الجمعة، 06 شباط/فبراير 2026

Ada Apa dengan Pendidikan Berasrama Al Zaytun? Begini Kata Guru Besar Perilaku dalam Arsitektur UNIKOM

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

Oleh Ali Aminuloh

lognews.co.id - Ada yang berbeda dengan pendidikan berasrama di Ma'had Al Zaytun. Bukan semata pada skala kawasan, kedisiplinan, atau sistem pengelolaan yang rapi, melainkan pada cara ruang-ruang hidup di dalamnya bekerja mendidik manusia. Hal inilah yang menarik perhatian Prof. Dr. Ir. Dhini Dewiyanti Tantarto, MT, Guru Besar Bidang Perilaku dalam Arsitektur dari Universitas Komputer Indonesia. Baginya, pendidikan di Al Zaytun tidak hanya diajarkan, tetapi dialami setiap jam, setiap ruang, setiap kebiasaan.

Pendidikan yang Hidup 24 Jam

Sejak 1 Juni 2025, Al Zaytun secara konsisten menggelar pelatihan bagi para pelaku didik sebagai bagian dari upaya mewujudkan transformasi revolusioner pendidikan berasrama. Memasuki pekan ke-29, pelatihan ini menegaskan satu keyakinan dasar: pendidikan sejati tidak berhenti di ruang kelas, melainkan hidup dalam keseharian.

Pada Ahad, 21 Desember 2025, Prof. Dhini hadir menyampaikan bahwa pendidikan berasrama memiliki keunggulan mendasar karena berlangsung 24 jam penuh. Asrama bukan fasilitas pelengkap, melainkan ruang utama tempat karakter dibentuk secara konsisten dan berkelanjutan.

Asrama sebagai Ruang Pembentuk Manusia

Bagi Al Zaytun, asrama bukan sekadar tempat tidur berjajar rapi. Ia adalah ruang hidup tempat pelajar belajar menjadi manusia: bangun pagi bersama, berbagi ruang, mengelola perbedaan, menghadapi konflik, lalu berdamai. Nilai-nilai tidak dipaksakan lewat ceramah, tetapi tumbuh dari pengalaman.

Prof. Dhini menyebut proses ini sebagai pembentukan habitus sosial, pola hidup yang terbentuk karena lingkungan. Pelajar hidup dalam komunitas kecil yang menjadi miniatur masyarakat masa depan. Mereka belajar disiplin dari rutinitas, empati dari kebersamaan, dan kemandirian dari tanggung jawab sehari-hari.

Ketika Ruang Menjadi Guru yang Diam

Dalam perspektif arsitektur perilaku, hubungan manusia dan ruang bersifat timbal balik. Ruang membentuk perilaku, perilaku lalu mengubah ruang. Koridor, selasar, halaman, hingga kamar tidur menyimpan pesan sosial yang bekerja tanpa suara.

Koridor yang terarah melatih keteraturan. Ruang terbuka mendorong interaksi. Zona privat mengajarkan batas diri, sementara ruang komunal menumbuhkan gotong royong. Bahkan pencahayaan, ventilasi, dan warna dinding memengaruhi kesehatan psikologis anak. Ruang yang sehat menenangkan jiwa; ruang yang menekan melahirkan kegelisahan.

Di sinilah ruang berfungsi sebagai kurikulum tersembunyi, menjadi guru ketiga setelah orang tua dan pendidik.

Dari Pola Kontrol ke Pendekatan Kemanusiaan

Prof. Dhini mengingatkan bahwa banyak asrama masih dirancang dengan paradigma lama: memudahkan pengawasan, bukan menumbuhkan manusia. Pola linier dan kaku memang menciptakan ketertiban, tetapi kerap mengorbankan kehangatan.

Asrama masa depan, menurutnya, harus bergerak menuju ruang yang humanis, fleksibel, dan berlapis. Anak-anak membutuhkan ruang untuk bersama, sekaligus ruang untuk menyendiri. Tempat untuk belajar serius, sekaligus ruang untuk berekspresi, merenung, bahkan merasa rapuh tanpa stigma.

Asrama yang baik bukan yang paling ketat mengontrol, melainkan yang paling peka membaca kebutuhan manusia.

Al Zaytun sebagai Laboratorium Sosial

Pandangan tersebut menemukan relevansinya dalam praktik pengasramaan Al Zaytun. Dengan pengelolaan terstruktur, pembagian usia yang proporsional, serta pelayanan kehidupan 24 jam, pendidikan di sini dipahami sebagai ekosistem hidup.

Asrama menjadi laboratorium sosial tempat pelajar belajar demokrasi mikro, kepemimpinan, tanggung jawab kolektif, serta adaptasi terhadap tantangan zaman, termasuk era digital. Pelajar dipersiapkan bukan sekadar untuk lulus ujian, tetapi untuk hidup di dunia nyata dengan karakter yang matang.

Ali prof arsistek

Revolusi Sunyi Pendidikan Berasrama

Apa yang dilakukan Al Zaytun sejatinya adalah revolusi sunyi. Tidak gaduh oleh jargon, tidak sibuk mengejar citra. Ia bekerja melalui ruang, kebiasaan, dan keteladanan. Melalui desain kehidupan yang sadar, nilai ditanamkan tanpa paksaan, karakter dibentuk tanpa teriakan.

Pada akhirnya, pelatihan pekan ke-29 ini bukan sekadar agenda institusional, melainkan refleksi tentang arah pendidikan yang sedang kita pilih. Al Zaytun menunjukkan bahwa mendidik bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi di mana dan bagaimana manusia itu hidup.

simposium suasana 29

Asrama Pendidik Masa Depan

Jika ruang dapat mendidik, maka setiap dinding, lorong, dan halaman sesungguhnya sedang menulis masa depan manusia yang menghuninya. Pendidikan berasrama seperti di Al Zaytun mengajarkan kita bahwa karakter tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Dari cara bangun pagi, cara berbagi ruang, hingga cara menghormati sesama. Di sanalah pendidikan menemukan wajahnya yang paling jujur: membentuk manusia sebelum membentuk prestasi, menyiapkan jiwa sebelum menguji angka, dan menanamkan makna sebelum menuntut hasil. Sebuah jalan panjang yang mungkin sunyi, tetapi justru di sanalah masa depan bangsa sedang ditumbuhkan dengan paling serius.