lognews.co.id - Tidak semua guru mengajar di dalam kelas. Sebagian memilih melanjutkan pengabdiannya di tengah kebun, hamparan sawah, dan kandang ternak. Papan tulisnya berganti menjadi lahan pertanian, murid-muridnya adalah para petani dan peternak, sedangkan pelajaran yang diajarkannya ialah kerja keras, kemandirian, dan keberanian membangun masa depan dari desa.
Sosok itu adalah Husnul Muttakien, alumni Al-Zaytun angkatan kedua sekaligus pendiri Handeuleum Farm. Setelah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai pendidik, ia memilih jalan baru sebagai petani dan peternak. Bukan karena meninggalkan panggilan seorang guru, melainkan memperluas ruang pengabdiannya kepada masyarakat.
Saya berkesempatan menginap di Handeuleum Farm pada Rabu, 12 Agustus 2026. Kawasan pertanian dan peternakan terpadu itu berada di Blok Sindangsari, Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor.
Malam itu, di antara udara sejuk kaki Gunung Handeuleum dan suara ternak dari kandang, saya menyaksikan hasil perjalanan panjang seorang anak muda yang tidak pernah berhenti belajar, bekerja, dan mengabdi.
Guru yang Memilih Kembali ke Kampung
Husnul Muttakien lulus dari Al-Zaytun pada 2006. Setelah menamatkan pendidikan, ia menempuh jalan pengabdian di dunia pendidikan. Selama lima tahun ia berdiri di depan kelas sebagai guru. Ia kemudian dipercaya menjadi kepala Pendidikan Anak Usia Dini selama dua tahun dan memimpin SMA Nurul Falah selama lima tahun.
Pengalaman itu membentuk karakter kepemimpinannya. Menjadi guru mengajarkannya kesabaran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan membimbing orang lain untuk tumbuh.
Namun, Husnul tidak ingin pengabdiannya berhenti di ruang kelas. Ia melihat tanah di kampungnya menyimpan potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Di tengah kecenderungan banyak anak muda meninggalkan desa untuk mencari kehidupan di kota, ia justru memilih kembali dan membangun masa depan dari kampung halaman.
Pada 2013, Husnul mulai menggarap lahan sekitar dua hektare. Sekitar 6.000 meter persegi merupakan lahan milik sendiri, sedangkan sisanya diperoleh melalui sistem gadai. Ia menanam nanas, jeruk, pepaya, cabai, dan berbagai komoditas pertanian lainnya.
Perjalanannya tidak selalu mudah. Sebagian tanah keluarga pernah tergadai untuk memenuhi kebutuhan persalinan. Namun, keadaan tersebut tidak memadamkan semangatnya. Lahan itu akhirnya berhasil dibebaskan pada 2021.
Tanggal 14 Maret 2021 kemudian menjadi tonggak penting berdirinya Handeuleum Farm. Husnul memulai usaha tersebut bersama orang tuanya. Langkah pertamanya sangat sederhana: menjual pisang.
Dari hasil kebun yang sederhana itulah ia menata kembali harapan.
Belajar dari Filosofi Handeuleum
Nama Handeuleum Farm diambil dari nama kampung dan Gunung Handeuleum. Dalam bahasa Sunda, handeuleum menggambarkan warna hitam atau gelap. Namun, tanaman handeuleum justru dikenal memiliki khasiat sebagai obat.
Filosofi tersebut seolah menyatu dengan perjalanan hidup Husnul. Masa sulit tidak selalu menjadi pertanda berakhirnya harapan. Kegelapan dapat menjadi ruang pembelajaran, bahkan berubah menjadi obat yang menguatkan kehidupan.
Ia tidak menunggu seluruh keadaan menjadi sempurna untuk memulai. Ia bekerja dengan apa yang dimiliki: sebidang tanah, beberapa tanaman, dukungan orang tua, serta keberanian untuk menekuni sektor yang sering dipandang kurang menjanjikan oleh generasi muda.
Baginya, pertanian bukan pekerjaan kelas dua. Bertani adalah profesi terhormat karena dari tangan petani kebutuhan paling mendasar manusia dapat dipenuhi.
Merintis dari Lima Ekor Kambing
Usaha peternakan Husnul berawal dari lima ekor kambing jawa. Jumlahnya kecil, tetapi dipelihara dengan ketekunan dan perencanaan yang terus diperbaiki.
Sedikit demi sedikit, populasi ternaknya bertambah. Kini Handeuleum Farm memiliki tiga kandang sapi dengan kapasitas sekitar 50 ekor, 22 kandang domba, kandang kambing, serta unit pemeliharaan ayam petelur.
Pada 2024, Husnul telah memiliki sekitar 86 induk domba Garut. Sejak 2025, pengembangan usaha semakin difokuskan pada pembibitan atau breeding domba Garut. Pilihan ini menunjukkan bahwa ia tidak hanya ingin berdagang ternak, tetapi juga membangun sumber bibit yang berkelanjutan.
Kesehatan ternak menjadi bagian penting dalam pengelolaan. Hewan-hewan memperoleh vaksinasi dan vitamin secara berkala. Pemeriksaan kesehatan menyeluruh dilakukan setiap tiga bulan dengan melibatkan tim kesehatan ternak.
Perhatian tersebut menjadi bukti bahwa peternakan harus dikelola dengan pengetahuan, standar kesehatan, dan tanggung jawab. Kerja keras saja tidak cukup; diperlukan ilmu, tata kelola, dan kemampuan mengikuti perkembangan zaman.
Membangun Pertanian Terpadu
Handeuleum Farm kini berkembang menjadi kawasan agribisnis terpadu seluas sekitar 8,5 hektare. Di dalamnya terdapat kebun buah, pertanian hortikultura, lahan rumput pakan, serta kandang sapi, kambing, domba, dan ayam petelur.
Kebunnya ditanami sekitar 100 pohon durian dan 15 pohon manggis. Berbagai tanaman lain tumbuh di kawasan tersebut, seperti kupa, alkesa, kemang, jamblang, namnam, sukun, jengkol, leci, pepaya, cempedak, pisang tanduk, dan pisang raja bulu.
Pada sektor hortikultura, Handeuleum Farm mengembangkan jagung, kacang-kacangan, mentimun, padi, dan sejumlah komoditas lainnya. Sebagian lahan digunakan untuk menanam rumput sebagai sumber pakan ternak.
Model terpadu tersebut memungkinkan setiap sektor saling menopang. Lahan menyediakan pakan bagi ternak. Limbah ternak dapat diolah menjadi pupuk. Pupuk dikembalikan untuk menyuburkan kebun dan tanaman pangan.
Inilah pertanian yang tidak sekadar mengejar hasil, tetapi juga membangun keberlanjutan.
Dari Mengajar Murid hingga Membimbing Peternak
Jiwa pendidik Husnul ternyata tidak pernah hilang. Jika dahulu ia membimbing murid di sekolah, kini ia mendampingi petani dan peternak di desa.
Handeuleum Farm terlibat dalam program ketahanan pangan desa di lima kecamatan di Kabupaten Bogor, meliputi 12 desa. Kegiatan tersebut tidak berhenti pada pengadaan kambing dan domba. Husnul bersama tim juga memberikan pendampingan pemeliharaan, mengembangkan pembibitan, serta membantu pemasaran hasil ternak masyarakat.
Populasi ternak yang dikembangkan bersama masyarakat di 12 desa itu telah mencapai sekitar 850 ekor.
Pola tersebut membuat masyarakat tidak berjalan sendiri. Mereka memperoleh indukan, pengetahuan pemeliharaan, pendampingan, serta akses menuju pasar. Dengan demikian, peternakan dapat tumbuh menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Ruang kelas Husnul kini memang telah berubah. Akan tetapi, perannya tetap sama: menumbuhkan kemampuan, menyalakan kepercayaan diri, dan membantu orang lain menjadi lebih mandiri.
Tidak Cukup Memelihara, Harus Membangun Pasar
Husnul memahami bahwa salah satu persoalan terbesar peternak adalah pemasaran. Banyak peternak mampu memelihara hewan dengan baik, tetapi menghadapi kesulitan ketika harus menjualnya dengan harga yang layak.
Karena itu, Handeuleum Farm mengembangkan beberapa jalur pasar.
Pasar pertama adalah petani atau peternak yang membeli ternak untuk dipelihara dan dikembangbiakkan. Pasar kedua berasal dari kebutuhan akikah, dengan permintaan sekitar lima hingga sepuluh ekor setiap hari.
Pasar ketiga adalah kebutuhan ternak potong di Jatiasih, Bekasi. Melalui jalur tersebut, rata-rata sekitar 100 ekor dipasarkan setiap pekan.
Pasar keempat adalah kebutuhan Iduladha. Pada 2026, jaringan Handeuleum Farm memasarkan sekitar 4.200 ekor kambing dan domba serta 318 ekor sapi ke berbagai daerah di Indonesia.
Handeuleum Farm juga dipercaya menjadi mitra penyedia hewan kurban bagi beberapa lembaga nasional, antara lain Bank Mandiri Pusat, Dompet Dhuafa, dan Badan Amil Zakat Nasional.
Hubungan dengan lembaga filantropi telah dirintis sejak 2014. Saat itu, Husnul bekerja sama memenuhi kebutuhan kurban dengan menghimpun ternak dari para peternak. Dari proses tersebut, ia mempelajari pentingnya kualitas ternak, kepastian pasokan, ketepatan pengiriman, serta kepercayaan mitra.
Pasar berikutnya adalah program ketahanan pangan desa. Melalui pola ini, Handeuleum Farm menjual indukan, melakukan pendampingan, dan membantu pemasaran hasil ternak warga.
Dengan jaringan tersebut, peternak tidak hanya diajarkan bagaimana memelihara, tetapi juga dipastikan memiliki jalan untuk menjual hasil usahanya.
Menumbuhkan Lapangan Kerja
Handeuleum Farm kini mempekerjakan sekitar 25 orang. Kegiatan usaha didukung oleh lima manajer area yang mengelola wilayah Tasikmalaya, Cibungbulang, Pamijahan I, Pamijahan II, dan Gunung Bunder.
Sebelum mengembangkan Handeuleum Farm, Husnul telah merintis perdagangan dan ekspor jahe melalui PT Agroe Jaya Satria pada 2014. Pengalaman itu mengajarkannya cara membaca pasar, menjaga kualitas produk, dan membangun jaringan distribusi.
Kini, keseluruhan usaha yang dikembangkannya, telah mencatat omzet sekitar Rp12,7 miliar dalam 1 tahun.
Namun, pencapaian tersebut bukan semata-mata kisah tentang angka. Di balik omzet itu terdapat para pekerja yang memperoleh penghasilan, peternak desa yang mendapatkan pendampingan, keluarga-keluarga yang memiliki sumber kehidupan, dan konsumen yang memperoleh pasokan ternak berkualitas.
Keberhasilan menjadi lebih berarti ketika ia ikut menghidupkan orang lain.
Inspirasi bagi Generasi Muda
Kisah Husnul Muttakien membawa pesan penting bagi generasi muda. Masa depan tidak hanya tersedia di kota, gedung perkantoran, atau perusahaan besar. Peluang juga terbentang di desa, kebun, sawah, dan kandang, selama dikelola dengan ilmu pengetahuan, teknologi, profesionalitas, dan keberanian.
Pertanian dan peternakan tidak boleh terus dipandang sebagai pekerjaan yang identik dengan kemiskinan atau keterbelakangan. Di tangan generasi terdidik, kedua bidang tersebut dapat berkembang menjadi usaha modern, membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi desa, dan menopang kemandirian pangan bangsa.
Sebagai alumni Al-Zaytun, Husnul menerjemahkan nilai pendidikan ke dalam karya nyata. Disiplin membentuk konsistensinya. Kemandirian menumbuhkan keberaniannya. Jiwa kepemimpinan menggerakkannya untuk melibatkan dan memberdayakan orang lain.
Ia mungkin tidak lagi berdiri di depan papan tulis. Namun, keteladanannya telah menjadi pelajaran yang hidup.
Malam semakin larut di Handeuleum Farm. Dari kandang-kandang itu terdengar suara ternak, sementara dedaunan bergerak perlahan disentuh angin pegunungan. Di tempat tersebut, saya menyadari bahwa Husnul sesungguhnya tidak pernah berhenti menjadi guru.
Dahulu, ia mengajar anak-anak membaca buku dan memahami pelajaran. Kini, ia mengajarkan masyarakat membaca peluang, mengolah tanah, memelihara ternak, dan membangun kemandirian.
Itulah dedikasi yang tidak pernah berhenti. Ruang pengabdiannya hanya berubah: dari kelas menuju kebun, dari sekolah menuju desa, dan dari mendidik murid menjadi menghidupkan harapan banyak orang.
Bagi anak-anak muda Indonesia, perjalanan Husnul adalah sebuah undangan: jangan takut memulai dari bawah, jangan malu kembali ke desa, dan jangan ragu menjadikan pertanian sebagai jalan masa depan.
Sebab, bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh mereka yang berbicara tentang perubahan, melainkan oleh orang-orang yang bersedia menanam, merawat, dan menumbuhkannya dengan tangan sendiri.



