Friday, 30 January 2026

Pesantren, Ekonomi, dan Masa Depan Peradaban Indonesia

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminuloh

lognews.co.id, Indonesia - Di tengah dunia yang berlari cepat mengejar teknologi, angka pertumbuhan, dan kecerdasan buatan, Indonesia justru menghadapi persoalan yang lebih mendasar: apakah manusianya cukup siap untuk menopang masa depan bangsanya sendiri? Pertanyaan itulah yang mengemuka dalam Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun yang digelar pada Ahad, 25 Januari 2026.

Pelatihan ini menjadi ruang refleksi strategis dengan tema besar “Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama Menuju Indonesia Modern Abad 21 dan 100 Tahun Kemerdekaan Indonesia.” Bukan sekadar agenda pendidikan, forum ini menempatkan pendidikan sebagai fondasi peradaban dan ekonomi bangsa dalam jangka panjang.

Hadir sebagai narasumber utama, Guru Besar Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (UNIBRAW) memulai paparan dengan pendekatan akademik yang tegas dan berbasis data. Pesan intinya jelas: kualitas sumber daya manusia adalah mesin utama penggerak ekonomi, dan pendidikan adalah instrumen kuncinya.

Ia mengurai fakta-fakta global dan nasional: dari rendahnya capaian pendidikan hingga tantangan daya saing, seraya menegaskan bahwa ekonomi modern tidak bisa bertumpu pada sumber daya alam semata. Negara yang bertahan dan melompat jauh adalah negara yang berinvestasi serius pada manusia. Dalam konteks Indonesia, pendidikan berasrama, terutama yang berakar pada pesantren, memiliki keunggulan struktural yang belum sepenuhnya disadari.

Pesantren, menurutnya, bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi ekosistem. Ia membentuk disiplin, karakter, kemandirian, sekaligus membuka ruang besar bagi tumbuhnya ekonomi lokal. Ketika pendidikan, kehidupan, dan aktivitas ekonomi menyatu, tercipta multiplier effect yang nyata dan berkelanjutan.

Dari Data ke Kesadaran Peradaban

Setelah paparan akademik itu berakhir, forum memasuki fase yang lebih reflektif dan ideologis. Syaykh Al-Zaytun, Syaykh A.S.Panji Gumilang mengambil alih podium, bukan untuk mengulang data, melainkan untuk menggulung kesadaran. Ia membawa peserta menembus lapisan sejarah, sosiologi, dan filsafat peradaban.

Syaykh mengawali dengan merujuk pemikiran Ibn Khaldun, tokoh besar sosiologi dunia dari Tunisia, yang menegaskan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial (al-insan madaniy bi al-thab’i). Kunci bertahannya sebuah peradaban, tegas Syaykh, terletak pada ashabiyah: solidaritas sosial yang tinggi dan sadar.

“Tanpa solidaritas, tidak ada peradaban,” ujar Syaykh. Ketika solidaritas terkikis, yang tumbuh adalah individualisme, hedonisme, dan korupsi yang menjadi tanda-tanda awal runtuhnya sebuah bangsa. Pandangan ini, menurutnya, justru relevan untuk membaca kondisi dunia hari ini, termasuk arah ekonomi global.

Indonesia, ditegaskan Syaykh, lahir bukan dari kesamaan darah atau bahasa, melainkan dari solidaritas besar lintas suku, budaya, dan keyakinan. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa adalah manifestasi nyata dari ashabiyah itu. Gotong royong adalah nama lain dari solidaritas yang membangun peradaban.

lognews.co.id foto 28 syaykh dam prof ekonomi pendidikan

Ekonomi Masa Depan dan Spirit Pesantren

Dalam penggulungannya, Syaykh menegaskan bahwa ekonomi masa depan tidak cukup ditopang oleh sistem moneter dan angka pertumbuhan, tetapi oleh karakter manusia yang mengelolanya. Ketika ekonomi tercerabut dari nilai, ia berubah menjadi alat eksploitasi. Ketika pendidikan kehilangan ruh, ia gagal menjaga peradaban.

Pesantren, dalam pandangan Syaykh, bukan sekadar bangunan atau sistem asrama, melainkan spirit pendidikan terpadu. Di sanalah jiwa dan badan dibangun bersamaan. Pendidikan tidak dipencar-pencar, tidak diserahkan pada “kehidupan liar” di luar nilai, tetapi diarahkan untuk membentuk manusia merdeka: merdeka berpikir, merdeka bersikap, dan merdeka secara ekonomi.

Syaykh juga mengaitkan pesantren dengan tantangan global: imperialisme ekonomi, ketergantungan moneter, dan rapuhnya solidaritas bangsa-bangsa modern. Negara yang kehilangan kendali atas manusianya, tegasnya, akan mudah digilas zaman.

“Zaman tidak bisa diubah,” ujar Syaykh, “tetapi manusia harus memiliki roh yang merdeka agar tidak digilas oleh zaman itu sendiri.”

Menuju Indonesia Abadi

Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun ini menegaskan satu hal penting: pendidikan berasrama berbasis pesantren bukan nostalgia masa lalu, melainkan strategi masa depan. Ia adalah jalan membangun manusia utuh, yaitu manusia berilmu, beradab, dan berdaya ekonomi.

Di ambang 100 tahun kemerdekaan Indonesia, forum ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati bukan sekadar soal teknologi atau angka PDB, tetapi tentang menjaga dan menghidupkan peradaban. Dan pesantren, dengan spirit solidaritas dan kemandiriannya, menawarkan fondasi itu.

Seperti diingatkan Syaykh di akhir penggulungannya, Indonesia hanya akan abadi jika pendidikannya mampu menjaga ruh zaman sekaligus ruh bangsanya sendiri. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah