lognews.co.id - Beberapa nelayan di Indonesia sangat bergantung pada penggunaan alat tangkap seperti bubu atau alat tangkap pasif berbentuk jebakan (dari bambu, rotan, atau kawat) yang diletakan di dalam air (sungai atau laut).
Bentuknya dirancang sedemikian rupa agar demersal atau ikan dan invertebrate yang hidup dan mencari makan di dasar perairan atau dekat dasar dapat ditangkap, tangkapan lainnya adalah hewan laut berjenis krustasea yaitu hewan air berkaki banyak dengan cangkang seperti rajungan, lobster, kerapu, kakap, cumi-cumi, sotong, serta swanggi (gurita)mudah masuk tetapi sangat sulit untuk keluar.
Bubu dikenal ramah dengan terumbu karang sehingga nelayan dapat mendapatkan hasil melimpah tanpa merusak ekosistem berbeda dengan jaring yang bisa tersangkut dan mengancam rumah atau habitat kehidupan aneka biota laut.
Alat tangkap bubu, terutama jenis lipat dan dasar, menjadi pilihan optimal karena bersifat pasif, ramah lingkungan, dan efektif menargetkan spesies dasar di perairan dangkal hingga 3-5 meter. Penggunaannya dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui hasil tangkapan berkualitas tinggi dan berkelanjutan.
Potensi Daerah Nelayan
Wilayah seperti WPP 718 (Laut Aru, Arafura, Timor Timur) dan WPP 573 (Samudra Hindia selatan Jawa) kaya ikan demersal (1,45 juta ton/tahun nasional) serta krustasea seperti rajungan, lobster (over-exploited di beberapa area), cumi-cumi, dan sotong. Daerah pesisir Jawa Timur (Pasuruan, Subang), Sumatera Barat, serta Aceh Jaya juga potensial untuk kerapu, kakap, dan swanggi di habitat lumpur-pasir atau karang dangkal. Potensi ini mendukung nelayan tradisional dengan perahu kecil, meski eksploitasi tinggi diperlukan pengelolaan lestari.
Kini alat tangkap tradisional ini terus mengalami perkembangan inovasi berupa bahan , struktur dan bentuk untuk mengoptimalkan tangkapan nelayan, berikut adalah beberapa contoh jenis bubu yang umum digunakan di Indonesia:
1. Berdasarkan Bentuk & Struktur
- Bubu Jantung (Bubu Apung): Berbentuk seperti jantung atau huruf "V". Biasanya dipasang di permukaan atau kolom air untuk menjebak ikan-ikan pelagis kecil yang bermigrasi.
- Bubu Silinder (Bubu Tabung): Sering terbuat dari bambu atau kawat yang digulung menjadi silinder. Umumnya digunakan di sungai atau rawa untuk menangkap ikan gabus, belut, atau lele.
- Bubu Kotak/Peti: Berbentuk kubus atau balok. Karena strukturnya kaku, bubu ini sangat stabil di dasar laut untuk menangkap ikan-ikan karang besar seperti kerapu atau kakap.
- Bubu Lipat: Mudah lipat, kapasitas angkut lebih banyak sehingga mendapatkan hasil tangkapan hidup yang berkualitas.
2. Berdasarkan Target Spesifik
- Bubu Rajungan: Variasi dari bubu lipat dengan desain pintu masuk yang sempit di samping, khusus untuk memikat rajungan agar tidak bisa keluar lagi.
- Bubu Udang Galah: Biasanya terbuat dari anyaman bambu dengan lubang masuk (injep) yang sangat halus, disesuaikan dengan ukuran tubuh udang galah di sungai.
- Bubu Cumi-cumi: Dilengkapi dengan atraktor berupa telur cumi tiruan atau dahan pohon di bagian luar untuk memancing cumi-cumi datang dan bertelur di dalam bubu.
Penggunaan bubu selain mudah dan murah dalam pembuatannya, alat tangkap tradisional ini menjadi solusi alat tangkap yang efektif dan berkelanjutan, mendukung eksploitasi kekayaan laut Indonesia tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem. (Amri-untuk Indonesia)


