Oleh Ali Aminuloh (Refleksi Hari Desa Nasional) “Bangun Desa, Bangun Indonesia. Desa Terdepan untuk Indonesia.”
lognews.co.id -Tema Hari Desa Nasional 2026 ini terdengar seperti ajakan optimistis. Namun pertanyaan mendasarnya tetap menggantung: bagaimana desa bisa benar-benar berada di garis depan, bukan hanya disebut-sebut dalam pidato?
Tanggal 15 Januari diperingati sebagai Hari Desa Nasional, tanggal yang berakar pada pengesahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Melalui Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 2024, Presiden Joko Widodo menegaskan desa sebagai fondasi pembangunan nasional. Desa diposisikan bukan sebagai pelengkap kota, melainkan sebagai sumber daya strategis bangsabyang menjadi ruang hidup mayoritas rakyat Indonesia.
Namun, sejarah menunjukkan satu ironi: desa kerap diminta menopang Indonesia, tetapi sering tertinggal dalam akses pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Di titik inilah peringatan Hari Desa seharusnya berubah dari seremoni menjadi refleksi: desa seperti apa yang sedang dan ingin kita bangun?

Sebuah jawaban praksis tumbuh di Mekarjaya. Desa yang dulu dicap tak produktif ini berubah bukan karena industrialisasi besar-besaran, melainkan karena pendidikan yang dirancang sebagai jantung kehidupan. Melalui visi dan kerja panjang Syaykh Al Zaytun, Syaykh A.S. Panji Gumilang, Mekarjaya ditata sebagai ruang peradaban yang hijau, rimbun, dan beradab.
Moto Ma'had Al-Zaytun berbunyi tegas dan visioner: “Pusat Pendidikan, Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, dan Manusiawi.” Moto ini tidak berhenti sebagai semboyan dinding. Ia diterjemahkan ke dalam sistem kehidupan desa.
Pendidikan di Al Zaytun tidak memisahkan ilmu dari realitas sosial. Para petani setempat justru menjadi bagian penting dari ekosistem pendidikan. Mereka dihimpun dalam Perkumpulan Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia (P3KPI). Melalui skema ini, para petani bekerja sama mengolah lahan milik Al Zaytun, mendapatkan modal, pendampingan, serta jaminan bahwa hasil panen mereka dibeli dengan harga standar pemerintah. Rantai ketidakpastian yang selama ini membelenggu petani diputus secara sistematis.
Namun pemberdayaan tidak berhenti pada aspek ekonomi. Para petani didorong untuk meningkatkan kapasitas intelektualnya. Mereka mengikuti kuliah umum setiap pekan, berdialog dengan akademisi, dan diperkenalkan pada wawasan lintas disiplin. Petani juga didorong untuk meningkatkan strata pendidikan mereka. Dari sinilah lahir satu konsep yang jarang terdengar dalam kebijakan pembangunan: petani terdidik. Petani yang tidak hanya bekerja dengan otot, tetapi juga dengan nalar dan kesadaran.
Dari pendidikan, ekonomi desa bergerak. Dari ekonomi yang bergerak, lahirlah Koperasi Serba Usaha Desa Kota Indonesia: sebuah simbol sekaligus strategi. Koperasi ini menjembatani desa dan kota, menyatukan produksi desa dengan sistem distribusi modern, dan menegaskan kesetaraan. Desa tidak lagi diposisikan sebagai pemasok murah, melainkan sebagai mitra yang bermartabat. Terjadi simbiosis mutualisme: pendidikan menggerakkan ekonomi, ekonomi menopang kehidupan sosial, dan ekologi tetap dijaga.
Semua itu bertumpu pada trilogi kesadaran: filosofis, ekologis, dan sosial. Kesadaran filosofis memanusiakan manusia desa sebagai subjek pembangunan. Kesadaran ekologis menjaga alam sebagai ruang hidup berkelanjutan. Kesadaran sosial memastikan hasil pembangunan tidak timpang. Inilah makna “desa terdepan” yang sesungguhnya, desa yang matang secara peradaban.

Gagasan ini tidak berhenti di Mekarjaya. Syaykh menggagas pembangunan pusat-pusat pendidikan berasrama di 500 kabupaten/kota di Indonesia. Pendidikan diposisikan sebagai lokomotif transformasi desa dan penggerak ekonomi masyarakat. Sejak 1 Juni 2025, langkah konkret dilakukan melalui kuliah umum dan pelatihan pelaku didik setiap hari Ahad, menghadirkan 45 profesor lintas disiplin bidang LSTEAMS. Pada puncaknya, para profesor tersebut kembali diundang untuk merumuskan draf transformasi pendidikan berasrama yang disumbangkan kepada negara, karena hanya negara yang memiliki daya dan legitimasi untuk menjalankannya secara luas.
Jika tema Hari Desa Nasional 2026 adalah “Bangun Desa, Bangun Indonesia”, maka Mekarjaya menunjukkan bahwa desa dibangun bukan dengan janji, tetapi dengan ekosistem. Dari desa yang diberdayakan melalui pendidikan, toleransi, perdamaian, dan ekonomi berkeadilan, Indonesia perlahan dibangun.
Mungkin inilah pesan terpenting Hari Desa: masa depan Indonesia tidak selalu lahir dari pusat kota. Ia bisa tumbuh dari desa, asal desa diberi kepercayaan, pengetahuan, dan ruang untuk menjadi penentu. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


