الخميس، 05 شباط/فبراير 2026

Tutor PKBM Al Zaytun bergelar Advokat: Membedah Demokrasi Pancasila dari Bangku Kelas

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

oleh : Susanto (Tutor PKBM Al Zaytun)

lognews.co.id, Indonesia – Di luar kelas, ia adalah garda depan yang memastikan ketertiban fisik lingkungan. Namun di dalam kelas, ia adalah arsitek yang membangun fondasi berpikir tentang hukum dan demokrasi. Begitulah potret Susanto, SH, sosok yang membuktikan bahwa pendidikan tidak mengenal titik henti, dan pengabdian tidak mengenal kasta jabatan.

Paradoks Sang Pengabdi

Sabtu pagi (10/01/2026), suasana kelas XI PKBM Paket C Al Zaytun tampak berbeda. Susanto berdiri di depan kelas, bukan dengan seragam keamanan yang biasa ia kenakan, melainkan dengan wibawa seorang pendidik.

Paradoks yang melekat pada dirinya adalah daya tarik utama: Ia merupakan alumni PKBM Al Zaytun yang kini bertugas di Unit Keamanan, namun di sisi lain, ia adalah seorang Advokat (pengacara) bergelar Sarjana Hukum dari Prodi Hukum Tata Negara IAI Al Azis.

Seorang penjaga gerbang yang kini menjaga nalar generasi penerus melalui mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

Menghidupkan Demokrasi di Ruang Kelas

Materi hari itu bukan sekadar teori tekstual. Susanto membawa diskursus Demokrasi Pancasila dan Sistem Pemerintahan Indonesia ke level yang lebih membumi. Sebagai seorang praktisi hukum, ia tak hanya bicara pasal, tapi juga soal penerapan nyata di lingkup terkecil: keluarga, sekolah, hingga masyarakat.

 "Demokrasi itu bukan hanya soal pemilu, tapi soal bagaimana kita menghargai pendapat di meja makan rumah kita sendiri," ungkapnya di sela-sela pemaparan.

Siswa kelas XI terlihat antusias. Ruang kelas Paket C itu berubah menjadi forum diskusi yang hidup. Susanto membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil, menantang mereka untuk membedah bagaimana nilai-nilai Pancasila bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari Sekadar Mengajar

Bagi Susanto, mengajar di PKBM Al Zaytun adalah bentuk "pulang" yang paling mulia. Sebagai alumni yang telah menempuh pendidikan advokat, kehadirannya menjadi bukti nyata bagi para siswa Paket C bahwa latar belakang pendidikan kesetaraan bukanlah penghalang untuk mencapai puncak profesi hukum.

Kegiatan pembelajaran ditutup dengan presentasi kelompok yang penuh percaya diri dari para siswa. Melalui tangan dingin sang Advokat yang merangkap penjaga keamanan ini, materi PPKn tidak lagi terasa kering, melainkan menjadi panduan hidup bagi para siswa untuk menjadi warga negara yang lebih baik.

Di PKBM Al Zaytun, Sabtu itu, kita belajar satu hal: Bahwa demokrasi yang kuat membutuhkan penjaga, baik itu penjaga di gerbang fisik maupun penjaga di gerbang pemikiran. Dan Susanto menjalankan keduanya dengan sempurna. (Amri-untuk Indonesia) 

'Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah'