Update Sumur BDA 06 Pertamina di Tukdana: Warga Minta Kompensasi?

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Semburan gas dari Sumur BDA 06 PT Pertamina di Desa Pagedangan, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, yang terjadi pada Rabu, 30 September 2026, masih dalam proses penanganan hingga Kamis, 1 Oktober 2026. Peristiwa yang terjadi saat Pertamina melakukan servicing rutin sumur tersebut menyebabkan sekitar 18 rumah dalam radius 100 meter harus dikosongkan sebagai langkah antisipasi, sementara 808 warga dari tiga RT terdampak diarahkan ke lokasi evakuasi sementara.

Camat Tukdana Heka Sugoro mengatakan, semburan gas terjadi ketika pihak Pertamina sedang melakukan perbaikan atau servicing rutin pada Sumur BDA 06. Menurutnya, dalam proses tersebut terjadi tekanan yang menyebabkan gas keluar dari sumur.

"Jadi, kemarin sekitar pukul 12, terjadi ada kebocoran di BDA 06. Kebetulan di lokasi sumur sedang ada perbaikan. Ada service rutin dari Pertamina," ujar Heka dalam program Breaking News Prima Primetime News 1011 (BN PPN 1011).

Heka menjelaskan, wilayah yang menjadi perhatian berada di tiga RT, yakni RT 01, RT 02, dan RT 07. Berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak Pertamina, warga yang berada dalam radius 100 meter dari sumur diminta mengosongkan rumah untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya ledakan maupun dampak lain.

"Yang terdampak kemarin kami sudah dengan pihak Pertamina mengumpulkan para warga. Ada sekitar tiga RT, yaitu RT 1, RT 2, dan RT 7," katanya.

Suara Gemuruh Berangsur Mengecil

Sementara itu, proses penanganan Sumur BDA 06 masih berlangsung. Heka mengatakan suara gemuruh dari lokasi sumur yang sebelumnya terdengar cukup kuat mulai berangsur mengecil.

"Info di lapangan, suara-suara yang menggelegar itu sudah semakin mengecil dan sedang perbaikan," ujarnya.

Meski kondisi disebut berangsur membaik, pemerintah kecamatan belum menyatakan lokasi sudah sepenuhnya aman. Perbaikan masih dilakukan oleh teknisi Pertamina dan terus dipantau hingga proses penanganan selesai.

Heka mengatakan, teknisi Pertamina beserta kendaraan dan peralatan pendukung telah berada di lokasi untuk melakukan penanganan.

"Perbaikan itu terus berjalan," katanya.

Tim Kesehatan Disiagakan

Selain mengevakuasi warga, tim kesehatan juga disiagakan di dua titik, yakni lokasi evakuasi dan sekitar area sumur.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi apabila terdapat warga yang mengalami keluhan kesehatan akibat paparan gas atau bau menyengat.

Menurut Heka, hingga saat wawancara berlangsung, pihak Pertamina belum menyatakan bahwa gas tersebut bersifat beracun. Keluhan yang disampaikan warga sejauh ini terutama berkaitan dengan bau yang menyengat.

"Kalau untuk beracun sendiri pihak Pertamina belum menyatakan seperti itu. Tapi kalau misalkan ada warga yang mengeluhkan sakit dan lain sebagainya, pihak Pertamina juga sudah menyediakan tim kesehatan," ujarnya.

Warga Sampaikan Aspirasi Kompensasi

Dalam pertemuan antara warga, pemerintah, dan Pertamina yang berlangsung pada malam setelah kejadian, warga menyampaikan aspirasi terkait kompensasi atas dampak yang mereka rasakan.

Camat Tukdana Heka Sugoro mengatakan, pemerintah kecamatan akan mengoordinasikan aspirasi tersebut dengan pihak Pertamina. Namun, ia belum dapat memastikan bentuk kompensasi yang dimaksud karena hal tersebut masih perlu dibahas lebih lanjut.

Menurut Heka, hingga saat itu Pertamina baru menyediakan konsumsi berupa makanan bagi warga yang terdampak dan tidak dapat memasak di rumah karena harus mengungsi.

"Pertamina kemarin itu hanya baru menyediakan untuk konsumsi, untuk makanan lah yang tidak bisa memasak di rumah," ujarnya.

Heka menambahkan, kemungkinan masih terdapat tuntutan atau kebutuhan lain dari warga terdampak. Aspirasi tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan pihak Pertamina.

"Tapi kemungkinan warga yang lain juga mungkin ada tuntutan lain. Ya nanti kami koordinasikan dengan pihak Pertamina," katanya.

Pemerintah Siapkan Langkah Preventif

Peristiwa tersebut juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah kecamatan dan Pertamina untuk menyiapkan langkah mitigasi apabila kejadian serupa terjadi kembali.

Heka mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pertamina mengenai jarak aman permukiman dari lokasi sumur, termasuk kemungkinan penanganan terhadap rumah warga yang berada dekat dengan area sumur.

"Untuk warga-warga yang dekat dengan sumur ini, apakah direlokasi atau seperti apa, nanti akan kami koordinasikan dengan pihak Pertamina," ujarnya.

Ia menyebut Sumur BDA 06 bukan merupakan sumur baru. Aktivitas di lokasi tersebut telah berlangsung sekitar 10 tahun dan kejadian kali ini terjadi ketika Pertamina melakukan kegiatan pemeliharaan rutin.

Pemerintah dan Pertamina Terus Berkoordinasi

Penanganan di lapangan melibatkan pemerintah kecamatan, pemerintah desa, unsur TNI dan Polri, serta pihak Pertamina.

Heka mengatakan, koordinasi dengan Pertamina terus dilakukan, baik melalui komunikasi maupun pertemuan langsung. Pertamina juga disebut telah menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab apabila terdapat dampak yang lebih besar akibat peristiwa tersebut.

"Kami selalu berkoordinasi terus, baik via telepon maupun ketemu langsung," kata Heka.

Menurutnya, pemerintah kecamatan juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Indramayu. Untuk sementara, fokus utama pemerintah adalah memastikan keamanan warga terdampak dan mengawal proses penanganan sumur.

Belum Dinyatakan Sepenuhnya Aman

Hingga wawancara dilakukan pada Kamis, 1 Oktober 2026, Sumur BDA 06 masih dalam proses perbaikan dan belum dinyatakan sepenuhnya aman.

Suara gemuruh yang sebelumnya terdengar kuat disebut telah berangsur mengecil, tetapi proses penanganan masih terus berlangsung.

Hingga laporan ini disampaikan, tidak ditemukan korban jiwa maupun korban luka akibat peristiwa tersebut. Pemerintah dan Pertamina masih memantau kondisi di lapangan sampai penanganan dinyatakan selesai dan lokasi dipastikan aman. (Saheel untuk Indonesia)