الجمعة، 28 آب/أغسطس 2026

Ulang Tahun Al Zaytun ke-27: Dr. Johan Pasaribu Sebut Al Zaytun Contoh Kemandirian Pendidikan Nasional

تقييم المستخدم: 5 / 5

تفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجومتفعيل النجوم
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Peringatan Milad ke-27 Mahad Al Zaytun yang mengangkat tema (Menyambut 100 Tahun Indonesia dengan memperbesar investasi pendidikan yang berkualitas) Tema ini menjadi hal yang menarik dari berbagai tokoh nasional  untuk menyampaikan pandangannya mengenai masa depan Indonesia, khususnya di bidang pendidikan. Salah satunya adalah Dr. Ir. Johan M.P. Pasaribu, Ketua Umum IKAPNAS sekaligus tokoh relawan nasional, yang hadir dan memberikan sambutan penuh semangat di hadapan ribuan peserta. 

Dalam wawancara bersama Tim LOGNEWS Media, Dr. Johan menegaskan bahwa gaya penyampaiannya yang terdengar seperti orasi bukanlah sekadar retorika, melainkan bentuk ajakan untuk membangkitkan semangat perjuangan bagi bangsa Indonesia.

"Saya ini pejuang, bukan orang retorika. Saya berbicara untuk membangkitkan perjuangan, karena Indonesia sampai hari ini masih membutuhkan daya juang," ujar Dr. Johan.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan masyarakat yang mandiri dan tidak bergantung pada satu figur pemimpin. Ia menilai pembangunan bangsa harus ditopang oleh masyarakat madani yang kuat, terutama melalui investasi di sektor pendidikan.

Program MBG Dinilai Tepat, tetapi Manajemennya Dikritik

Dr. Johan turut menanggapi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu kebijakan pemerintah. Ia menilai gagasan tersebut bukanlah sesuatu yang keliru, bahkan seharusnya sudah lama diterapkan di Indonesia.

"Semua negara sudah memiliki program makan bergizi. Al Zaytun sendiri sudah menjalankan konsep makanan bergizi selama 26 tahun. Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari gizi," katanya.

Namun, ia mengkritik pelaksanaan program tersebut karena dinilai berdampak pada berkurangnya anggaran pendidikan, khususnya untuk guru dan dosen.

Ia juga menyoroti rendahnya kesejahteraan tenaga pendidik di Indonesia dibandingkan negara-negara tetangga.

"Guru dan dosen adalah ujung tombak bangsa melalui pendidikan. Kalau anggaran mereka dikurangi, itu persoalan besar," tegasnya.

Soroti Fenomena Human Flight

Dalam wawancara tersebut, Tim LOGNEWS Media juga menanyakan fenomena human flight, yakni banyaknya sumber daya manusia berkualitas Indonesia yang memilih bekerja atau menetap di luar negeri.

Dr. Johan menilai fenomena itu bukan kesalahan individu yang memilih pergi, melainkan akibat buruknya tata kelola di dalam negeri.

"Human flight itu pilihan. Yang salah bukan mereka yang pergi, tetapi manajemen di Indonesia," ujarnya.

Ia menyebut banyak tenaga profesional Indonesia yang sebenarnya ingin mengabdi di tanah air, namun tidak memperoleh ruang dan sistem yang mendukung kompetensinya.

Kritik Kepemimpinan dan Tata Kelola Pemerintahan

Sebagai mantan pejabat yang pernah terlibat dalam berbagai program pengentasan kemiskinan, Dr. Johan mengatakan akar persoalan bangsa saat ini berada pada lemahnya kemampuan manajerial para pemimpin.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang kompeten, tetapi tidak selalu ditempatkan sesuai kapasitas dan keahliannya.

Ia bahkan mengusulkan agar standar kompetensi pejabat publik diperketat, termasuk anggota DPR dan para menteri, sehingga benar-benar diisi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan profesional dan pengalaman yang memadai.

Al Zaytun Dinilai Menjadi Contoh Kemandirian Pendidikan

Dr. Johan memandang Mahad Al Zaytun sebagai contoh lembaga pendidikan yang mampu berkembang tanpa bergantung sepenuhnya kepada pemerintah.

Menurutnya, model pendidikan yang dibangun Al Zaytun menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, dan investor dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun pendidikan nasional.

Ia mengaku siap mengajak jaringan organisasi dan berbagai pihak untuk berkolaborasi mendukung pengembangan pendidikan di Indonesia melalui jalur swasta dan masyarakat.

Milad ke-27 Menjadi Simbol Ketangguhan Al Zaytun

Menutup wawancara, Dr. Johan memberikan apresiasi terhadap perjalanan Mahad Al Zaytun yang telah memasuki usia ke-27 tahun.

Ia menyebut usia tersebut sebagai fase kematangan sebuah lembaga pendidikan yang telah bertahan menghadapi berbagai tantangan.

"Syekh Panji Gumilang adalah sosok yang tangguh menghadapi berbagai celaan, diskriminasi, dan fitnah. Namun Al Zaytun tidak runtuh. Saya yakin nilai-nilai yang dibangun Al Zaytun bisa terus berkembang untuk Indonesia," tutupnya. (Saheel untuk Indonesia)