الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Pelajar Al Zaytun Khutbah mengenai: Membentuk "Basyaran Sawiyyan" sebagai Fondasi Indonesia Emas 2045

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Pelajar Ma'had Al-Zaytun, Muhammad Ridho Ashidik bin Edi Santoso, siswa Kelas XII.S.3 asal Jakarta Timur, menyampaikan khutbah Jumat bertajuk "Membentuk Basyaran Sawiyyan: Fondasi Indonesia Emas 2045" pada pelaksanaan Shalat Jumat, 31 Juli 2026, di lingkungan Ma'had Al-Zaytun.

Dalam khutbahnya, Ridho mengajak jamaah untuk membangun manusia yang utuh, tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, emosional, fisik, dan sosial sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.

Kemajuan Teknologi Harus Diiringi Kematangan Hati

Mengawali khutbahnya, Ridho menyoroti perkembangan zaman yang semakin pesat dengan hadirnya kecerdasan buatan dan kemajuan teknologi. Menurutnya, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti dengan kematangan karakter manusia.

Ia mengingatkan bahwa di tengah kemajuan tersebut, masyarakat justru dihadapkan pada berbagai persoalan seperti mudah goyah secara mental, sulit mengendalikan emosi, hingga semakin dangkalnya hubungan antarmanusia.

"Indonesia tidak cukup dibangun oleh orang-orang pintar saja, tetapi oleh manusia yang utuh, yang cerdas otaknya sekaligus matang hatinya," ungkapnya dalam khutbah.

Basyaran Sawiyyan sebagai Gambaran Manusia Paripurna

Ridho kemudian mengulas istilah basyaran sawiyyan yang terdapat dalam Surah Maryam ayat 17, ketika Malaikat Jibril menjelma di hadapan Maryam dalam bentuk manusia yang sempurna.

Menurutnya, istilah tersebut menggambarkan manusia yang lurus, proporsional, seimbang, serta berkembang secara fisik, mental, intelektual, dan spiritual.

Ia menjelaskan bahwa konsep tersebut menjadi salah satu landasan pendidikan di Al-Zaytun dalam membentuk manusia paripurna yang siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Empat Pilar Pembentukan Karakter di Al-Zaytun

Dalam khutbahnya, Ridho memaparkan bahwa pembentukan basyaran sawiyyan bertumpu pada empat pilar utama.

Pilar pertama adalah intelektual, yakni penguasaan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi yang tetap dipandu nilai syariat serta spiritualitas.

Pilar kedua adalah fisik dan kemandirian melalui pembiasaan hidup sehat, disiplin, dan semangat berkarya.

Pilar ketiga merupakan karakter yang dibangun melalui seni, kejujuran, keberanian, kesederhanaan, kepedulian, dan komitmen terhadap nilai-nilai Sapta Janji Darma Bakti.

Sementara pilar keempat adalah moderasi, yaitu memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, menjunjung toleransi, menolak radikalisme, dan mengedepankan perdamaian.

Kekuatan Sejati Ada pada Pengendalian Diri

Ridho juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa orang yang kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.

Menurutnya, kecerdasan emosional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembentukan manusia yang utuh.

"Ilmu yang tinggi tidak akan sempurna apabila seseorang tidak mampu bekerja sama, menerima kritik, dan mengendalikan emosinya," jelasnya.

Pendidikan Karakter Dibangun Melalui Kebiasaan

Sebagai ilustrasi, Ridho mengajak jamaah memperhatikan aktivitas perawatan kebun durian di lingkungan Al-Zaytun.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan menyiram tanaman setiap hari bukan sekadar merawat pohon, melainkan melatih kesabaran, tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, serta disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, karakter tidak lahir dari teori yang dihafal, tetapi dibentuk melalui pembiasaan dan pengalaman nyata.

Hati Harus Selalu Menghadap Cahaya Allah

Dalam bagian akhir khutbah, Ridho mengibaratkan manusia seperti bunga matahari yang selalu menghadap cahaya agar dapat tumbuh dengan sempurna.

Begitu pula hati manusia, katanya, harus senantiasa menghadap kepada cahaya petunjuk Allah SWT. Ketika hati tetap terhubung dengan cahaya-Nya, iman akan tumbuh, akhlak berkembang, dan kehidupan memiliki arah yang jelas.

Sebaliknya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi tidak akan membawa manfaat apabila tidak disertai cahaya ilahi.

Menyiapkan Generasi Indonesia Emas 2045

Menutup khutbahnya, Ridho menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan melalui lahirnya manusia-manusia yang utuh, memiliki kecerdasan intelektual, jasmani yang kuat, hati yang lembut, jiwa yang moderat, serta akhlak yang mulia.

Ia mengajak seluruh jamaah untuk mulai membangun diri menjadi basyaran sawiyyan dengan terus merawat akal melalui ilmu, menjaga jasad dengan disiplin, membina hati dengan kejujuran dan seni, serta memperkuat jiwa melalui toleransi dan kedekatan kepada Allah SWT.

Menurutnya, dari manusia-manusia yang berkarakter inilah fondasi Indonesia Emas 2045 akan tumbuh menjadi bangsa yang maju, damai, dan bermartabat. (Saheel untuk Indonesia)