Friday, 30 January 2026

Qabliyah Jumat Al Zaytun: Pendidikan, Sejarah, dan Ikhtiar Menghidupkan Indonesia

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Oleh Ali Aminulloh

lognews.co.id, Indonesia - Di pusat pendidikan Ma,had Al-Zaytun gagasan tidak hanya diajarkan, tetapi dikomunikasikan, dirawat, dan ditumbuhkan. Ada sebuah ruang dialog yang khas, tempat ide-ide besar bertemu dengan para pelaku didik dalam pengertian yang luas: eksponen, pejabat kampus, dosen, guru, kordinator wali santri, organisasi pelajar, dan komandan unit unit kelembagaan Al-Zaytun. Forum itu bernama Qabliyah Jumat, sebuah majelis pemikiran yang rutin dilaksanakan sebelum salat Jumat, dari pukul 09.30 hingga 11.00.

Qabliyah Jumat bukan sekadar agenda pertemuan biasa, melainkan ruang konsolidasi nilai dan kesadaran. Setiap pelaksanaannya diawali dengan ikrar Janji Sapta Dharma Bakti yang dilafalkan dalam tiga bahasa, menegaskan bahwa Al Zaytun berdiri di atas semangat kebangsaan, keilmuan, dan keterbukaan peradaban. Suasana semakin khidmat ketika Mars Al Zaytun, Mars Universitas Al Zaytun (UAZ), Mars Politeknik Tanah Air, dan ditutup dengan Hymne Politeknik Tanah Air berkumandang berurutan—sebuah rangkaian simbolik tentang identitas, dedikasi, dan cita-cita.

Setelah itu, forum memasuki inti: tausiyah Syaykh Al Zaytun.

Dalam tausiyahnya, Syaykh AS. Panji Gumilang mengajak hadirin memasuki kesadaran sejarah. Memasuki tahun 2026, menurutnya, pembangunan pendidikan tidak boleh semata-mata menggantungkan diri pada pendanaan kolektif atau skema administratif. Pendidikan harus menjadi instrumen utama untuk membangun kesadaran mempertahankan negara dan keberlangsungan Indonesia sebagai sebuah peradaban.

Sejarah dunia menjadi cermin. Menjelang Perang Dunia Pertama, dunia terbagi antara negara penjajah dan negara terjajah. Perang, betapapun brutalnya, selalu berangkat dari satu naluri dasar: mempertahankan negara. Ketika Jerman dipaksa menanggung hukuman perang melalui perjanjian yang tidak adil, dendam sejarah pun tumbuh. Dari situlah Perang Dunia Kedua meledak lebih dahsyat, melahirkan tokoh seperti Adolf Hitler, seorang kopral yang kemudian memimpin mesin perang raksasa, menaklukkan Eropa, bahkan nyaris menguasai wilayah Soviet.

lognews.co.id foto 11 qobliah jumat 30126

Di sisi lain, Soviet bangkit dari runtuhnya kekaisaran dan berdiri sebagai Uni Soviet (USSR). Dunia lalu terbelah oleh ideologi: kapitalisme, komunisme, dan fasisme. Rusia di bawah Stalin, yang kerap digambarkan kejam, justru menunjukkan satu hal penting: berpegang teguh pada janji dan kemampuan menggerakkan rakyat. Ketika perjanjian Molotov–Ribbentrop dilanggar oleh Nazi Jerman dan wilayah Soviet diserang, Stalin berpidato, menyerukan bahwa hanya rakyatlah yang mampu mempertahankan negara. Dan sejarah mencatat, lautan manusia mampu melawan alutsista. Rusia memenangkan perang. Amerika datang belakangan, lalu membagi Jerman menjadi Barat dan Timur.

Pelajaran sejarah itu berulang. Korea terbelah. Tragedi kemanusiaan terjadi. Negara-negara yang rapuh dalam kesadaran kolektifnya mudah dipecah dan dihancurkan.

“Indonesia juga harus dipertahankan,” demikian benang merah yang ditegaskan Syaykh Al Zaytun. Ia merujuk pada teori ‘ashabiyah Ibnu Khaldun: bahwa solidaritas sosial adalah fondasi tegaknya peradaban. Tanpa kesadaran bersama, sebuah bangsa akan runtuh, bahkan tanpa perlu diserang dari luar.

Dari sinilah gagasan besar pendidikan Al Zaytun bertolak. Pendidikan dan ekonomi harus berjalan bersama sebagai instrumen mempertahankan keabadian Indonesia. Kurikulum disusun bukan karena tidak percaya pada kurikulum nasional, melainkan untuk membangun kesadaran yang berkelanjutan, berbasis LSTEAMS, dan selaras dengan arah negara. Keselarasan itu diibaratkan sebagai laras senjata: lurus, terarah, dan jelas tujuannya. Laras itu adalah Indonesia Raya.

lognews.co.id foto 10 view belakang qobliah 30126

Syaykh Al Zaytun menempatkan lagu Indonesia Raya bukan sekadar simbol seremonial, melainkan roadmap pembangunan bangsa. Tiga stanza Indonesia Raya diterjemahkan menjadi tiga pilar kurikulum: pertama, membangun badan dan jiwa bangsa;
kedua, membangun kekayaan bangsa;
ketiga, membangun Indonesia yang abadi.

Kurikulum tersebut disusun berjenjang, terintegrasi dengan pelatihan guru, serta memasukkan dimensi akidah dan syariah ke dalam kerangka hukum dan spiritual. Tidak ada pengulangan tanpa makna; setiap jenjang adalah transformasi.

Pada ranah ekonomi, Al Zaytun menempuh jalan konkret melalui konsep ihya’ al-mawat, menghidupkan tanah mati. Pertanian dikembangkan tanpa pupuk kimia, dengan pupuk organik cair berbasis teknologi nano. Dengan 500 hektare lahan pertanian, perkebunan, dan kehutanan, Al Zaytun membangun kemandirian pangan dan ekologi. Dari Kadu Hideung, Subang, Ciputat, hingga Banten, puluhan ribu pohon ditanam sebagai investasi peradaban.

Bahkan hal-hal kecil pun dimobilisasi: setiap guru menyiapkan satu kilogram daun hijau per hari, pelajar mengumpulkan sampah daun dari asrama, hingga delapan bulan lamanya: hingga hutan benar-benar hidup. Semua dilakukan sebagai bakti kolektif, demi menghidupkan bumi.

Qabliyah Jumat di Al Zaytun, dengan demikian, bukan sekadar pengantar ibadah. Ia adalah ruang penyemaian gagasan, tempat sejarah, pendidikan, ekonomi, dan spiritualitas bertemu dalam satu napas: menjaga Indonesia agar tetap hidup, berdaulat, dan bermakna hingga jauh melampaui 2045.(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah