Friday, 27 February 2026

Kedalaman Kasih dan Ruang Kebebasan: Kiprah Tutor PKBM Al Zaytun

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Umi Mutiah Marowiyah, S.Psi. (Tutor PKBM Al Zaytun)

lognews.co.id, Indramayu – Guratan lelah di wajah para ibu siang itu perlahan sirna, berganti dengan binar antusiasme. Memasuki rangkaian ketiga Safari Ramadhan 1447 H yang bertempat di TK Al Khoiriyah Gabel, suasana terasa berbeda. Setiap blok yang dikunjungi selalu membawa cerita uniknya sendiri, menciptakan dinamika dialog yang hidup antara para pendidik dan masyarakat.

Menenun Kemandirian dan Motivasi

Acara yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 15.30 ini dibuka dengan paparan mencerahkan dari Ibu Dewi Asih Nusantari, representatif Kodeko. Beliau mengupas tuntas keberhasilan Kodeko yang mencatatkan pencapaian luar biasa melalui hasil RAT hingga miliaran rupiah.
Bukan sekadar angka, Umi Dewi menekankan pentingnya para ibu memiliki ikatan kuat dengan Al Zaytun. Melalui program-program baru tahun 2026, para ibu dimotivasi untuk mandiri secara ekonomi, hingga akhirnya salah seorang warga dengan bangga bersedia menjadi representasi Kodeko untuk blok Gabel.

Seni Mengasuh: Antara Ketegasan dan Kasih Sayang

Memasuki inti bahasan mengenai "Parenting dan Keluarga", Umi Umutiah mengawali dengan landasan hukum pernikahan sesuai Al-Qur'an. Diskusi menjadi hangat saat menyentuh fenomena anak yang terlalu dimanja dan kecanduan gawai.
"Kalau ngomong itu mudah, tapi menjalankannya gimana? Bisa?" tanya Bu Aziz, sesepuh Gabel, disambut tawa renyah para ibu yang merasakan sulitnya membendung arus digital. Menanggapi hal tersebut, dirumuskanlah tiga langkah konkret:

- Membangun Resiliensi: Membiarkan anak merasakan kegagalan tanpa terburu-buru menolong, guna membentuk growth mindset yang fokus pada proses perjuangan.
- Detoks Dopamin: Mengganti durasi video pendek dengan aktivitas "lambat" seperti mewarnai, memasak, atau berolahraga.
- Aturan Screen After Task: Gadget diposisikan sebagai reward (hadiah) setelah tugas utama selesai, bukan aktivitas utama sepanjang hari.

Kuncinya tetap pada keteladanan orang tua. Konsistensi antara aturan dan tindakan adalah fondasi keberhasilan pola asuh ini.

Menghapus Jejak Depresi: Menuju Good Enough Parenting

Kasus ketiga menyentuh sisi emosional: beban "Ibu Sempurna" yang seringkali berujung pada kelelahan dan depresi. Hampir seluruh peserta mengangguk setuju, merasakan beban yang sama. Saran kolektif muncul: komunikasikan dengan suami. Umi Umutiah pun menambahkan perspektif penting:
- Turunkan Standar: Sadari bahwa Good Enough Parenting lebih sehat daripada mengejar kesempurnaan yang semu. Tak apa jika lantai sedikit berantakan demi kesehatan mental.
- Delegasi & Bantuan: Jangan menjadi "martir". Mintalah bantuan pasangan atau gunakan jasa asisten/daycare jika anggaran memungkinkan.
- Self-Compassion: "Anda tidak bisa memberi jika gelas Anda sendiri kosong." Berhentilah menyalahkan diri sendiri.
- Waktu "Bukan Orang Tua": Miliki minimal 30 menit sehari untuk diri sendiri: membaca atau sekadar diam tanpa gangguan.

"Iya perlu itu, Ustadzah! Tinggalkan semua pekerjaan!" seru para ibu penuh semangat.

WhatsApp Image 2026 02 26 at 22.32.55 1

Bahasa Kasih dan Matematika Ikhlas

Kemeriahan berlanjut saat Bu Yuni membedah "5 Bahasa Kasih" dengan sangat mendetail, lengkap dengan peragaan yang mengundang gelak tawa. Beliau menekankan pentingnya pelayanan prima istri kepada suami. Meski ada kekhawatiran tentang rasa lelah, Bu Sri (Ketua PIP) mempertegas bahwa komunikasi dengan pasangan dan mencari solusi (bahkan melalui referensi digital) adalah kunci untuk tetap memberikan pengabdian terbaik.
Umi Umutiah menambahkan satu faktor krusial: Pengorbanan. Pernikahan adalah persatuan dua jiwa utuh yang bersedia mengorbankan ego demi kerjasama dalam keluarga.
Sebagai penutup yang filosofis, Umi Dewi menghadirkan "Matematika Ikhlas":
- 1 : 1 = 1 (Memberi satu, berharap satu, hasilnya biasa saja).
- 1 : 2 = 0,5 (Memberi sedikit, berharap banyak, hasilnya kecewa).
- 1 : 0 = \infty (Memberi tanpa berharap, hasilnya ketidakterhinggaan syukur).

WhatsApp Image 2026 02 26 at 22.32.55

Epilog: Ruang dalam Kebersamaan

Pernikahan bukanlah belenggu yang mengekang pertumbuhan jiwa. Mengutip esensi pemikiran Kahlil Gibran, cinta sejati adalah laut yang bergerak di antara pantai jiwa. Mandiri secara spiritual menjadi fondasi sebelum bersatu secara fisik.
Tugas kita adalah menjaga api cinta tetap menyala tanpa membakar kebebasan pasangan. Layaknya senar kecapi yang bergetar dalam simfoni yang sama namun tetap berdiri sendiri-sendiri, "ruang dalam kebersamaan" inilah yang akan membawa hubungan menuju keabadian yang sehat dan harmonis. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah