Friday, 28 August 2026

Al-Zaytun, Kepercayaan Alumni yang Kembali Berlabuh pada Generasi Penerus

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh Ali Aminulloh

lognews.co.id - Ladang yang menginspirasi tidak selalu ditandai oleh bangunan megah atau hamparan sawah yang hijau. Ada ladang yang tumbuh dari kenangan, pengalaman, dan kepercayaan. Ladang itu bernama Al-Zaytun. Di tempat inilah benih-benih pendidikan yang pernah ditanam puluhan tahun lalu kini mulai dipanen. Bukan hanya melalui keberhasilan para alumninya, tetapi juga melalui keputusan mereka untuk kembali mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada almamater yang pernah membentuk perjalanan hidup mereka.

Suasana haru begitu terasa dalam proses wawancara Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2026. Di hadapan pewawancara, duduk para orang tua yang ternyata bukan orang asing bagi Al-Zaytun. Dahulu mereka adalah santri yang pernah mengisi ruang-ruang kelas, mengikuti berbagai aktivitas pendidikan, dan tumbuh bersama nilai-nilai yang ditanamkan di Mahad Al-Zaytun. Kini, mereka kembali hadir dengan peran yang berbeda, sebagai wali santri.

Salah satunya adalah Yayah, alumni Angkatan ke-4. Dengan penuh keyakinan, ia mengantarkan putranya, Hammam Abdul Jabbar, untuk menjadi calon santri kelas VII. Keputusan itu bukan muncul karena cerita orang lain, melainkan karena pengalaman hidupnya sendiri selama belajar di Al-Zaytun.

Hal serupa juga dilakukan Hendra Setyo, alumni Angkatan ke-1. Ia mempercayakan pendidikan putranya, Rayya Andro Salaga, yang juga akan memasuki kelas VII. Baginya, kembali memilih Al-Zaytun adalah pilihan yang telah teruji oleh waktu.

Dari Tangerang, Banten, hadir pasangan alumni yang sama-sama pernah ditempa di Mahad Al-Zaytun. Afliza, alumni Angkatan ke-3, bersama suaminya Maryanto Dirgantara, alumni Angkatan ke-2, mengantarkan putra mereka, Ali Putera Layang, sebagai calon santri kelas VII. Keputusan mereka menjadi gambaran bahwa nilai-nilai pendidikan yang pernah mereka rasakan kini ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Cerita yang tak kalah menghangatkan datang dari Jakarta Utara. Satiri, alumni Angkatan ke-1, bersama istrinya Dina Syafirayatul Layali, alumni Angkatan ke-2, membawa putri mereka, Ainurahma Az-Zahra, untuk melanjutkan pendidikan di kelas VII Al-Zaytun. Sebuah keputusan keluarga yang lahir dari pengalaman, bukan sekadar harapan.

Di balik keputusan para alumni tersebut tersimpan alasan yang hampir senada. Mereka mengaku memiliki kekhawatiran terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikan saat ini. Berdasarkan pengalaman ketika menjadi santri, mereka memandang Mahad Al-Zaytun sebagai tempat belajar yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, melatih kemandirian, menanamkan disiplin, serta menghadirkan lingkungan pendidikan yang kondusif dan aman dari berbagai pengaruh negatif.

Bagi mereka, Al-Zaytun bukan hanya sekolah berasrama. Ia adalah rumah pendidikan yang memberikan rasa tenang bagi orang tua. Ada perasaan lebih lega karena mereka telah merasakan sendiri bagaimana kehidupan di dalam kampus yang tertib, aman, dan penuh pembinaan.

Fenomena para alumni yang berbondong-bondong menyekolahkan anak-anaknya di almamater sendiri menjadi bukti nyata bahwa kepercayaan terhadap Al-Zaytun tetap terpelihara. Kepercayaan seperti ini tidak lahir dalam semalam. Ia dibangun melalui pengalaman panjang, konsistensi dalam penyelenggaraan pendidikan, serta hasil yang dirasakan langsung oleh para alumninya.

Ketika alumni kembali sebagai wali santri, sesungguhnya mereka sedang menyampaikan pesan tanpa kata-kata bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang layak diwariskan. Di Al-Zaytun, warisan itu terus berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya, menumbuhkan harapan baru bagi masa depan bangsa.