الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Ulang Tahun Al Zaytun ke-27: Brigjen Asep Nilai Al Zaytun Bangun SDM Berkualitas

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id – Momentum Milad ke-27 Ma’had Al-Zaytun yang digelar pada Kamis, 27 Agustus 2026, menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya investasi pendidikan dalam mempersiapkan sumber daya manusia Indonesia menuju satu abad kemerdekaan.

Mengusung tema “Menyambut 100 Tahun Indonesia dengan Memperbesar Investasi Pendidikan yang Berkualitas”, peringatan tersebut turut menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang.

Salah satunya adalah Brigjen TNI (Purn) Asep Syaripudin, S.Hut., mantan Kasdam III/Siliwangi, yang dalam wawancara khusus bersama Lognews.co.id menyampaikan pandangannya mengenai keberadaan dan perkembangan Ma’had Al-Zaytun.

Meski baru pertama kali menginjakkan kaki secara langsung di lingkungan Ma’had Al-Zaytun pada momentum Milad ke-27, Asep mengaku telah mengetahui keberadaan lembaga pendidikan tersebut sejak awal berdirinya.

"Saya kenal Al-Zaytun sejak tahun 1999. Waktu itu Presiden B.J. Habibie meresmikannya, dan saya masih bertugas sebagai Danramil di Samarinda, Kalimantan Timur. Sejak saat itu Al-Zaytun sudah ada di benak hati saya," ujar Asep kepada Tim LognewsMedia.

Ia menuturkan, sejak pertama kali mendengar tentang Al-Zaytun, dirinya sudah melihat adanya visi besar yang dibangun melalui pendidikan.

"Pada tahun 1999 saya mendapat gambaran bahwa ada suatu wadah untuk melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Saya langsung mengatakan, ini keren. Ada tempat yang punya visi jauh ke depan untuk membangun manusia Indonesia melalui pendidikan," katanya.

Asep mengatakan rasa penasarannya terhadap Al-Zaytun akhirnya terjawab ketika dirinya memenuhi undangan menghadiri Milad ke-27.

"Saya memang sudah lama ingin datang. Begitu mendapat undangan resmi, saya berpikir Allah memang mengizinkan saya hadir ke sini," ungkapnya.

Menyoroti Penanaman Nasionalisme

Salah satu hal yang paling menarik perhatian Asep saat berada di lingkungan Ma’had Al-Zaytun adalah kuatnya simbol dan aktivitas yang berkaitan dengan kebangsaan.

Ia menyoroti keberadaan peta Nusantara yang menggambarkan wilayah Indonesia dari Merauke hingga Sabang, serta tradisi menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza sebelum kegiatan dimulai.

Menurutnya, simbol-simbol tersebut bukan sekadar pajangan, melainkan memiliki pesan pendidikan yang kuat.

"Saya melihat peta Indonesia dipasang mengelilingi kawasan. Sebagai tentara saya langsung membaca maksudnya. Syaykh sedang menanamkan kecintaan kepada negara dan bangsa kepada para pelajarnya. Sayangi negaramu dari Sabang sampai Merauke, dari Merauke sampai Sabang. Saya yakin itu ditanamkan ke lubuk hati generasi yang belajar di sini," ujar Asep.

Ia mengaku baru mengetahui bahwa Syaykh Panji Gumilang pernah menyampaikan pesan, "Sayangi negaramu melebihi engkau menyayangi dirimu sendiri." Menurutnya, pesan tersebut selaras dengan apa yang ia tangkap selama berada di Al-Zaytun.

"Saya belum pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. Tetapi ternyata sama dengan yang saya rasakan ketika melihat simbol-simbol di sini. Berarti visi itu memang nyata," katanya.

Bagi Asep, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga bagaimana membentuk manusia yang memiliki karakter, wawasan kebangsaan, dan tanggung jawab terhadap negara.

Investasi Pendidikan Bukan Sekadar Materi

Menanggapi tema Milad ke-27 Al-Zaytun, Asep memandang investasi pendidikan dalam konteks yang lebih luas.

Ia mengatakan, ketika membaca tema "Investasi Pendidikan Berkualitas", dirinya langsung mengaitkannya dengan peran setiap orang yang hadir di Al-Zaytun.

"Saya berkata kepada diri saya sendiri, 'Asep, kamu diundang ke sini berarti kamu juga menjadi investor.' Kalau saya menjadi investor, apa yang saya investasikan? Bukan hanya uang, tetapi pikiran, tindakan, dan semangat untuk pendidikan yang berkualitas," tuturnya.

Menurutnya, investasi terbaik untuk masa depan bangsa tidak selalu berbentuk materi atau finansial. Kehadiran para pendidik, tokoh masyarakat, maupun berbagai pihak yang memberikan perhatian terhadap dunia pendidikan juga merupakan bentuk investasi.

"Investasi itu bukan berarti harus uang. Yang pertama, tanamkan dulu kebanggaan kita terhadap Al-Zaytun. Setelah itu investasikan pikiran kita, perbuatan kita, dan tindakan terbaik kita untuk Al-Zaytun," ujar Asep.

Ia menambahkan, kualitas manusia yang dimaksud bukan hanya menyangkut kemampuan fisik maupun keterampilan, tetapi juga kualitas batin, moral, wawasan, dan karakter.

"Sumber daya manusia yang berkualitas itu lahir dan batin. Lahirnya sehat dan kuat, batinnya punya moral, wawasan, dan karakter. Kalau itu dimiliki, apa pun profesinya nanti, dia akan menjadi orang yang amanah," katanya.

Tidak Perlu Terjebak Stigma

Dalam wawancara tersebut, Asep juga menanggapi berbagai stigma dan isu yang selama ini berkembang di luar mengenai Ma’had Al-Zaytun, termasuk isu yang mengaitkannya dengan Negara Islam Indonesia (NII).

Menurutnya, masyarakat sebaiknya melihat langsung fakta di lapangan dan tidak berhenti pada stigma.

"Kalaupun ada isu, jangan dijadikan pertentangan. Jadikan motivasi untuk semakin berbuat yang terbaik bagi negara dan bangsa," ujarnya.

Asep menilai keberagaman tokoh yang hadir pada Milad Al-Zaytun menjadi bukti bahwa ruang pendidikan tersebut terbuka bagi berbagai kalangan.

"Saya tadi melihat ada pendeta, ada tokoh dari berbagai agama, ada berbagai kalangan. Berarti Al-Zaytun mengakomodasi keberagaman. Menurut saya, itu implementasi Pancasila," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Indonesia telah memiliki dasar negara yang menjadi pijakan bersama seluruh warga.

"Indonesia sudah mewadahi kehidupan berbangsa melalui Pancasila. Ketuhanan Yang Maha Esa memberikan kesempatan kepada setiap orang menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya. Jadi, jangan mudah terjebak pada framing negatif," tegas Asep.

Persatuan dan Konsistensi terhadap Konstitusi

Lebih jauh, Asep menyampaikan pesan kebangsaan di tengah berbagai dinamika sosial yang terjadi di Indonesia.

Ia menilai penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, memiliki kemerdekaan dalam berpikir, serta konsisten terhadap konstitusi negara.

"Merdeka itu memerdekakan pikiran kita terlebih dahulu. Selama kita berbuat baik, bertujuan baik, dan tidak merugikan orang lain, kita harus berani berpikir merdeka," ujarnya.

Menanggapi situasi sosial yang terjadi di berbagai daerah, termasuk aksi demonstrasi di Jakarta pada hari yang sama, Asep menilai perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika demokrasi.

"Fenomena itu harus menjadi pengingat agar kita semakin mencintai negara dan bangsa. Menyampaikan aspirasi boleh, tetapi harus sesuai konstitusi dan jangan sampai anarkis," katanya.

Ia juga mengajak masyarakat menghormati kepemimpinan yang sah sebagai bagian dari menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Kalau Presiden dipilih oleh rakyat, berikan kesempatan menjalankan amanah sampai masa jabatannya selesai. Kalau ada kekurangan, ingatkan dengan cara yang baik," ujarnya.

Al-Zaytun sebagai Ruang Pendidikan

Dari perspektif Asep, keberadaan Ma’had Al-Zaytun dapat dilihat sebagai salah satu ruang pendidikan yang memiliki potensi untuk berkontribusi dalam menyiapkan generasi masa depan.

Ia mengaku terkesan melihat perkembangan Al-Zaytun setelah 27 tahun berdiri.

"Tahun 1999 Al-Zaytun baru berdiri. Sekarang saya melihat hasil dari sebuah visi yang dibangun selama 27 tahun. Saya melihat tempat ini berkembang menjadi ruang pendidikan yang besar dan memiliki tujuan yang jelas, yaitu membangun manusia Indonesia yang berkualitas," katanya.

Menurut Asep, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu terlihat secara instan.

"Al-Zaytun adalah ruang dan tempat yang Allah berikan kepada kita untuk disyukuri. Kenapa harus disyukuri? Karena Al-Zaytun memiliki tujuan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut saya, ini patut dikembangkan dan terus dijaga," ujarnya.

Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa setiap upaya pendidikan yang memberikan manfaat bagi masyarakat layak mendapatkan dukungan.

"Saya yakin dan percaya, pemerintah pasti akan mendukung setiap hal yang baik. Kalau Al-Zaytun memberikan manfaat melalui pendidikan dan membangun sumber daya manusia yang berkualitas, saya yakin itu layak mendapat dukungan," kata Asep.

Momentum Milad ke-27 Ma’had Al-Zaytun pada Kamis, 27 Agustus 2026, dengan tema investasi pendidikan berkualitas, pada akhirnya tidak hanya menjadi peringatan perjalanan sebuah lembaga pendidikan.

Tema tersebut juga menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang dipersiapkan hari ini.

 

Bagi Brigjen TNI (Purn) Asep Syaripudin, pendidikan yang mampu melahirkan generasi yang berkualitas, berkarakter, amanah, dan memiliki jiwa kebangsaan merupakan salah satu investasi strategis untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang semakin kuat dan maju. (Saheel untuk Indonesia)