Penulis: Edy Muzamil, S.Sos
lognews.co.id, Indonesia – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al-Zaytun terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan kesetaraan melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual. Pada Sabtu, 10/1/26, PKBM Al-Zaytun melaksanakan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran Sosiologi untuk warga belajar jenjang Paket C (Kelas C2).
Pertemuan perdana di awal tahun ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan dinamika masyarakat saat ini, yaitu "Hakikat dan Faktor Penyebab Ketimpangan Sosial".
Antusiasme Warga Belajar
Kegiatan yang berlangsung selama 40 menit ini dihadiri oleh 20 orang warga belajar yang terdiri dari kombinasi peserta didik usia remaja hingga dewasa (orang tua). Kehadiran yang mencapai target wajib belajar ini menunjukkan tingginya semangat literasi di lingkungan PKBM Al-Zaytun.
Pembelajaran dipandu oleh Tutor Edy Muzamil, S.Sos., yang membawakan materi dengan metode partisipatif sesuai dengan Kurikulum 2013 (K-13). Dengan berpedoman pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah disusun matang, Edy berhasil menghidupkan suasana kelas melalui diskusi dua arah.
Memahami Akar Ketimpangan
Dalam paparannya, Edy Muzamil menjelaskan bahwa ketimpangan sosial bukan sekadar perbedaan ekonomi, melainkan fenomena kompleks yang melibatkan akses terhadap sumber daya dan kesempatan.
Beberapa poin utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut meliputi:
- Hakikat Ketimpangan: Bagaimana ketimpangan muncul sebagai akibat dari perbedaan status sosial dan kebijakan yang tidak merata.
- Faktor Internal: Berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) seperti tingkat pendidikan dan budaya masyarakat.
- Faktor Eksternal: Berkaitan dengan kebijakan birokrasi atau hambatan struktural yang membatasi akses masyarakat terhadap keadilan sosial.
"Memahami ketimpangan sosial adalah langkah awal bagi warga belajar untuk memiliki empati dan daya kritis dalam melihat fenomena di sekitar mereka. Kami berharap pembelajaran ini mampu membentuk karakter warga belajar yang solutif," ujar Edy Muzamil di sela-sela kegiatannya.
Metode Kurikulum 2013
Meskipun waktu pertemuan terbatas hanya satu jam pelajaran (40 menit), implementasi Kurikulum 2013 tetap dikedepankan. Tutor menggunakan pendekatan yang membuat warga belajar dewasa tidak merasa digurui, melainkan diajak bertukar pikiran berdasarkan pengalaman hidup mereka sehari-hari.
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab dan evaluasi singkat untuk memastikan pemahaman warga belajar mengenai materi yang disampaikan. Dengan terlaksananya pertemuan pertama ini, PKBM Al-Zaytun kembali membuktikan bahwa pendidikan kesetaraan memiliki standar kualitas yang setara dengan pendidikan formal, baik dari segi perangkat pembelajaran maupun kompetensi tenaga pengajar
LAPORAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PKBM AL-ZAYTUN
Membangun Kesadaran Sosial: Memahami Ketimpangan di Sekitar Kita
Suasana penuh semangat menyelimuti ruang kelas PKBM Al-Zaytun pada pertemuan pertama semester ini. Sebanyak 20 warga belajar, yang terdiri dari kombinasi luar biasa antara orang tua dan anak dewasa, berkumpul untuk menimba ilmu dalam mata pelajaran Sosiologi (Paket C/C2).
Dibawah bimbingan Tutor Edy Muzamil, S.Sos., pembelajaran kali ini mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari: "Hakikat dan Faktor Penyebab Ketimpangan Sosial".
Apa yang Dipelajari Hari Ini?
Menggunakan Kurikulum 2013 (K-13) dengan panduan RPP yang terukur, pertemuan berdurasi 40 menit ini fokus pada:
- Hakikat Ketimpangan: Memahami bahwa ketimpangan bukan sekadar perbedaan, tetapi adanya ketidaksamaan akses terhadap sumber daya dan peluang.
- Faktor Penyebab: Membedah mengapa ketimpangan bisa terjadi, mulai dari faktor struktural (kebijakan) hingga faktor kultural (budaya/kebiasaan).
Mengapa Ini Penting?
Pelajaran Sosiologi di PKBM Al-Zaytun bukan hanya soal teori di atas kertas. Melalui tema ini, warga belajar diajak untuk:
- Memiliki empati yang lebih tinggi terhadap kondisi sosial masyarakat.
- Mampu menganalisis masalah sosial secara kritis dan bijak.
- Menyadari peran pendidikan sebagai salah satu kunci memutus rantai ketimpangan.
"Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia, dan kesadaran sosial adalah langkah pertamanya."
Terima kasih kepada seluruh warga belajar yang telah hadir tepat waktu dan berpartisipasi aktif. Semangat belajar tak kenal usia adalah bukti nyata bahwa masyarakat kita terus bergerak menuju arah yang lebih baik. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


