Friday, 30 January 2026

Al-Zaytun Bangun Pabrik Pupuk Organik Mandiri Guna Hidupkan Tanah Mati

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indonesia - Ma’had Al-Zaytun meluncurkan program fabrikasi pupuk organic yang diumumkan dalam dzikir Jumat di Masjid Rahmatan Lil Alamin, Ma’had Al-Zaytun, Jumat (30/1/2026).

Fabrikasi pupuk organik akan memanfaatkan serasah daun yang dikumpulkan sebagai bahan utamanya, program ini menjadi Gerakan kolektif bagi seluruh ekosistem pendidikan Al-Zaytun, mulai dari guru, pelajar hingga civitas Ma’had Al-Zaytun yang bersama sama mengumpulkan bahan organic.

Pengumpulan serasah akan difokuskan diareal sekeliling Gedung pembelajaran dan gedung asrama yang terkordinir di tiap tiap kelas yang kemudian disimpan kedalam sebuah karung dan ditempatkan disisi yang kemudian akan diangkut oleh petugas lain, langkah tersebut tidak hanya bertujuan menciptakan pupuk organik, tetapi juga menjadikan lingkungan areal kampus hijau yang terbebas dari serasah daun.

Selain serasah atau daun yang berguguran yang menjadi bahan utama pembuatan pupuk organic ini, para guru Ma’had Al Zaytun sudah memulakan dengan mengumpulkan daun segar sebanyak 1 Kg per hari.

 Syaykh Al Zaytun Syaykh panji Gumilang dalam dzikir Jumat juga mengarahkan agar air cucian beras dan cangkang telur menjadi bagian dari bahan pupuk organik begitupun dengan lebihan makanan agar dikumpulkan dan tidak dibawa keluar Ma’had Al-Zaytun, selari dengan program tersebut dalam tempo sesingkat singkatnya akan dibuatkan titik sentral dikumpulkannya bahan bahan pupuk organik.

Efisiensi Biaya hingga 75 Persen

Kebutuhan pupuk di Al-Zaytun terbilang besar, mengingat luas lahan pertanian padi mencapai sekitar 400 hektare dan perkebunan dengan 50.000 pohon.

Syaykh Panji Gumilang menjelaskan bahwa satu pohon pada usia satu tahun membutuhkan minimal satu kilogram pupuk per tahun. Dengan jumlah tanaman yang ada, kebutuhan pupuk bisa mencapai puluhan ton dan terus meningkat seiring usia tanaman.

Dengan fabrikasi pupuk organik, biaya produksi diproyeksikan turun hingga 75 persen dibandingkan penggunaan pupuk kimia impor yang saat ini mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram.

“Modal awal memang besar, tetapi setelah sistem berjalan, biaya produksi pupuk hanya sekitar 25 persen dari biaya pembelian pupuk kimia,” jelasnya, efisiensi tersebut, menurut Syaykh, dapat dialihkan untuk kesejahteraan.

Target Penggunaan Pupuk Organik hingga 100 Persen

Al-Zaytun menargetkan penggunaan pupuk organik mencapai minimal 90 persen, bahkan hingga 100 persen pada lahan pertanian dan perkebunan.

Syaykh mengatakan kebutuhan akan bahan pupuk organik semua sudah ada, seperti lebihan makanan dan serasah kemudian bilapun ingin menambahkan akan dicarikan melalui sisa sisa ikan dari pasar ikan.

Menghidupkan Kembali Tanah Indonesia

Syaykh Panji Gumilang menyoroti kondisi pada umumnya sudah masuk kepada tanah mati untuk itu peran pupuk organik sangat dibutuhkan dalam menghidupkan tanah mati sehingga mampu menghidupkan segala macam tanaman mulai dari tanaman kayu yang subur di 5000 Ha dan tanaman musiman yang bisa penen per dua atau tiga bulan dan bisa mensejahterakan karena subur, maka inilah cara mempertahankan tanah air agar terus abadi dari usaha kita menata tanah yang kita mililiki.

Syaykh menjelaskan bahwa apa yang diusahakan bersama adalah kemandirian disebuah arena pendidikan swasta, swasta yang mandiri dari segala hal termasuk menggunakan kurikulum yang mandiri. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah