Saturday, 19 September 2026

Panen Keenam Padi Koshihikari, Mahad Al Zaytun Kembangkan Varietas Premium Asal Jepang di Indramayu

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

INDRAMAYU, Lognews.co.id – Mahad Al Zaytun kembali menggelar panen padi varietas Koshihikari, padi premium asal Jepang yang dibudidayakan di Lahan Praktikum Pelajar Mahad Al Zaytun, Kabupaten Indramayu, Sabtu (19/9/2026). Panen kali ini menjadi panen keenam sejak program budidaya Koshihikari dijalankan sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler pertanian sekaligus penelitian adaptasi varietas luar negeri di Indonesia.

Kegiatan panen melibatkan puluhan pelajar Madrasah Aliyah Al Zaytun dari kelas XI dan XII. Para pelajar turun langsung ke sawah mulai dari memanen menggunakan arit, mengangkut hasil panen, hingga melakukan proses perontokan gabah di lokasi.

Guru Pembimbing Ekstrakurikuler Pertanian Mahad Al Zaytun, Harianto Mardhoni, mengatakan panen tersebut bukan sekadar kegiatan praktik, melainkan bagian dari proses pembelajaran sekaligus penelitian pertanian yang telah berjalan selama beberapa musim tanam.

"Pada hari ini pelajar Madrasah Aliyah Al Zaytun sedang melaksanakan panen padi Koshihikari. Ini merupakan varietas padi asal Jepang yang kami budidayakan sekaligus menjadi bahan penelitian mengenai kemampuan adaptasinya di Indonesia," ujarnya.

Menurut Harianto, Koshihikari dikenal sebagai salah satu varietas padi premium di Jepang. Selain memiliki cita rasa yang khas, varietas tersebut juga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dibanding sejumlah varietas padi lain.

Dipanen Setelah 122 Hari Masa Tanam

Harianto menjelaskan padi Koshihikari memiliki masa panen yang relatif lebih panjang dibanding varietas padi pada umumnya.

Jika sebagian varietas padi sudah dapat dipanen dalam rentang 75 hingga 100 hari, Koshihikari membutuhkan waktu sekitar 122 hari agar bulir padi benar-benar matang secara fisiologis.

"Memang setiap varietas memiliki umur panen yang berbeda. Untuk Koshihikari, kami sengaja menunggu hingga 122 hari agar bulir padinya terisi penuh dan mencapai tingkat kematangan terbaik," jelasnya.

Masa panen yang lebih lama tersebut juga menjadi bagian dari penelitian untuk memperoleh kualitas gabah yang optimal.

Hasil Panen Disiapkan Menjadi Benih

Berbeda dengan panen sebelumnya, hasil panen tahun ini tidak langsung digunakan untuk konsumsi. Mahad Al Zaytun memilih hasil panen terbaik untuk dijadikan benih musim tanam berikutnya.

Proses seleksi dilakukan secara khusus dengan memperhatikan kesehatan tanaman, karakter genetik, hingga kadar air gabah.

"Karena akan dijadikan benih, pengawasannya lebih ketat. Pelajar juga ikut belajar melakukan seleksi tanaman yang memiliki kualitas unggul," kata Harianto.

Benih hasil seleksi nantinya akan kembali ditanam di lahan pertanian Al Zaytun bersama Paguyuban Petani Ketahanan Pangan Indonesia (P3KP) sebagai upaya memperluas budidaya varietas tersebut.

Pelajar Belajar Bertani Secara Langsung

Panen Koshihikari menjadi bagian dari ekstrakurikuler pertanian yang mengajarkan pelajar praktik budidaya secara menyeluruh.

Tidak hanya belajar teori di kelas, pelajar terlibat mulai dari proses pengolahan lahan, penyemaian, penanaman, perawatan tanaman, pengendalian hama, panen, hingga penggilingan gabah menjadi beras.

Harianto menyebut pendekatan tersebut membuat berbagai mata pelajaran seperti biologi, kimia, fisika, matematika, dan kewirausahaan dapat diterapkan langsung dalam kehidupan nyata.

"Harapannya ilmu yang dipelajari di kelas benar-benar diaplikasikan di lapangan sehingga pelajar memahami proses pertanian secara utuh," katanya.

Ketahanan Pangan Jadi Misi Pembelajaran

Selain praktik budidaya, kegiatan panen juga menjadi sarana menanamkan pentingnya ketahanan pangan kepada generasi muda.

Harianto mengatakan Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menjaga ketersediaan pangan yang berkelanjutan. Karena itu, Al Zaytun berupaya menyiapkan pelajar yang memahami dunia pertanian sejak dini.

Salah seorang pelajar kelas XII, Fathur Rahman Al-Sidqi, mengaku pengalaman turun langsung ke sawah membuat dirinya memahami pentingnya sektor pertanian bagi masa depan Indonesia.

Menurutnya, generasi muda perlu ikut mengambil peran dalam membangun ketahanan pangan nasional, terutama menghadapi berbagai tantangan global yang memengaruhi sektor pangan.

"Kami ingin menjadi bagian dari generasi yang ikut membangun swasembada pangan Indonesia melalui langkah-langkah kecil yang dimulai dari belajar bertani," ujarnya.

Melalui panen keenam padi Koshihikari ini, Mahad Al Zaytun tidak hanya memperkenalkan varietas padi premium asal Jepang, tetapi juga menjadikan lahan pertanian sebagai ruang belajar nyata untuk membangun regenerasi petani dan memperkuat ketahanan pangan Indonesia. (Saheel untuk Indonesia)