Oleh : Ali Aminulloh
Transformasi Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Abad 21
lognews.co.id, Indonesia - Di saat banyak bangsa berlomba mengejar kemajuan dengan teknologi dan modal finansial, Indonesia justru dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kualitas manusianya sudah cukup kuat untuk menopang masa depan? Pertanyaan inilah yang mengemuka, tajam dan mencerahkan, dalam Pelatihan Pelaku Didik Berkelanjutan yang digelar pada 25 Januari 2026.
Pelatihan ini bukan sekadar forum akademik, melainkan ruang refleksi peradaban. Mengusung tema “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Modern Abad 21 dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia,” kegiatan ini menempatkan pendidikan sebagai poros utama pembangunan bangsa, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk satu abad ke depan.
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Setyo Tri Wahyudi, SE. M.Ec. Ph.D, Guru Besar Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (UNIBRAW), menyampaikan paparan yang lugas, berbasis data, sekaligus menggugah kesadaran kolektif. Tema yang dibawakannya tegas dan strategis: “Pesantren sebagai Penggerak Ekonomi Nasional.”
Pendidikan, SDM, dan Masa Depan Bangsa
Dalam paparannya, Prof. Setyo mengajak peserta untuk jujur bercermin. Indonesia, kata beliau, masih menghadapi tantangan serius dalam kualitas sumber daya manusia. Data internasional seperti PISA dan indikator nasional seperti IPM menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan sekadar soal akses, tetapi terutama soal mutu dan kesinambungan.
“Pendidikan adalah mesin utama penggerak ekonomi,” tegasnya. Tanpa manusia yang berkualitas, sumber daya alam dan teknologi secanggih apa pun akan kehilangan makna. Ia mencontohkan Singapura, negara tanpa sumber daya alam yang justru melesat karena sejak awal menaruh fokus pada pembangunan manusia.
Indonesia, menurutnya, harus belajar dari sana, namun dengan identitasnya sendiri. Di sinilah pesantren dan sistem pendidikan berasrama menemukan relevansinya.
Pesantren: Sistem Pendidikan, Bukan Sekadar Lembaga
Pesantren, dalam pandangan narasumber, bukan hanya tempat belajar agama atau ruang asrama bagi pelajar. Pesantren adalah sistem pendidikan terpadu yang menyatukan akademik, karakter, spiritualitas, disiplin, dan kemandirian ekonomi dalam satu ekosistem.
Pendidikan berasrama memungkinkan proses pembelajaran berlangsung 24 jam. Tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Di sanalah nilai, etos kerja, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial dibentuk.
“Ilmu tanpa adab tidak akan membawa peradaban,” ujarnya. Karena itu, pesantren memiliki keunggulan strategis: membentuk manusia secara utuh: IQ, EQ, dan spiritualitas berjalan beriringan.

Pesantren dan Ekonomi: Multiplier Effect yang Nyata
Lebih jauh, ia memaparkan bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi nasional, khususnya ekonomi lokal dan kerakyatan. Dengan ribuan peserta didik, wali santri, tenaga pendidik, serta aktivitas rutin, pesantren sejatinya adalah pusat ekonomi yang hidup.
Unit-unit usaha seperti kewirausahaan santri, penginapan, kantin, pertanian produktif, hingga jasa sederhana dapat menciptakan multiplier effect yang signifikan. Pendidikan dan ekonomi tidak berjalan terpisah, tetapi saling menguatkan.
Ia menekankan pentingnya melibatkan peserta didik secara langsung dalam praktik ekonomi, bukan sekadar teori. Tantangan wirausaha, pengelolaan lahan produktif, hingga pengembangan unit bisnis internal bukan hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menanamkan rasa kepemilikan, kreativitas, dan kemandirian.

Menuju Indonesia Abad 21
Pelatihan Pelaku Didik Berkelanjutan ini pada akhirnya menjadi penegasan arah. Bahwa menuju Indonesia modern abad 21, pendidikan tidak boleh berjalan setengah-setengah. Transformasi harus bersifat revolusioner: menyentuh sistem, budaya, dan orientasi jangka panjang.
Pesantren dengan pendidikan berasrama, jika dikelola secara visioner dan profesional, bukan hanya mampu mencetak insan berilmu dan beradab, tetapi juga menjadi lokomotif ekonomi bangsa. Inilah kontribusi nyata menuju Indonesia yang kuat menyongsong 100 tahun kemerdekaannya.
Dari forum ini, satu pesan menguat: masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kita mengejar zaman, tetapi oleh seberapa kokoh kita membangun manusia. Dan pesantren dengan seluruh potensi pendidikannya, sedang dipanggil untuk memainkan peran strategis itu. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


