Friday, 30 January 2026

Dari Masjid ke Masa Depan Bangsa: Ketika Politeknik Dirancang untuk Memperbaiki Peradaban

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 Oleh: Ali Aminulloh 

Masjid sebagai Ruang Awal Perumusan Peradaban

lognews.co.id, Indonesia - Rapat Tim 11 Institut Pertanian Bogor bersama Tim Pendiri Politeknik Tanah Air berlangsung pada Selasa, 20 Januari 2026, di Masjid Rahmatan Lil ‘Alamin. Sejak awal, forum ini tidak dimaknai sebagai rapat teknis semata, melainkan sebagai ruang perenungan nilai. Pengantar rapat menegaskan bahwa pengembangan politeknik harus berangkat dari landasan spiritual dan kebangsaan. Ketakwaan, Pancasila, serta penguatan keilmuan diletakkan sebagai fondasi filosofis, dengan orientasi pada perbaikan peradaban dan kemaslahatan masyarakat. Pendidikan, dalam konteks ini, diposisikan sebagai jalan panjang untuk membangun manusia dan bangsa. 

Pendidikan sebagai Instrumen Perbaikan Peradaban

Dalam paparannya, Syaykh A.S. Panji Gumilang menegaskan bahwa pengembangan Politeknik Tanah Air tidak boleh terjebak pada urusan administratif atau kelembagaan semata. Pendidikan harus dipahami sebagai instrumen strategis untuk memperbaiki tatanan moral, sosial, ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, perancangan kurikulum dan program studi ditempatkan sebagai fondasi utama. Kurikulum yang matang, sistematis, dan terarah menjadi dasar bagi seluruh proses berikutnya, mulai dari perizinan, penyiapan sumber daya manusia, hingga pengembangan sarana dan prasarana pendidikan.

Tahap Awal dan Momentum Sejarah

Pada tahap awal, politeknik direncanakan membuka tiga hingga lima program studi yang seluruhnya berorientasi pada pendidikan terapan. Program-program tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat dan mendukung pembangunan nasional. Penyiapan lokasi dan pembangunan fisik kampus dipandang sebagai bagian integral dari perencanaan akademik, dengan target pembangunan utama dapat diselesaikan dalam kurun waktu sekitar satu tahun agar fasilitas dapat difungsikan secara optimal. Momentum pengembangan politeknik dimaknai secara simbolik dan strategis, dengan rentang waktu dari Sumpah Pemuda 2025 hingga Sumpah Pemuda 2026 sebagai fase konsolidasi, sementara Januari 2026 ditetapkan sebagai titik awal implementasi nyata pendidikan.

Kurikulum Nasional yang Progresif

Kurikulum Politeknik Tanah Air dirancang tetap mengikuti kebijakan dan regulasi pendidikan nasional agar memperoleh pengakuan dan akreditasi negara. Namun, pada saat yang sama, kurikulum tersebut harus bersifat kontemporer, adaptif, dan progresif. Prinsip utamanya adalah menghasilkan rancangan yang dinilai lebih maju dan lebih baik, sehingga ketika ditinjau oleh pemerintah, kurikulum ini dipandang sebagai peningkatan mutu, bukan penyimpangan dari ketentuan. Seluruh pelaksanaan pendidikan diarahkan berjalan sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, dengan kedisiplinan terhadap aturan serta konsistensi dalam arah kebijakan dan implementasi.

WhatsApp Image 2026 01 23 at 06.45.47

Membentuk Manusia Indonesia Seutuhnya

Pendidikan politeknik diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang berkarakter, berdaulat, berdaya saing, dan memiliki kesiapan kerja. Lebih dari itu, pendidikan dipandang sebagai sarana pelaksanaan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Karena itu, pengembangan program pendidikan harus berorientasi pada upaya perbaikan kerusakan lingkungan dan pengurangan ketimpangan sosial melalui pendekatan yang solutif dan berkelanjutan.

Pertanian, Lingkungan, dan Kemandirian Bangsa

Dalam konteks pengembangan sektor pertanian, kehutanan, dan perkebunan, pendidikan diarahkan pada praktik yang inovatif dan kontekstual. Salah satunya melalui penerapan model kehutanan multitanaman di lahan terbatas sebagai sarana pembelajaran dan percontohan bagi masyarakat. Pertimbangan sejarah dan ekonomi nasional juga menjadi dasar penting, mengingat Indonesia pernah menjadi negara pengekspor utama komoditas strategis seperti kopi dan gula, namun kini menghadapi ketergantungan impor. Kondisi ini dipandang perlu dijawab melalui penguatan sistem produksi nasional yang berbasis pendidikan terapan.

Pendidikan, Produksi, dan Pemberdayaan

Politeknik diposisikan sebagai instrumen untuk membangun kembali kemandirian bangsa di bidang pangan dan ekonomi melalui integrasi antara pembelajaran, praktik produksi, dan pemberdayaan masyarakat. Setiap gagasan besar, ditegaskan Syaykh Panji Gumilang, harus melalui tahapan berpikir yang utuh: perumusan visi, penulisan rencana secara sistematis, dan pelaksanaan yang konsisten. Pendidikan tidak boleh berhenti pada tataran konseptual, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang terukur. Pelaksanaannya menuntut kerja kolektif, kesungguhan, dan keyakinan bahwa program yang dirancang dengan baik dan dijalankan secara disiplin akan menghasilkan manfaat luas bagi masyarakat dan negara.

Kurikulum Vokasi Murni Berbasis Praktik

Pandangan tersebut diperkuat oleh paparan Dr. Bagus P. Purwanto dari Tim 11 Institut Pertanian Bogor. Ia menjelaskan bahwa kurikulum Politeknik Tanah Air dirancang sebagai kurikulum vokasi murni dengan praktik berkelanjutan sebagai inti pembelajaran. Praktikum tidak bersifat sementara atau terbatas pada semester tertentu, tetapi berlangsung sepanjang masa studi, terutama pada bidang budidaya dan produksi. Struktur kurikulum tetap mengacu pada kerangka nasional, namun pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lapangan.

Luaran Nyata dan Profil Lulusan

Tugas akhir mahasiswa diarahkan menghasilkan produk atau luaran terapan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi, serta berpotensi dikembangkan lebih lanjut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dirancang secara ilmiah, aplikatif, dan kontemporer melalui pendampingan langsung di lahan masyarakat. Profil lulusan yang diharapkan mencakup disiplin sikap dan kerja, ketangguhan menghadapi tantangan, keterampilan teknis, penguasaan teknologi kekinian, serta kesiapan kerja dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

 

Struktur Jenjang dan Sistem Pendidikan Fleksibel

 

Kurikulum disusun berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dengan jenjang Operator (D1), Teknisi Analis (D2–D3), dan Ahli Terapan (D4). Sistem pendidikan menerapkan pola Multi Entry–Multi Exit untuk memberikan fleksibilitas jalur pendidikan bagi mahasiswa. Model pembelajaran menggunakan sistem pembelajaran ganda, dengan proporsi pembelajaran yang seimbang antara kampus dan lapangan.

 

Teaching Farm, Teaching Factory, dan Dunia Nyata

Sekitar 65 persen waktu belajar dialokasikan untuk praktik di Teaching Farm atau Teaching Factory yang dilaksanakan di luar kelas dengan standar kerja profesional, target produksi, dan luaran nyata sebagai dasar penilaian. Sementara 35 persen waktu belajar dialokasikan untuk pembelajaran teori dan praktik dasar di kampus melalui kelas, laboratorium, dan workshop. Praktikum laboratorium dirancang terjadwal dan terstruktur dengan dukungan fasilitas biologi, kimia, dan fisika. Pengembangan laboratorium pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan, dan teknik mesin dipusatkan di beberapa kecamatan sebagai etalase pendidikan terapan dan pembelajaran kontekstual.

Integrasi L-STEAMS

Teaching farm dirancang terbuka bagi masyarakat dengan sistem akses terkontrol, berfungsi sebagai sarana pembelajaran sekaligus media edukasi dan percontohan. Mesin dan sarana produksi diposisikan sebagai media pembelajaran utama dan sarana diseminasi teknologi. Seluruh mata kuliah dirancang dengan mengintegrasikan nilai L-STEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) yang dipadukan dengan spiritual kebangsaan sebagai ruh pendidikan.

Epilog: Menanam Kesadaran, Memanen Peradaban.

Dari ruang masjid hingga lahan praktik, dari kurikulum hingga produksi nyata, Politeknik Tanah Air dirancang sebagai novum gradum: langkah baru pendidikan terapan Indonesia. Di sini, pendidikan bukan hanya soal keterampilan kerja, tetapi tentang menanam kesadaran dan menumbuhkan kemanusiaan. Kesadaran filosofis diasah melalui visi dan nilai, kesadaran ekologis diwujudkan lewat praktik berkelanjutan, dan kesadaran sosial hadir melalui pemberdayaan masyarakat. Inilah pendidikan yang tidak berhenti pada ijazah, tetapi bergerak menuju peradaban. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah