lognews.co.id, Indonesia - Belakangan sering terdengar ungkapan, “Pendidikan anak usia dini tidak perlu kurikulum.” Sekilas terdengar bijak dan humanis: biarkan anak bermain, tumbuh alami, tanpa dibebani aturan. Dalam rapat penyusunan Kurikulum LSTEAMS Kamis, 5 Februari 2026, Syaykh Al Zaytun bahkan mengakui, ungkapan itu terdengar benar. Namun justru di situlah letak persoalan mendasarnya.
Sebab yang sering disalahpahami adalah untuk siapa kurikulum itu dibuat
Kurikulum bukan beban bagi anak, melainkan bimbingan bagi guru. Anak usia dini tidak pernah membaca dokumen kurikulum; yang membacanya adalah pendidik. Kurikulum hadir agar apa yang disampaikan guru tidak liar, tidak acak, dan tidak tergantung selera pribadi, tetapi terarah, bertujuan, dan manusiawi. Tanpa kurikulum, yang terjadi bukan kebebasan anak, melainkan kekosongan arah pendidik.
Di sinilah Kurikulum LSTEAMS menemukan relevansinya
Hakikat Kurikulum: Mendekatkan Cita-Cita kepada Anak
Hakikat kurikulum sejatinya sederhana namun mendalam:
mendekatkan apa yang kita cita-citakan tentang manusia masa depan kepada peserta didik hari ini.
Melalui tujuan pembelajaran, guru diarahkan: apa nilai yang ingin ditanamkan, pengalaman apa yang perlu dihadirkan, dan bagaimana cara menyampaikannya secara sesuai usia.
Kurikulum bukan daftar hafalan, melainkan peta jalan kemanusiaan. Ia memastikan bahwa proses belajar tidak sekadar mengisi waktu, tetapi menumbuhkan manusia.
LSTEAMS dan Pendidikan yang Beradab Sejak Dini
Kurikulum LSTEAMS (_Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, Spiritual_) tidak dimaksudkan untuk “mengajarkan disiplin ilmu” kepada anak PAUD, melainkan menanamkan nilai lintas disiplin secara alami dan manusiawi.
- Law hadir sebagai rasa adil dan aturan bermain.
- Science sebagai rasa ingin tahu.
- Technology & Engineering sebagai keberanian mencoba dan memperbaiki.
- Art sebagai ekspresi rasa.
- Mathematics sebagai keteraturan.
- Spiritual sebagai kesadaran makna dan empati.
Semua itu tidak diajarkan secara verbal, tetapi dihidupkan melalui bimbingan guru. Dan bimbingan itu memerlukan kurikulum.
Di sinilah kurikulum menjadi wujud nyata dari kemanusiaan yang adil dan beradab: anak tidak dipaksa menjadi “pintar”, tetapi dituntun menjadi manusia.
Sejalan dengan Moto Al Zaytun
Moto Al Zaytun, “Pusat Pendidikan, Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian, Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas dan Manusiawi”, menemukan fondasinya justru di pendidikan anak usia dini.
Tidak mungkin membangun: toleransi tanpa pembiasaan sejak kecil, perdamaian tanpa empati yang ditumbuhkan, kecerdasan tanpa arah nilai, dan kemanusiaan tanpa pendidik yang sadar perannya.
Kurikulum LSTEAMS pada Anak Usia Dini/Tunas bukanlah alat kontrol, melainkan alat kesadaran bagi guru agar setiap aktivitas bermain, bercerita, bergerak, dan berinteraksi selalu bermuara pada pembentukan manusia seutuhnya.
Penutup: Yang Tidak Dibutuhkan Anak Bukan Kurikulum, Tapi Beban
Maka benar:
anak usia dini tidak membutuhkan kurikulum sebagai beban.
Namun keliru besar jika disimpulkan PAUD tidak membutuhkan kurikulum sama sekali.
Yang dibutuhkan adalah kurikulum yang memahami anak, bukan mengalahkan anak. Kurikulum yang membimbing guru, bukan mengekang kreativitas. Kurikulum yang berangkat dari cita-cita peradaban, bukan sekadar administrasi.
Dan di titik inilah, Kurikulum LSTEAMS tidak hadir sebagai dokumen mati, melainkan ikhtiar hidup membangun manusia sejak tunasnya. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


