Tuesday, 24 February 2026

Tujuh Fenomena Alam dalam Al-Qur’an dan Perspektif Sains Modern

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id — Al-Qur’an tidak hanya memuat ajaran ibadah dan ketuhanan, tetapi juga sejumlah ayat yang sering dikaitkan dengan fenomena alam. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, sejumlah ilmuwan dan cendekiawan Muslim menafsirkan ayat-ayat tersebut selaras dengan temuan sains modern. Berikut rangkuman tujuh fenomena yang kerap dibahas dalam literatur tafsir dan sains.

Pertama, fenomena api di dasar laut. Surah At-Tur ayat 6 menyebut “laut yang di dalamnya ada api”. Dalam geologi modern, aktivitas vulkanik bawah laut memang ditemukan di berbagai zona subduksi dan punggung tengah samudra, tempat magma dan lava keluar dari rekahan kerak bumi.

Kedua, pertemuan dua laut yang tidak bercampur. Surah Ar-Rahman ayat 19–20 menyebut adanya batas antara dua laut. Secara oseanografi, fenomena ini dikenal sebagai haloklin atau perbedaan densitas akibat kadar garam, suhu, dan tekanan, seperti di Selat Gibraltar antara Samudra Atlantik dan Laut Mediterania.

Ketiga, garis edar benda langit. Surah Al-Anbiya ayat 33 menjelaskan bahwa matahari dan bulan beredar pada garis edarnya. Astronomi modern membuktikan setiap benda langit bergerak dalam orbit tertentu akibat gaya gravitasi.

Keempat, perbedaan air tawar dan asin. Surah Al-Furqan ayat 53 menyebut adanya batas antara air tawar dan asin. Dalam ilmu kelautan, pertemuan sungai dan laut menciptakan zona estuari dengan lapisan berbeda karena perbedaan salinitas.

Kelima, proses terbentuknya hujan. Surah Ar-Rum ayat 48–49 menggambarkan angin yang menggerakkan awan hingga turun hujan. Meteorologi modern menjelaskan proses evaporasi, kondensasi, dan presipitasi sebagai bagian dari siklus hidrologi.

Keenam, sidik jari manusia. Surah Al-Qiyamah ayat 3–4 menyebut penyusunan kembali jari jemari manusia. Ilmu forensik modern membuktikan sidik jari bersifat unik pada setiap individu dan digunakan sebagai identifikasi biometrik sejak abad ke-19.

Ketujuh, asal-usul alam semesta. Surah Al-Anbiya ayat 30 menyebut langit dan bumi dahulu menyatu lalu dipisahkan. Sebagian ilmuwan Muslim mengaitkan ayat ini dengan teori Big Bang dalam kosmologi, yang menjelaskan alam semesta bermula dari kondisi sangat padat dan panas lalu mengembang.

Sejumlah akademisi menegaskan bahwa penafsiran ayat-ayat tersebut perlu dilihat dalam konteks tafsir klasik dan pendekatan ilmiah modern secara hati-hati. Sains bersifat dinamis dan berkembang melalui observasi serta verifikasi empiris, sementara Al-Qur’an dipahami umat Islam sebagai wahyu ilahi yang memuat petunjuk dan hikmah.

(Amri-untuk Indonesia)