Friday, 28 August 2026

Nusantara Menunggu Para Satria

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Lognews.co.id - “Nusantara Menunggu Para Satria” bukan sekadar slogan. Ia adalah diagnosis atas kondisi politik Indonesia hari ini: negara kepulauan dengan sumber daya raksasa, namun terus-menerus kehilangan arah karena krisis kepemimpinan moral dan institusional.

Pertama, demokrasi kita mengalami degradasi substansi. Pemilihan umum masih berjalan, tetapi kualitas kontestasi menurun menjadi kompetisi modal dan dinasti. Mietzner menyebut fenomena ini sebagai “oligarki elektoral”, di mana elit ekonomi-politik menggunakan pemilu untuk mempertahankan akses sumber daya, bukan untuk agregasi kepentingan publik. Data KPK 2014–2023 menunjukkan lebih dari 60% kepala daerah terjerat korupsi, menandakan lemahnya sistem rekrutmen dan pengawasan.

Kedua, negara gagal menjadi penengah yang netral. Dalam ekonomi politik, Hadiz dan Robison menjelaskan bahwa pasca-Orde Baru, alih-alih demokratisasi melahirkan negara kuat, yang muncul adalah “kapitalisme rente” yang bersekutu dengan kekuasaan. Akibatnya kebijakan publik lebih merespons lobi korporasi dan kelompok kepentingan daripada logika pembangunan jangka panjang. Proyek strategis nasional sering tumpang tindih dengan konflik agraria dan kerusakan lingkungan, tanpa mekanisme ganti rugi yang adil.

Ketiga, ide kebangsaan melemah. Benedict Anderson mengingatkan bahwa “komunitas terbayang” Indonesia hanya bisa bertahan jika terus diproduksi lewat narasi, pendidikan, dan keadilan. Hari ini narasi itu retak. Ketimpangan antarwilayah masih lebar: rasio Gini 2024 di 0,381, dan 80% PDB masih terkonsentrasi di Jawa. IKN diproyeksikan sebagai koreksi, tetapi tanpa desentralisasi fiskal dan SDM yang nyata, ia berisiko menjadi proyek simbolik.

Keempat, publik butuh “satria” dalam arti klasik Jawa: pemimpin yang memiliki tepo seliro, kapabilitas teknis, dan keberanian melawan struktur rente. Max Weber membedakan tipe kepemimpinan kharismatik, tradisional, dan legal-rasional. Indonesia hari ini kelebihan kharisma populis, kekurangan legal-rasional. Satria yang ditunggu bukan superhero, melainkan birokrat, legislator, hakim, akademisi, dan aktivis yang mau tunduk pada hukum dan data.

Kelima, jalan keluarnya institusional, bukan moralistik. Butuh tiga reformasi paralel: 1) Reformasi partai politik dengan keterbukaan pendanaan dan kaderisasi berbasis merit; 2) Penguatan lembaga anti-korupsi dan yudisial agar independen dari tekanan eksekutif; 3) Redistribusi berbasis wilayah melalui UU baru tentang pemerataan investasi dan pendidikan vokasi. Tanpa itu, setiap “satria” baru akan diserap sistem.

Nusantara tidak kekurangan orang pintar. Yang kurang adalah insentif untuk menjadi jujur. Ketika biaya politik tinggi dan risiko integritas besar, maka yang maju justru mereka yang paling pandai mengakali aturan.

Menutup esai ini, kita butuh pengingat kultural. Nyanyian yang paling relevan adalah “Tanah Airku” aransemen orkestra oleh Trisutji Kamal, yang mengubah lagu ibu ciptaan Ibu Sud menjadi karya simfonik. Ia mengingatkan bahwa cinta tanah air bukan euforia, melainkan disiplin dan pengorbanan sehari-hari.

Nusantara tidak menunggu penyelamat. Nusantara menunggu para satria yang bersedia bekerja dalam sistem, melawan sistem, dan membangun sistem baru.

 

(Bram, 2026)