Indramayu, lognews.co.id – Di tengah menguatnya diskursus mengenai optimisme terhadap masa depan bangsa, Ma'had Al-Zaytun kembali menegaskan komitmennya dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui pembiasaan mengumandangkan Indonesia Raya 3 Stanza setiap hari. Tradisi tersebut dinilai bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang menumbuhkan rasa cinta tanah air, persatuan, dan optimisme terhadap Indonesia.
Hal ini turut menjadi perhatian setelah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam pidatonya pada Puncak Peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-79 di Indonesia Arena, Jakarta, Minggu (12/7/2026), mengajak masyarakat untuk tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia. Presiden juga menyampaikan, "Yang merasa Indonesia suram, silakan kalau mau cari negara lain. Silakan, tidak ada yang melarang," ujar Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya.
Pernyataan tersebut kemudian memunculkan berbagai tanggapan di ruang publik. Salah satunya datang dari akun Facebook Latief WH, yang mengajak masyarakat untuk kembali menghayati makna lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza sebagai simbol persatuan dan optimisme bangsa.
Ajakan Mengumandangkan Indonesia Raya 3 Stanza
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Latief WH mengajak seluruh elemen bangsa untuk membiasakan mengumandangkan Indonesia Raya 3 Stanza di berbagai institusi, mulai dari lingkungan pemerintahan, lembaga pendidikan, hingga perusahaan.
"Jangan pernah alergi mengumandangkan Indonesia Raya 3 Stanza. Kumandangkan di Istana Negara, markas para pejabat, wakil rakyat, tentara, polisi, kejaksaan, kantor pemerintahan dari pusat hingga daerah, universitas, seluruh sekolah, perusahaan negara maupun swasta, dari Sabang sampai Merauke," tulis Latief WH.
Menurutnya, apabila masyarakat memahami makna Indonesia Raya secara utuh hingga stanza kedua dan ketiga, akan terlihat bahwa seluruh liriknya dipenuhi doa, harapan, dan semangat membangun Indonesia.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada satu pun lirik yang menggambarkan Indonesia sebagai bangsa yang suram. Sebaliknya, setiap bait berisi ajakan untuk bersatu, mendoakan kebahagiaan bangsa, serta berjanji menjaga Indonesia agar tetap abadi.
Nilai Kebangsaan dalam Indonesia Raya 3 Stanza
Indonesia Raya 3 Stanza merupakan lagu kebangsaan ciptaan Wage Rudolf Supratman yang memuat nilai-nilai nasionalisme secara lebih utuh dibandingkan stanza pertama yang umum dinyanyikan dalam upacara.
Dalam lirik stanza kedua dan ketiga, Indonesia digambarkan sebagai tanah air yang mulia, kaya, suci, dan sakti. Lagu tersebut juga mengandung ajakan kepada seluruh rakyat untuk berseru demi persatuan, memanjatkan doa bagi kebahagiaan bangsa, serta meneguhkan janji menjaga Indonesia agar tetap lestari sepanjang masa.
Bagi sebagian kalangan, pemahaman terhadap keseluruhan lirik Indonesia Raya diyakini mampu memperkuat rasa cinta tanah air sekaligus menumbuhkan optimisme terhadap masa depan bangsa.
Al-Zaytun Konsisten Menanamkan Nasionalisme
Ma'had Al-Zaytun selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang secara konsisten mengumandangkan Indonesia Raya 3 Stanza dalam berbagai kegiatan. Pembiasaan tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter yang diterapkan kepada seluruh santri dan civitas pendidikan.
Melalui kebiasaan tersebut, para peserta didik tidak hanya diajak menghafal lagu kebangsaan, tetapi juga memahami makna yang terkandung di dalam setiap baitnya sebagai bentuk penghormatan terhadap bangsa dan negara.
Al-Zaytun memandang bahwa pendidikan kebangsaan perlu diwujudkan melalui praktik nyata yang dilakukan secara berkesinambungan sehingga nilai persatuan, disiplin, tanggung jawab, dan cinta tanah air dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Optimisme untuk Indonesia
Semangat yang terkandung dalam Indonesia Raya 3 Stanza dinilai selaras dengan ajakan untuk terus percaya terhadap masa depan Indonesia. Lagu tersebut tidak hanya menjadi simbol perjuangan bangsa, tetapi juga mengandung pesan moral agar seluruh rakyat terus menjaga persatuan, bergotong royong, dan berkontribusi dalam membangun negeri.
Melalui pembiasaan mengumandangkan Indonesia Raya 3 Stanza, Al-Zaytun berharap lahir generasi yang memiliki karakter kebangsaan yang kuat, menjunjung tinggi nilai persatuan, serta mampu menjadi bagian dari pembangunan Indonesia.
Bagi Al-Zaytun, nasionalisme tidak berhenti pada simbol dan seremonial semata, melainkan diwujudkan melalui pembiasaan yang menanamkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa masa depan Indonesia akan semakin baik apabila seluruh elemen bangsa terus menjaga persatuan dan bekerja bersama. (Sahil untuk Indonesia)



