Pulau Kalimantan Masih TERBAKAR! Karena Karhutla

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

BANJARBARU, Lognews.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian di Pulau Kalimantan, khususnya di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mencatat lebih dari 300 kejadian kebakaran sejak awal Juli 2026. Dampaknya, kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut sejak pagi hingga siang hari.

Informasi itu disampaikan Lia, staf pelaksana BPBD Kota Banjarbaru, saat diwawancarai tim Lognews.co.id melalui sambungan telepon pada Oktober 2026.

Lia mengungkapkan, jumlah kejadian kebakaran di wilayah Kota Banjarbaru telah mencapai lebih dari 300 kejadian sejak awal Juli hingga waktu wawancara.

“Untuk jumlah kejadian itu sudah hampir 300 lebih, dari awal Juli sampai ini, Mas,” ujar Lia kepada tim Lognews.co.id.

BPBD Banjarbaru Bentuk Posko Bersama

Dalam menghadapi kejadian karhutla, BPBD Kota Banjarbaru melakukan penanganan melalui posko bersama yang melibatkan sejumlah unsur, mulai dari TNI, Polri, hingga relawan.

Menurut Lia, koordinasi lintas unsur tersebut dilakukan untuk mendukung penanganan kebakaran yang terjadi di wilayah Kota Banjarbaru.

“Untuk saat ini BPBD Kota Banjarbaru sedang melakukan posko bersama dengan TNI, Polri, dan relawan,” katanya.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan bencana di tengah tingginya jumlah kejadian kebakaran. Namun, dampak karhutla masih dirasakan masyarakat, terutama melalui keberadaan kabut asap.

Kabut Asap Masih Terlihat Sejak Pagi

Selain penanganan kebakaran, kondisi kabut asap menjadi perhatian karena masih terlihat di Kota Banjarbaru. Lia menyebut kabut asap masih menyelimuti wilayah tersebut sejak pagi hingga siang hari.

“Untuk saat ini masih kabut asap dari pagi sampai siang,” ungkap Lia.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dampak kebakaran masih perlu diwaspadai. Kabut asap dapat mengganggu kenyamanan masyarakat saat beraktivitas di luar ruangan, terutama apabila terjadi penurunan jarak pandang atau peningkatan paparan asap.

Meski demikian, dalam wawancara tersebut Lia belum menyampaikan data terperinci mengenai luas lahan yang terbakar, jumlah titik api aktif, maupun jumlah warga yang terdampak langsung oleh kabut asap.

Kewaspadaan terhadap Dampak Karhutla

Karhutla tidak hanya menjadi persoalan pemadaman api, tetapi juga berkaitan dengan dampak lingkungan dan aktivitas masyarakat. Keberadaan kabut asap menjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi selama penanganan kebakaran berlangsung.

Dengan jumlah kejadian yang telah melampaui 300 kasus menurut keterangan BPBD Kota Banjarbaru, koordinasi penanganan dan pemantauan kondisi di lapangan masih menjadi hal penting.

Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, mengikuti informasi dari instansi terkait, serta berhati-hati saat beraktivitas di tengah kondisi kabut asap.

 

Perkembangan mengenai luas lahan terbakar, jumlah titik api aktif, dan kondisi kualitas udara masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai situasi karhutla di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (Saheel untuk Indonesia)