Wednesday, 04 February 2026

Serangan Hama Ulat Grayak Ancam Gagal Panen Jagung Petani Atambua

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Atambua – NTT memiliki luas panen jagung pada tahun 2025 sekitar  112.137 dengan produksi jagung Pipilan Kering KA 14% mencapai 291.886 ton atau rata-rata  produktivitas berkisar  2,6-3 ton per hectare dengan target produksi sebanyak 7-8 ton per hektar dengan 500 hektare lahan jagung di 10 kabupaten NTT sebagai gerakan awal yang akan terus di perluas.

Dalam pelaksaannya kini Petani Dusun Hofehan, Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barat, Atambua menghadapi tantangan yang mengancam adanya gagal panen jagung musim tanam II akibat serangan masif hama ulat grayak yang hampir merusak seluruh lahan. Produktivitas pertanian warga kian terpuruk karena tanaman kerdil, mati, dan bakal buah habis digerogoti hama.

Ulat Grayak Muncul dari Telur Kupu-Kupu                                           

Blasius, warga setempat, ungkap serangan dimulai saat jagung berumur dua bulan. "Kita mulai tanam November, jagung tumbuh besar, tiba-tiba tantangan ini muncul," keluhnya Rabu (7/1/2026). Hama berasal dari kupu-kupu yang hinggap di tanaman, tinggalkan telur jadi kepompong, lalu ulat grayak yang menggerogoti jagung hingga kering.

Lahan 5 Hektar Terancam Kerugian Besar

Maria, petani lain, sebut lahan jagung seluas 5 hektar miliknya terancam nol hasil. "Yang biasanya 5 hektar hasilkan 10 ton lebih, sekarang sebagian kerdil dan mati," ujarnya. Serangan hampir menyeluruh picu keresahan karena petani tak dapat bantuan cepat dari penyuluh pertanian (PPL) desa yang jarang turun lapangan.

Belum ada laporan resmi ke petugas karena PPL jarang sosialisasi atau pantau kondisi lahan. Petani pilih kendali manual meski terbatas efektivitasnya. Kondisi ini tunjukkan urgensi penyuluhan intensif agar musim tanam berikutnya tak terulang kerugian serupa di Tasifeto Barat. (Amri-untuk Indonesia)