lognews.co.id — Sejumlah peneliti menyebut faktor genetik memiliki kontribusi signifikan terhadap panjang umur manusia, bahkan diperkirakan mencapai sekitar 50 persen sejak fase awal kehidupan di dalam kandungan.
Peneliti dari Institut Sains Weizmann, Israel, menjelaskan bahwa usia harapan hidup tidak hanya ditentukan gaya hidup, tetapi juga dipengaruhi kombinasi gen, lingkungan, serta faktor kebetulan yang tidak selalu dapat diprediksi. Dalam sejumlah kasus, individu dengan susunan genetik serupa dan lingkungan yang hampir sama tetap dapat memiliki perbedaan usia kematian yang jauh.
Genetik dinilai memiliki dua sisi berbeda. Di satu sisi, mutasi atau kelainan gen dapat memicu penyakit yang memperpendek usia. Di sisi lain, terdapat pula gen pelindung yang mampu menekan risiko penyakit degeneratif sehingga membuka peluang hidup lebih panjang. Para ilmuwan menyebut usia panjang kemungkinan tidak dipengaruhi satu gen tunggal, melainkan ratusan hingga ribuan gen yang saling berinteraksi.
Kajian sebelumnya banyak menggunakan data pasangan kembar di negara Eropa Utara untuk melihat kesamaan pola usia hidup. Namun penelitian lanjutan menemukan bahwa faktor eksternal atau mortalitas ekstrinsik seperti kecelakaan, kekerasan, dan penyakit menular—dapat mengaburkan peran genetik yang sebenarnya.
Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa umur manusia merupakan hasil perpaduan antara warisan biologis, pola hidup, serta faktor lingkungan dan kejadian tak terduga. Dengan demikian, gen memang berperan penting, namun bukan satu-satunya penentu panjang pendeknya usia seseorang. (Amri-untuk Indonesia)


