السبت، 29 آب/أغسطس 2026

BUKTI!! Al-Zaytun Mencetak Generasi Unggul

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Alumni Mahad Al Zaytun Angkatan IV Fortun, Ahmad Fanani Rosyidi, mengajak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk mengenal langsung Mahad Al Zaytun melalui kunjungan edukatif, Pada Hari Selasa (21/07/2026). Menurutnya, pengalaman melihat secara langsung jauh lebih objektif dibanding hanya menerima informasi dari berbagai pemberitaan.

Ahmad Fanani Rosyidi yang akrab disapa Awe merupakan Koordinator Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (MUDI). Ia datang bersama rombongan mahasiswa usai mengikuti Pendidikan Kader Demokrasi di Yogyakarta.

"Kami hadir ke Mahad Al Zaytun dalam rangka ta'aruf sekaligus memperkenalkan Al Zaytun kepada teman-teman mahasiswa dari berbagai kampus dan organisasi. Setelah berkeliling, mereka cukup antusias melihat langsung berbagai fasilitas dan aktivitas di sini," ujarnya.

Menurut Awe, kunjungan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh gambaran secara langsung mengenai kehidupan di lingkungan Mahad Al Zaytun.

Bekal Al Zaytun Mengantarkan Menjadi Aktivis HAM

Sebagai alumni Angkatan IV Fortun, Awe mengaku banyak memperoleh bekal yang hingga kini menjadi landasan dalam perjalanan akademik maupun kariernya.

Ia menuturkan bahwa sejak menjadi santri, dirinya telah dikenalkan pada nilai-nilai hak asasi manusia, perdamaian, serta pentingnya hidup berdampingan dalam keberagaman. Bekal tersebut kemudian membentuk pilihannya untuk terjun dalam dunia aktivisme.

"Saya memang memilih jalan aktivisme. Sekarang saya bekerja secara profesional di lembaga yang bergerak di bidang riset dan aksi hak asasi manusia. Pilihan itu tidak dipaksa oleh Al Zaytun, tetapi nilai-nilai yang saya dapatkan di sini menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan saya," katanya.

Selain aktif di lembaga riset dan advokasi HAM, Awe juga mengembangkan komunitas Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia yang fokus pada penguatan demokrasi dan pemberdayaan masyarakat.

Santri Diminta Terus Belajar dan Berani Berproses

Dalam pesannya kepada para santri Mahad Al Zaytun, Awe menekankan pentingnya terus belajar dan tidak takut melakukan proses pengembangan diri.

Menurutnya, pengalaman mengikuti berbagai kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler selama menjadi santri menjadi modal yang sangat berguna ketika memasuki dunia perkuliahan maupun kehidupan bermasyarakat.

"Terus belajar, jangan takut salah karena proses itulah yang akan membentuk diri. Apa yang dilakukan selama menjadi santri, baik di organisasi maupun kegiatan lainnya, semuanya akan menjadi bekal ketika nanti terjun ke masyarakat," ungkapnya.

Ia mengaku semasa belajar di Al Zaytun aktif mengikuti berbagai aktivitas organisasi, sehingga terbiasa mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, serta berpikir kritis.

Menurutnya, pola pembelajaran di Al Zaytun tidak hanya mengandalkan pendidikan formal di kelas, tetapi juga mendorong santri belajar melalui pengalaman dan interaksi sosial.

"Saya merasakan cara berpikir yang diajarkan di Al Zaytun sangat relevan ketika diterapkan di luar. Tidak hanya belajar secara formal, tetapi juga belajar secara informal melalui organisasi dan kehidupan sehari-hari," jelasnya.

Ajak Publik Datang Langsung ke Al Zaytun

Menanggapi berbagai persepsi masyarakat terhadap Al Zaytun, Awe mengajak publik untuk melihat sendiri kondisi sebenarnya.

Ia mengaku telah beberapa kali membawa rombongan mahasiswa dan rekan-rekannya berkunjung ke Mahad Al Zaytun. Menurutnya, banyak peserta yang mengaku memperoleh pengalaman berbeda setelah melihat langsung kehidupan di lingkungan pesantren tersebut.

"Kalau ingin tahu tentang Al Zaytun, datang saja langsung ke sini. Di sini sangat terbuka menerima masyarakat umum. Teman-teman yang saya bawa juga mengatakan apa yang mereka lihat berbeda dengan berbagai narasi yang selama ini mereka dengar," katanya.

Awe juga berharap para santri tetap optimistis ketika menyelesaikan pendidikan dan mengabdikan ilmunya kepada masyarakat.

"Jangan menyerah ketika nanti keluar dari Al Zaytun. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh di sini sangat relevan untuk diterapkan di tengah masyarakat. Saya sendiri sampai sekarang masih aktif mengabdi kepada masyarakat karena itu juga menjadi salah satu nilai yang diajarkan di Al Zaytun," pungkasnya. (Sahil untuk Indonesia)