dengan demikian, pendidikan berbasis asrama berperan penting dalam membentuk karakter generasi muda yang kuat, berakhlak mulia, dan siap menjadi pemimpin bangsa yang amanah. Melalui pendidikan karakter seperti ini, diharapkan lahir generasi yang menjunjung tinggi etika, kejujuran, dan integritas dalam setiap langkahnya, termasuk dalam dunia politik.

 Generasi inilah yang akan menjadi pilar utama dalam mewujudkan politik yang bersih dan berkeadilan. Inilah nilai-nilai yang harus dimiliki oleh calon pemimpin masa depan, untuk mengantarkan Indonesia menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045.

Kita mendoa kepada Allah agar generasi muda Indonesia memiliki kesadaran dalam berpolitik sehingga tumbuhlah nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan di asrama, di kelas, bahkan dalam kehidupan bermasyarakan dan bernegara.