lognews.co.id, Indramayu - Kunjungan Dr. Connie Rahakundini Bakrie M.Si, bersama Komandan lanal TNI Angkatan Laut Ridwan, Dosen PTIK, dan Dosen Universitas Pertahanan menilik kapal Al Zaytun di eretan Indramayu, mendapat sambutan spesial Syaykh Panji Gumilang (SPG).
Connie dan rombongan saling bertemu di area luar gedung pembuatan kapal dengan mengucapkan terimakasihnya telah diundang oleh SPG dan mengaku telah terlebih dahulu melaporkan kepada Kepala staf Angkatan Laut dan Panglima TNI terkait kunjungan langsung ke Kapal Al Zaytun.
Menjawab keingintahuan Connie mengenai yang sedang dilakukan oleh Syaykh Al Zaytun, Komandan Pangkalan Utama TNI AL III, mengira kawasan di Eretan akan dijadikan pelelangan ikan, namun hal itu terbantahkan saat (SPG) menyebut akan membuka kerjasama dengan pengusaha dengan kapasitas 200 GT, sampai 600 GT dengan sistem tersebut menjadi tantangan tersendiri dan menyebutnya seperti “gambling”
“dapat cepat untung, dapat lambat juga untung” terang SPG menjelaskan mengenai tujuan dari Blue Economy.
Dalam perbincangan, Connie mengagumi gagasan SPG yang merancang kapal sedemikian rupa hingga bisa menjangkau wilayah Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) paling dekat, yang berjarak kurang lebih 250 mile sehingga berkontribusi terhadap keamanan laut Indonesia.
Hal unik terjadi saat SPG mengumandangkan lagu keroncong dihadapan Connie dengan judul Pelabuhan Samudera dan Samudera Biru, dengan lirik yang menyentuh membuat Connie menitikan air mata kagum.
“Saya menitikan air mata, karena betul lo, kita haruspeduli laut, dan jangan hanya bicara, bangsa ini membutuhkan dejure, Syaykh ini contohnya” tegas Connie.
Connie yang terlibat di dalam Dewan Arsip Nasional bagian Maritim, melihat sejarah kemaritiman di Indonesia, soal kemampuan melaut nenek moyang bangsa Indonesia di zaman kerajaan ataupun kesultanan, dihapuskan saat Portugis, Spanyol, Belanda masuk menjajah.
“Intinya kita dihilangkan kemampuan melaut kita, padahal nenek moyang kita terkenal pelautnya” ujar Connie.
Karenanya Connie berharap Kapal Al Zaytun menjadi role model yang diterapkan diseluruh pesantren atau seluruh yang mempunyai kemampuan tersebut sehingga apabila terjadi ancaman pertikaian Amerika dan Tiongkok benar benar terjadi empat belas tahun lagi, maka dengan hormat Connie mengapresiasi apa yang diperbuat SPG dengan mulai membuat kapal kapal ukuran besar.
“Kita tidak mau rumah kita di acak acak orang yang berantem, kalau perlu semua keluar, pakai apa ? gak mugkin pakai kapal yang kecil kecil,” ujar Connie.
Lebih lanjut Connie kembali mengingatkan yang terjadi pada perang Taiwan, Jepang di laut Cina Timur maka yang bergerak adalah nelayan dan kemampuan bangsanya dalam kecepatan memproduksi kapal laut, seperti yang dilakukan SPG menyelesaikan dua kapal yang dikerjakan saat Covid -19 melanda.
“ternyata Syaykh bikinnya cepet banget, ternyata selama Covid, istilahnya nganggur, jadilah kapal, dan kemandirian, gak pakai uang BUMN, Menteri Keuangan, jadi kalau saya bilang yang seperti ini harus kita dukung” jelas Connie.
Soal pemberitaan dimasyarakat mengenai berita miring di Al Zaytun, Connie berpesan untuk melihat segala sesuatunya secara clear dengan tidak mencampur adukan denga politik, maupun mengkaitkan dengan isu lainnya yang membuat pusing, padahal menurutnya ada hal hal seperti Kapal Alzaytun yang PT.PAL saja tidak bermimpi membuat kapal sebesar Nabi Nuh olehnya apa yang dilakukan patut diperhitungkan dan didukung.
Terkait kabar perizinan IMB yang bermasalah, dirinya menghimbau jika hanya masalah izin, harusnya Bupati membantu namun dipertegas oleh SPG bahwa perizinan tersebut sudah hampir selesai.
SPG mengungkapkan dalam pembuatannya di kapal yang ke empat akan dibuat dengan nama “Ratu Connie Rahakundini”.
“saksikan, kapal ke empat dengan nama Ratu Connie Rahakundini” dihadapan wartawan dengan ekspresi kaget oleh Connie disambut riuh tepuk tangan semua rombongan. (Amr-untuk Indonesia)


